Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Surat Panjang untuk Masa Depan: Kritik pada Generasi yang Lupa Bahwa Bumi Bukan Milik Mereka

Pataka Eja by Pataka Eja
11 Desember 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 12 11 At 11 21

Potret Aldi Tri Putra

Opini oleh : Aldi Tri Putra


Pemanasan global tidak datang seperti petir yang menyambar di tengah siang. Ia muncul pelan-pelan, tumbuh dari pilihan manusia yang sering kali hanya memikirkan kenyamanan saat ini. 

Kita hidup di tengah perubahan iklim, namun banyak yang memilih untuk tidak benar-benar melihat atau memahaminya, manusia menjadi makhluk aneh yang tahu sedang menghancurkan rumahnya sendiri, tetapi tetap melanjutkan perusakan itu.

Ketika Reboisasi Menjadi Hanya Slogan, dan Deforestasi Menjadi Kenyataan

Hari ini kita berbicara tentang reboisasi. Kita menggelar kampanye, menanam pohon secara simbolis, mengambil foto, lalu pulang. Sementara itu, di tempat lain, ratusan hektar hutan ditebang dalam satu hari. Dan lebih ironis lagi, hutan yang hilang digantikan dengan monokultur terutama sawit.

Manusia menunjuk warna hijau pada daun sawit dan menyebutnya “penghijauan”. Tetapi alam tidak mengenal warna sebagai bukti kehidupan. Alam mengenal keragaman, keseimbangan, simbiosis mutualisme.

Manusia mengubah ekosistem yang kaya menjadi sesuatu yang seragam, rapuh, dan nyaris tanpa kehidupan, Hijau yang terlihat segar bagi mata manusia sesungguhnya adalah hijau yang kosong, sebuah padang yang menipu.

Sawit tidak menggantikan hutan. Sawit hanya menggantikan rasa bersalah manusia. Karena hutan adalah rumah bagi ribuan spesies, sementara sawit adalah benteng tunggal yang menolak kehidupan selain dirinya sendiri.

Ketidaktahuan yang Dipilih, Bukan Ketidaktahuan yang Terpaksa

Generasi masa depan sangat marah bukan karena leluhur mereka tidak tahu tentang perubahan iklim tetapi karena para leluhur tahu, namun tetap tidak peduli. Itulah ketakutan terbesar kita hari ini. Bukan bahwa manusia tidak tahu, tetapi manusia tahu dan memilih untuk tetap buta.

Pemanasan global sudah menjadi berita sehari-hari, tetapi kita berlalu begitu saja. Seolah masalah itu tidak menyentuh kita. Seolah yang akan menderita bukan kita, melainkan generasi yang berada jauh setelah kita lahir.

Dan disinilah letak kejahatan paling halus: kita merampas masa depan dari orang yang bahkan belum punya kesempatan untuk menangis meminta tolong.

Tan Malaka pernah berkata kira-kira begini: 

yang ikut arus dipuji, yang melawan arus dibuang.

Dalam isu lingkungan, ini sangat nyata.

Yang membela hutan dianggap “anti pembangunan”.

Yang memprotes ekspansi industri dianggap “kebanyakan teori”.

Yang memperjuangkan kelestarian alam dianggap tidak memahami “kebutuhan ekonomi”.

Bagaimana manusia lebih takut dianggap aneh daripada takut menyaksikan bumi terbakar. Kita terjebak dalam arus besar yang menormalisasi kerusakan. Dan karena semua orang diam, kerusakan dianggap bagian dari hidup yang normal.

Saya adalah manusia egois.

Tapi keegoisan saya sederhana:

Saya ingin bisa terus menghirup udara yang segar. Saya ingin anak-anak saya bisa mendengar suara burung liar, melihat hutan yang hidup, menyentuh tanah yang masih bernafas.

Ini keegoisan saya, untuk melindungi masa depan, bukan merampasnya, generasi masa depan melihat kita seperti peminjam yang melarikan diri setelah menghabiskan seluruh isi tabungan. Mereka marah, kecewa, dan merasa dikhianati.

Dan mereka berhak merasa demikian. Karena bumi bukan warisan dari kita ia adalah amanah yang dipinjamkan kepada kita untuk dikembalikan kepada mereka.

Manusia bukan penguasa bumi. Kita hanya tamu yang masa tinggalnya sementara. Alam bisa hidup tanpa kita, tetapi kita tidak bisa hidup tanpa alam. 

Maka sebelum alam yang mengatasi kita, kitalah yang harus menjaga alam. dengan belajar, peduli, bertindak, dan menolak menjadi generasi yang disebut sebagai “generasi yang mengecewakan sejarah”.

Karena masa depan tidak akan menulis ulang cerita kita. Mereka hanya akan hidup dengan akibatnya.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

ghdgkakd
Opini

Miskin Karena Kurang Beribadah? Kesalahan Berfikir dan Berbahaya

25 November 2024
44
Img 20250816 Wa0002
Opini

Organisasi Mahasiswa: Tempat Belajar atau Tempat Kabur Belajar? 

16 Agustus 2025
65
Hasil Template Brave Pink Hero Green Yang Tengah Viral Rtxq Large
Opini

Brave Pink: apakah sekedar fomo-fomo belaka?

4 September 2025
94
Whatsapp Image 2025 12 22 At 13 53 37
Opini

Ekologi yang Dikorbankan, Rakyat yang Menanggung: Potret Ketidakadilan dalam Penanggulangan Bencana

22 Desember 2025
236

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi