Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Prosa

Ketika Alam Berbicara

Pataka Eja by Pataka Eja
28 November 2025
in Prosa
0
1000496462

Oleh: Levina Elysia Felda


Kabut pagi Tawangmangu turun perlahan, menyelimuti lereng Lawu dengan kelembutan yang dingin. Udara lembap menembus kulit, sementara aroma tanah basah berpadu dengan wangi pepohonan pinus yang menjulang tinggi. Di antara kabut yang menggantung, aku memulai langkah menuju sebuah tempat yang konon menyimpan keindahan tersembunyi Kedung Sriti, surga kecil yang hanya dikenal oleh segelintir orang yang mau menapaki jalan sunyi.

Perjalanan ini bukan sekadar liburan atau pelarian dari hiruk pikuk kota. Aku datang membawa rasa ingin tahu yang tumbuh dari cerita penduduk lokal. Mereka bercerita dengan nada penuh kagum, seolah tempat itu bukan sekadar air terjun, tetapi juga ruang bagi jiwa untuk beristirahat.

“Kedung Sriti itu bukan hanya tentang air dan batu,” kata Pak Paiman, penjaga warung kecil di tepi jalan Cemoro Kandang. “Ia tempat di mana hati bisa kembali jernih. Tapi tidak semua orang bisa sampai ke sana. Kadang yang dicari bukanlah tempatnya, melainkan maknanya.”

Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku saat langkahku menapaki jalan setapak yang sempit dan berliku. Jalannya diapit oleh rumpun bambu, akar menjalar, dan suara gemericik air yang terus mengiringi. Aku berjalan mengikuti aliran sungai kecil yang mengalun seperti penuntun menuju rahasia alam. Setiap langkah terasa seperti menembus waktu dunia kota yang bising perlahan menghilang, digantikan oleh suara burung, desir angin, dan nyanyian jangkrik yang menenangkan.

Ketika matahari mulai menembus lembut di sela dedaunan, sinarnya menari di atas permukaan air, menciptakan pantulan berkilau seperti serpihan kaca. Aku berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan menatap ke arah pepohonan. Dalam kesunyian itu, aku merasa alam sedang berbicara dalam bahasa yang hanya bisa dipahami oleh hati yang tenang.

Setelah hampir satu jam berjalan, terdengar gemuruh halus dari kejauhan. Suara itu seperti panggilan yang lembut, samar namun memikat. Langkahku mempercepat. Semakin dekat, kabut semakin tebal, dan ketika aku menembus semak terakhir, pandanganku terbuka pada pemandangan yang menakjubkan.

Di hadapanku terbentang Kedung Sriti, air terjun setinggi belasan meter yang jatuh dari tebing batu hitam, mengalir ke kolam berwarna hijau toska. Cahaya matahari menembus kabut, menciptakan pelangi kecil yang berputar di antara butiran air. Di sekelilingnya, pakis-pakis liar tumbuh subur, dan bebatuan hitam membentuk lingkaran alami. Tidak ada suara lain kecuali alam yang bernyanyi dalam harmoni sempurna.

Aku duduk di atas batu besar, menatap pusaran air yang berputar pelan di tengah kedung. Di dalamnya, aku melihat pantulan diriku sendiri, lelah, tapi tenang. Aku sadar, perjalanan ini bukan hanya tentang menemukan tempat tersembunyi, melainkan menemukan kembali bagian diriku yang sempat hilang.

Aku menulis dalam buku catatan kecil:
“Ketika alam berbicara, ia tidak menggunakan kata-kata. Ia berbicara lewat angin, air, dan kesunyian. Dan hanya hati yang hening yang mampu mendengarnya.”

Tak lama kemudian, seorang lelaki tua muncul dari arah hulu sungai. Rambutnya memutih, wajahnya legam oleh matahari, namun sorot matanya jernih. Ia tersenyum sambil berkata pelan, “Sedikit orang yang datang ke sini untuk memahami, Nak. Banyak yang hanya ingin memotret. Padahal, Kedung Sriti bukan untuk diabadikan, melainkan untuk disyukuri.”

Aku menunduk, terdiam dalam makna kata-katanya. Ia lalu membasuh wajahnya dengan air kedung dan berbisik, “Alam tak pernah meminta apa pun, tapi selalu memberi pelajaran.”
Kemudian ia pergi, meninggalkanku bersama hening yang terasa begitu hidup.

Sriti — burung walet — dalam budaya Jawa melambangkan kesetiaan dan kedamaian. Mungkin itulah mengapa tempat ini dinamakan demikian. Airnya setia mengalir tanpa pamrih, sementara alamnya tetap damai meski jarang disapa. Di sanalah aku benar-benar mendengar suara alam, bukan lewat telinga, melainkan lewat hati.

Saat senja turun perlahan, kabut kembali menutup tebing dan sungai, menyembunyikan Kedung Sriti dari pandangan dunia. Namun kali ini aku tak merasa kehilangan. Aku tahu, keindahan itu tak hilang, ia hanya kembali ke sunyinya.

Dalam perjalanan pulang, aku menatap langit Tawangmangu yang berwarna jingga dan menulis kalimat terakhir di buku catatanku:
“Ketika alam berbicara, manusia seharusnya belajar mendengarkan, sebab di dalam diamnya, tersimpan kebenaran yang paling jernih.”

Tawangmangu, 2025
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Ww
Prosa

Pandak

15 Desember 2025
60
Img 20250926
Prosa

Sepotong Surat untuk Soe

25 September 2025
154
Picture1
Prosa

Misteri Tiga Menit Di Warung Bu Mirna

28 November 2025
75
Img Google
Prosa

Tumanurung Bainea: Perempuan Langit dari Gowa

9 Oktober 2025
751

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi