Oleh : Nur Asmilayana
Perubahan cara manusia belajar selalu bergerak mengikuti perkembangan zamannya. Dulu, pembelajaran bertumpu pada kelisanan. Guru, tetua, atau orang tua menurunkan pengetahuan lewat cerita, nasihat, dialog, dan praktik langsung.
Kini, pendidikan modern bertumpu pada keaksaraan yang menekankan teks tertulis, analisis, dan struktur berpikir yang lebih formal. Dua dunia ini sering dianggap berlawanan, tetapi pencermatan lebih dalam justru memperlihatkan hubungan yang saling melengkapi.
Dalam masyarakat tradisional, kelisanan tumbuh lewat proses turun-temurun. Pengetahuan hidup dalam cerita, ritual, petuah, atau praktik magang. Ong (2002) menggambarkan bahwa cara berpikir lisan bersifat repetitif, mengandalkan memori, dan selalu terikat pada konteks sosial.
Guru tidak hanya menyampaikan informasi. Ia menjadi penjaga tradisi, pembimbing moral, sekaligus pengikat identitas komunitas. Relasi antara guru dan murid berlangsung dialogis dan fleksibel, sehingga pembelajaran terasa lebih manusiawi dan dekat dengan pengalaman hidup.
Keunggulan terbesar pembelajaran berbasis kelisanan terletak pada kedekatannya dengan realitas. Murid belajar bukan hanya lewat kata, tetapi lewat pengalaman, gestur, ekspresi, dan intonasi. Semua itu menciptakan lapisan makna yang sulit diperoleh dari teks.
Pembelajaran ini juga menyentuh pikiran, perasaan, dan tindakan secara bersamaan. Namun, kelisanan memiliki batas. Pengetahuan yang tidak ditulis mudah hilang atau berubah. Selain itu, pembelajaran lisan membutuhkan interaksi intensif sehingga sulit diterapkan dalam skala besar.
Di sisi lain, keaksaraan muncul untuk menjawab kebutuhan manusia dalam menyimpan pengetahuan dengan lebih stabil dan sistematis. Goody dan Watt (1963) menekankan bahwa tulisan membuka jalan bagi pemikiran analitis. Pendidikan modern pun lahir dari fondasi ini.
Buku teks, kurikulum yang terstruktur, dan sistem literasi menjadi sarana utama untuk mengorganisasi ilmu. Keaksaraan memungkinkan pengetahuan bertahan dan dikembangkan lintas generasi.
Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan mendokumentasikan pengetahuan secara akurat. Pengetahuan tidak lagi bergantung pada ingatan pribadi. Ia tertulis dan dapat dikritik atau disempurnakan. Model ini mendorong lahirnya sains modern dan berbagai disiplin akademik lainnya.
Namun, dominasi keaksaraan juga membawa masalah. Freire (1970) mengkritik model pendidikan yang menjadikan murid sekadar wadah yang harus diisi. Pembelajaran yang terlalu berpusat pada teks dapat membuat siswa menjauh dari realitas sosial dan emosionalnya. Literasi formal juga sering menjadi penanda status sosial, sehingga komunitas yang kuat dalam tradisi lisan bisa terpinggirkan.
Jika ditinjau bersama, kelisanan dan keaksaraan memiliki cara kerja pengetahuan yang berbeda. Kelisanan tumbuh dari pengalaman hidup dan hubungan sosial. Keaksaraan lahir dari kebutuhan akan objektivitas dan ketertiban.
Street (1984) menegaskan bahwa literasi tidak pernah benar-benar netral karena selalu terhubung dengan struktur sosial tertentu. Bourdieu (1991) bahkan menyebut literasi sebagai modal budaya yang bisa menciptakan jarak sosial. Karena itu, pendidikan perlu lebih peka terhadap keberagaman cara manusia dalam memahami dunia.
Dari sinilah muncul gagasan bahwa keduanya tidak perlu dipisahkan. Pendidikan abad ke-21 menawarkan peluang integrasi melalui pendekatan multimodal. Kress dan van Leeuwen (2001) menjelaskan bahwa manusia memaknai dunia melalui berbagai bentuk: teks, suara, gambar, gerak, dan media digital.
Teknologi modern memungkinkan penggabungan kekuatan kelisanan dan keaksaraan sekaligus. Video, podcast, diskusi virtual, simulasi, dan pembelajaran berbasis komunitas dapat membuat proses belajar tetap ilmiah tanpa kehilangan kedekatan sosial.
Model seperti project-based learning, community-based learning, dan blended learning adalah contoh nyata bagaimana suara, teks, dan pengalaman bisa saling melengkapi. Pendekatan ini tidak hanya menguatkan pemahaman, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki terhadap pengetahuan yang dipelajari.
Pada akhirnya, mengintegrasikan kelisanan dan keaksaraan bukan sekadar langkah teknis. Ini adalah upaya memastikan pendidikan tetap manusiawi. Sekolah dan kampus tidak boleh hanya menjadi tempat menguasai literasi akademik.
Keduanya harus menjadi ruang di mana pengetahuan lokal, tradisional, praktis, dan spiritual dihargai. Pendidikan perlu menjadi jembatan antara teori dan kehidupan, antara budaya modern dan budaya komunitas.
Jika dua mode pengetahuan ini dapat berjalan bersama, pendidikan tidak hanya melahirkan generasi yang mampu berpikir kritis. Ia juga melahirkan manusia yang peka budaya, etis secara sosial, dan bijak dalam melihat dunia.
Reverensi
Bourdieu, P. (1991). Language and Symbolic Power. Cambridge, MA: Harvard University Press.
D’Ambrosio, U. (1985). Ethnomathematics and its place in the history and pedagogy of mathematics. For the Learning of Mathematics, 5(1), 44-48.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.
Goody, J., & Watt, I. (1963). The consequences of literacy. Comparative Studies in Society and History, 5(3), 304-345.
Kress, G., & van Leeuwen, T. (2001). Multimodal Discourse: The Modes and Media of Contemporary Communication. London: Arnold.
Ong, W. J. (2002). Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (2nd ed.). London: Routledge. (Original work published 1982)
Street, B. V. (1984). Literacy in Theory and Practice. Cambridge: Cambridge University Press.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press



