Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Daeng Mangalle Sang Diplomasi Politik dari  Bangsawan Gowa di Negeri Siam Abad XVII

Pataka Eja by Pataka Eja
20 Oktober 2025
in Esai
0
Whatsapp Image 2025 10 17 At 22 52

Edi Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Gr.

Oleh:  Edi Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Gr.


Pada pertengahan abad XVII, tepatnya sekitar tahun 1660-an, terjadi salah satu babak penting dalam sejarah hubungan diplomatik dan migrasi bangsawan Kerajaan Gowa-Makassar dengan negeri asing di Asia Tenggara.

Whatsapp Image 2025 10 17 At 22 47
Peta Siam dan Bangkok ( Thailand ) 1749. Terdapat nama “Village de macassar” / Perkampungan makassar. Sumber: Carte du Cours Du Menam Depuis Siam Jusqu’a La Mer Levee sur los Lieux oleh un Ingenieur Francois.

Salah satu tokoh yang menonjol dalam konteks ini adalah Daeng Ma-Allé atau dikenal juga sebagai Daeng Mangalle, seorang bangsawan Makassar yang memiliki kedudukan tinggi di lingkungan istana Gowa.

Setelah jatuhnya Benteng Somba Opu (1669) akibat serangan Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Cornelis Speelman, banyak bangsawan dan perwira Makassar meninggalkan tanah airnya dan mencari perlindungan ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, seperti Banten, Johor, Aceh, Pattani, dan Siam (Thailand).

Dalam diaspora besar ini, para bangsawan Makassar tidak hanya menjadi pelarian politik, tetapi juga penyebar peradaban, ilmu, dan tradisi kemaritiman Nusantara.

Salah satu figur yang mencapai kedudukan tinggi di luar negeri adalah Daeng Mangalle. Berdasarkan catatan Nicolas Gervaise (1688) dalam karyanya “A Description of the Kingdom of Siam”, disebutkan bahwa Raja Siam (kerajaan Ayutthaya) memberikan kepada Daeng Ma-Alle gelar kehormatan “Docja Pacdi” (Dokja Paci).

Gervaise menulis bahwa dalam bahasa Siam, gelar tersebut berarti “Grand Treasurer of the Crown” dalam istilah Indonesia, Bendahara Agung Mahkota Kerajaan.

Artinya, Daeng Mangalle dipercaya mengemban jabatan tinggi di bidang keuangan dan administrasi kerajaan, suatu posisi yang biasanya hanya diberikan kepada pejabat bangsawan Siam sendiri.

Fakta ini menunjukkan bahwa betapa tinggi penghargaan Raja Siam terhadap integritas, kecerdasan, dan kemampuan diplomatik seorang bangsawan Makassar.

Makna Diplomasi dan Identitas Bangsawan Gowa di Siam

Penganugerahan gelar Docja Pacdi kepada Daeng Mangalle menunjukkan bahwa hubungan diplomatik antara Kerajaan Gowa dan Siam telah mencapai tingkatan yang sangat terhormat.

Di satu sisi, ini menjadi bentuk pengakuan politik atas status bangsawan Gowa di kancah internasional, disisi lain, merupakan bukti pengaruh luas peradaban Makassar dalam jaringan dunia Melayu-Nusantara hingga Semenanjung dan daratan Indocina.

Selain berperan dalam bidang pemerintahan, tokoh-tokoh diaspora Makassar seperti Daeng Mangalle juga membawa nilai-nilai Islam, teknologi pelayaran, dan etika kepemimpinan suku Makassar ke wilayah yang mereka singgahi.

Jejak budaya itu dapat ditemukan dalam berbagai istilah dan hubungan genealogis antara bangsawan Melayu dan Siam yang mencatat kehadiran “orang Makassar” di istana.

Makassar di Mata Dunia Abad pada Abad XVII

Peristiwa ini memperkuat pandangan bahwa Makassar pada abad XVII tak hanya menjadi pusat perdagangan dan pelayaran, tetapi simbol kekuatan diplomasi internasional yang diakui di kawasan Asia Tenggara.

Keberhasilan seorang Daeng Mangalle memperoleh kedudukan tinggi di kerajaan asing menandakan bahwa identitas dan reputasi bangsawan Gowa telah diakui lintas budaya dan peradaban.

Dalam konteks sejarah Nusantara, kisah Daeng Mangalle menjadi simbol keteguhan dan adaptabilitas bangsawan Makassar, yang sekalipun kehilangan tanah airnya akibat kolonialisme, tetap mampu mengharumkan nama Gowa di negeri asing melalui keahlian, keberanian dan kecerdasan dalam berdiplomasi.

Kehadiran Daeng Mangalle di Siam sebagai bukti nyata dari diaspora intelektual dan politik Makassar yang berperan besar dalam menjembatani hubungan antara Nusantara dan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara.

Gelar Docja Pacdi yang disematkan kepadanya oleh Raja Siam menjadi penghormatan atas jasa dan kemampuan luar biasa seorang bangsawan Gowa, sekaligus bukti bahwa semangat dan martabat Makassar tetap hidup di tanah rantau.

Sumber: Nicolas Gervaise. The Natural and Political History of the Kingdom of Siam,1688.
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Islam Dan Teologi Aa
Esai

Upaya Meretas Kapitalisme: Islam Sebagai Gerakan Pembebasan

18 November 2024
24
Images
Esai

Berkenalan dengan Kartini

11 September 2025
40
Whatsapp Image 2024 08 06 At 09 41 35 9ca74572
Esai

Menelaah Pemikiran Miranda Fricker : Ketidakadilan Epistemik dan Implikasi Etis

6 Agustus 2024
217
Foto Kompas
Esai

Mencegah Jerat Pinjaman Online di Lingkungan Kampus: Solusi untuk Mahasiswa UIN Alauddin Makassar

11 Januari 2025
84

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi