Oleh: Edi Kurniawan, S.Pd., M.Pd., Gr.
Pada pertengahan abad XVII, tepatnya sekitar tahun 1660-an, terjadi salah satu babak penting dalam sejarah hubungan diplomatik dan migrasi bangsawan Kerajaan Gowa-Makassar dengan negeri asing di Asia Tenggara.

Salah satu tokoh yang menonjol dalam konteks ini adalah Daeng Ma-Allé atau dikenal juga sebagai Daeng Mangalle, seorang bangsawan Makassar yang memiliki kedudukan tinggi di lingkungan istana Gowa.
Setelah jatuhnya Benteng Somba Opu (1669) akibat serangan Belanda (VOC) yang dipimpin oleh Cornelis Speelman, banyak bangsawan dan perwira Makassar meninggalkan tanah airnya dan mencari perlindungan ke berbagai wilayah di Asia Tenggara, seperti Banten, Johor, Aceh, Pattani, dan Siam (Thailand).
Dalam diaspora besar ini, para bangsawan Makassar tidak hanya menjadi pelarian politik, tetapi juga penyebar peradaban, ilmu, dan tradisi kemaritiman Nusantara.
Salah satu figur yang mencapai kedudukan tinggi di luar negeri adalah Daeng Mangalle. Berdasarkan catatan Nicolas Gervaise (1688) dalam karyanya “A Description of the Kingdom of Siam”, disebutkan bahwa Raja Siam (kerajaan Ayutthaya) memberikan kepada Daeng Ma-Alle gelar kehormatan “Docja Pacdi” (Dokja Paci).
Gervaise menulis bahwa dalam bahasa Siam, gelar tersebut berarti “Grand Treasurer of the Crown” dalam istilah Indonesia, Bendahara Agung Mahkota Kerajaan.
Artinya, Daeng Mangalle dipercaya mengemban jabatan tinggi di bidang keuangan dan administrasi kerajaan, suatu posisi yang biasanya hanya diberikan kepada pejabat bangsawan Siam sendiri.
Fakta ini menunjukkan bahwa betapa tinggi penghargaan Raja Siam terhadap integritas, kecerdasan, dan kemampuan diplomatik seorang bangsawan Makassar.
Makna Diplomasi dan Identitas Bangsawan Gowa di Siam
Penganugerahan gelar Docja Pacdi kepada Daeng Mangalle menunjukkan bahwa hubungan diplomatik antara Kerajaan Gowa dan Siam telah mencapai tingkatan yang sangat terhormat.
Di satu sisi, ini menjadi bentuk pengakuan politik atas status bangsawan Gowa di kancah internasional, disisi lain, merupakan bukti pengaruh luas peradaban Makassar dalam jaringan dunia Melayu-Nusantara hingga Semenanjung dan daratan Indocina.
Selain berperan dalam bidang pemerintahan, tokoh-tokoh diaspora Makassar seperti Daeng Mangalle juga membawa nilai-nilai Islam, teknologi pelayaran, dan etika kepemimpinan suku Makassar ke wilayah yang mereka singgahi.
Jejak budaya itu dapat ditemukan dalam berbagai istilah dan hubungan genealogis antara bangsawan Melayu dan Siam yang mencatat kehadiran “orang Makassar” di istana.
Makassar di Mata Dunia Abad pada Abad XVII
Peristiwa ini memperkuat pandangan bahwa Makassar pada abad XVII tak hanya menjadi pusat perdagangan dan pelayaran, tetapi simbol kekuatan diplomasi internasional yang diakui di kawasan Asia Tenggara.
Keberhasilan seorang Daeng Mangalle memperoleh kedudukan tinggi di kerajaan asing menandakan bahwa identitas dan reputasi bangsawan Gowa telah diakui lintas budaya dan peradaban.
Dalam konteks sejarah Nusantara, kisah Daeng Mangalle menjadi simbol keteguhan dan adaptabilitas bangsawan Makassar, yang sekalipun kehilangan tanah airnya akibat kolonialisme, tetap mampu mengharumkan nama Gowa di negeri asing melalui keahlian, keberanian dan kecerdasan dalam berdiplomasi.
Kehadiran Daeng Mangalle di Siam sebagai bukti nyata dari diaspora intelektual dan politik Makassar yang berperan besar dalam menjembatani hubungan antara Nusantara dan kerajaan-kerajaan Asia Tenggara.
Gelar Docja Pacdi yang disematkan kepadanya oleh Raja Siam menjadi penghormatan atas jasa dan kemampuan luar biasa seorang bangsawan Gowa, sekaligus bukti bahwa semangat dan martabat Makassar tetap hidup di tanah rantau.




