Oleh: Gusti Andini
Warung Bu Mirna hanyalah bangunan kecil dengan pintu kayu tua yang suka bunyi kriet tiap kali terbuka. Tidak ada yang istimewa dari tempat itu, setidaknya menurut orang-orang.
Tapi bagi Rio, warung itu selalu mengusik pikirannya.
Warung itu selalu buka lebih cepat tiga menit dari jam berapa pun seharusnya. Bukan lima, bukan sepuluh, tapi selalu tiga menit. Kalau jam rumah Rio menunjukkan 06.00, lampu warung sudah menyala sejak 05.57. Kalau mendadak hujan, pintu warung menutup tiga menit sebelum hujan pertama jatuh.
Tidak pernah meleset.
Awalnya Rio pikir kebetulan. Tapi lama-kelamaan ia melihat keanehan lain.
Kadang rak mie instan berubah susunannya padahal warung masih tergembok.
Kadang tirai di dalam bergerak pelan meski tidak ada orang.
Kadang kaca jendela memantulkan bayangan yang bukan bayangan siapa pun.
Pagi itu, Rio lewat lebih awal; jam tangannya masih 05.40. Terlalu pagi untuk Bu Mirna membuka warung. Namun saat ia lewat, lampu warung menyala sendiri, pelan, seperti ada yang menekan saklar.
Rio mendekat. Saat menempelkan wajah ke kaca, ia melihat seseorang di dalam.
Sosok itu berdiri diam menghadap pintu. Siluetnya mirip Bu Mirna—tapi tidak sepenuhnya. Wujudnya samar, seperti bayangan yang tidak sempat “selesai terbentuk”.
Rio mundur dengan jantung berdebar. Sosok itu menghilang begitu saja.
“Lho, kamu ngapain ngintip warung orang pagi-pagi?”
Suara itu datang dari belakang.
Rio menoleh. Naya, teman sekelasnya yang hobi pakai bando aneh, hari ini memakai bando wortel.
“Ada seseorang di dalam,” kata Rio pelan.
Naya menengok ke jendela. Tidak ada apa-apa.
“Rio, kamu kurang tidur, ya?” tanyanya sambil mengangkat alis.
Belum sempat Rio membantah, suara kring-kring muncul dari tikungan.
Muncullah Davin, tetangganya yang percaya diri setengah mati dan sok tahu seumur hidup.
“Kalian ngapain? Nyari Wi-Fi gratis? Aku sering.”
Rio dan Naya saling pandang dengan tatapan “apa sih ini orang…”.
Tiba-tiba lampu warung berkedip tiga kali. Bukan seperti mau mati—lebih seperti kode rahasia.
Pintu warung bergerak sedikit, kriet.
Angin nyaris tak ada, tapi pintunya bergerak seperti didorong.
Lalu terdengar suara pelan dari dalam, jelas tapi samar, seperti berasal dari jauh:
“Tiga menit lagi…”
Rio, Naya, dan Davin membeku.
“A-Ada yang ngomong barusan, kan?” bisik Naya.
Davin mendekat ke pintu.
“Saya Davin! Kalau ada yang mau kenalan—”
BRAK!
Pintu menutup sendiri dengan keras.
Kucing oranye yang tidur di bawah etalase langsung kabur, seolah tahu sesuatu yang tidak diketahui manusia.
“Mungkin… warung ini terhubung sama waktu,” gumam Rio akhirnya.
“Menurutku portal alien,” sahut Davin penuh keyakinan.
“Menurutku kamu butuh vitamin otak,” balas Naya.
Mulai hari itu, mereka bertiga memutuskan untuk diam-diam mengamati warung.
Setiap pagi, mereka mencatat jam, cuaca, suara-suara aneh, dan kapan pintu bergerak. Davin bahkan menggambar diagram tanpa arti yang ia sebut “peta dimensi”.
Namun hari yang paling aneh datang seminggu kemudian.
Saat jam menunjuk 06.00 tepat, pintu warung terbuka sendiri. Dari dalam, keluar Bu Mirna… tapi ada yang janggal.
Bajunya berbeda dari biasanya.
Gaya rambutnya tidak sama.
Dan ia membawa payung padahal langit cerah.
Dia menatap mereka bertiga.
Senyumnya lembut, tapi matanya seperti tahu terlalu banyak.
“Kalian bertiga… suka penasaran, ya?”
Mereka menelan ludah bersamaan.
Bu Mirna melangkah mendekat.
Lalu dengan suara lembut, ia berkata:
“Warung ini tidak buka lebih cepat. Kalian saja yang… selalu datang terlambat.”
Rio mengerutkan dahi. “Lho? Maksudnya?”
Bu Mirna tersenyum, lalu menunjuk jam dinding warung yang menggantung tinggi.
Jarumnya menunjukkan selisih tiga menit lebih cepat dari jam mereka.
“Tiga menit,” katanya. “Hanya itu. Tapi tiga menit bisa mengubah banyak hal. Masa depan kecil-kecilan, keputusan orang lewat, bahkan siapa yang kalian lihat.”
Rio menatap jamnya sendiri… dan menatap jam warung.
Benar.
Selisih tiga menit.
“Tapi sosok yang aku lihat subuh itu… itu siapa?” tanya Rio.
Bu Mirna menjawab sambil membuka payungnya—padahal matahari bersinar cerah:
“Itu kamu, Rio. Kamu yang… seharusnya datang tiga menit lebih cepat.”
Jantung Rio berhenti sejenak.
“Lho, itu maksudnya aku dari masa depan?”
“Bukan,” kata Bu Mirna lembut. “Masa depan kecil, bayangan pilihan. Yang kadang lewat sebelum waktunya.”
Davin mengangkat tangan.
“Bu, maksudnya ini portal alien atau bukan?”
Bu Mirna menatap Davin sangat lama, lalu berkata:
“Tidak.”
Davin tampak kecewa sekali.
Naya bertanya, “Bu… jadi warung ini apa?”
Bu Mirna tersenyum.
“Warung biasa. Hanya jamnya yang… sedikit lebih jujur dari jam lain.”
Rio mencoba memproses semuanya.
Tiga menit.
Bayangan diri sendiri.
Warung yang memberikan sekilas masa depan kecil.
Bu Mirna menepuk bahu Rio.
“Kamu ingin tahu rahasia waktu, Nak?”
Rio mengangguk cepat.
“Kalau begitu…” Bu Mirna menatapnya dalam-dalam.
“Besok, datanglah tiga menit lebih cepat.”
Bu Mirna berjalan pergi. Payungnya terbuka, padahal tidak ada hujan.
Naya menatap Rio. “Kamu mau ke sini jam 05.54 besok?”
Rio mengangguk. “Iya.”
Davin bertanya, “Kalau gitu aku datang jam 05.51 aja biar lebih cepat dari kamu dua.”
Naya menghela napas. “Terserah, yang penting jangan sok-sokan bawa antena TV lagi.”
Mereka bertiga pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Dan esok paginya, ketika Rio tiba tiga menit lebih cepat, ia tidak menemukan sekilas bayangan. Tidak ada suara misterius.
Yang ada hanya Bu Mirna, tersenyum, seolah sudah menunggu.
“Selamat datang,” katanya. “Di waktu yang tepat.”
Rio terdiam.
Mungkin itu saja.
Mungkin memang begitu cara misteri bekerja: datang saat kita tidak mengerti, pergi saat kita mulai paham.
Warung itu tetap buka tiga menit lebih cepat.
Tapi bagi Rio, Naya, dan Davin…
tiga menit sudah cukup membuat hidup mereka jadi sedikit lebih aneh… dan sedikit lebih lucu.




