Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

DUNIA SEMAKIN MAJU, AKHLAK SEMAKIN MUNDUR?

Pataka Eja by Pataka Eja
1 Desember 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 11 28 At 10 54

Oleh: Dinar Lutfi Lailita


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah membawa dunia pada kemajuan yang sangat pesat. Segala aspek kehidupan manusia mengalami perubahan signifikan, baik dalam bidang komunikasi, pendidikan, ekonomi, maupun sosial budaya. Inovasi-inovasi teknologi telah mempermudah aktivitas manusia, menjadikan segala sesuatu lebih cepat, efisien, dan praktis.

Namun demikian, di balik kemajuan tersebut, muncul fenomena yang patut menjadi perhatian serius, yaitu kemunduran akhlak di kalangan masyarakat. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah kemajuan dunia sejalan dengan kemajuan moral manusia? Realitas yang tampak justru menunjukkan bahwa semakin maju peradaban, semakin menurun pula kualitas akhlak sebagian manusia.

Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara hidup masyarakat secara drastis. Anak-anak kini akrab dengan gawai sejak usia dini, remaja tumbuh dalam lingkungan media sosial, dan orang dewasa bergantung pada teknologi untuk menunjang pekerjaan serta kehidupan sehari-hari.

Di satu sisi, hal ini merupakan bentuk kemajuan yang membanggakan karena menunjukkan kemampuan manusia dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman. Namun di sisi lain, apabila kemajuan tersebut tidak dibarengi dengan penguatan moral dan spiritual, maka akan melahirkan berbagai permasalahan sosial yang kompleks.

Perubahan gaya hidup modern telah mempengaruhi tatanan nilai dan moral masyarakat. Rasa hormat terhadap orang tua dan sesama mulai berkurang, kejujuran tergantikan oleh kepentingan pribadi, serta empati melemah akibat meningkatnya individualisme.

Fenomena perundungan di dunia maya, penyebaran berita bohong (hoax), ujaran kebencian, serta perilaku konsumtif merupakan cerminan nyata dari kemunduran akhlak di era digital. Banyak individu lebih sibuk membangun citra di dunia maya dibandingkan membina hubungan yang nyata di dunia sosialnya. Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan seperti kasih sayang, tenggang rasa, dan sopan santun mulai memudar.

Salah satu faktor utama penyebab kemunduran akhlak adalah kurangnya perhatian terhadap pendidikan karakter dan nilai spiritual. Sistem pendidikan cenderung menitikberatkan pada aspek kognitif dan pencapaian akademik, sementara pembinaan moral seringkali terabaikan.

Orang tua pun terkadang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga lalai dalam memberikan teladan dan bimbingan akhlak kepada anak-anaknya. Padahal, dalam pandangan Islam, Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan akhlak manusia. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual, tetapi juga dari keluhuran budi pekerti.

Upaya membenahi akhlak di tengah kemajuan zaman tidak berarti menolak kemajuan teknologi, melainkan menempatkannya secara proporsional. Pendidikan karakter harus kembali dijadikan dasar dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Orang tua memiliki peran penting sebagai teladan dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kesopanan. 

Teknologi dan media sosial sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarkan kebaikan, ilmu pengetahuan, dan kepedulian sosial. Selain itu, lembaga pendidikan dan pemerintah juga perlu memperkuat kebijakan yang mendukung pembinaan moral generasi muda melalui kurikulum, kegiatan sosial, serta pembinaan rohani.

Dengan demikian, kemajuan dunia seharusnya berjalan seiring dengan kemajuan akhlak manusia. Apabila hanya aspek teknologi yang berkembang sementara nilai moral diabaikan, maka kemajuan tersebut tidak akan membawa kebahagiaan sejati.

Dunia mungkin menjadi lebih modern dan canggih, tetapi apabila manusia kehilangan nilai kemanusiaannya, maka peradaban justru sedang menuju kemunduran moral. Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk menyadari bahwa kemajuan sejati bukan diukur dari kemewahan materi atau kecanggihan teknologi, melainkan dari seberapa tinggi nilai akhlak dan kemanusiaan dijunjung dalam kehidupan sehari-hari.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Picture1
Opini

Di Balik Pohon Yang Keramat Itu

6 Desember 2025
34
Nur Arifah
Opini

Menemukan Suara: Menyelami Perjalanan Menuju Pemulihan bagi Korban Kekerasan Seksual

29 Juli 2024
142
Whatsapp Image 2025 12 22 At 09 48
Opini

Hari Ibu, di Negeri yang Pandai Memuji Tapi Enggan Membebaskan

22 Desember 2025
101
Muhammad Yasin
Opini

Merdeka Tanpa Akal: Republik Simbolik dan Pesta Kosong

7 Agustus 2025
34

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi