Oleh : Syalina Nur Afiza
Aku turun lagi pagi ini
ke atap-atap yang sama, jalan yang sama
payung-payung dibuka dengan kesal
dan aku hanya dianggap pengganggu
padahal aku datang membawa berkah
Aku membasahi sawah yang kehausan
menyegarkan udara yang pengap
membersihkan debu di jalan-jalan
tapi mereka bilang “ah, hujan biasa saja”
Di kejauhan sana, saudaraku yang salju
disambut bak kabar gembira
anak-anak berlari keluar dengan tawa
dan kamera-kamera mengabadikan keajaibannya
Mereka bilang salju itu istimewa
salju itu keajaiban yang langka
sementara aku?
hanya hujan yang setia datang
dianggap biasa, kadang jadi beban
Aku ingin seperti salju yang dirindukan
bukan hujan yang ditunggu perginya
mungkin saat kemarau tiba
baru mereka sadar betapa berharganya aku
Tapi kenapa harus menunggu kehilangan?
kenapa kehadiranku tak disenangi setiap saat?
Aku hanya ingin…
seseorang akan mengulurkan tangan
membiarkan aku jatuh di telapaknya
dan dengan syukur ia berbisik :
“Terima kasih sudah datang”




