Oleh : Aldi Tri Putra (Sekretaris Umum HIPMA Gowa Koord. Bontomarannu)
Ada semacam mitos yang bertahan lama di organisasi kemahasiswaan bahwa status “senior” otomatis membuat seseorang lebih berhak berbicara, memerintah, bahkan menilai siapa yang pantas disebut “berkarakter”. Padahal, menjadi senior seharusnya bukan soal menambah derajat kuasa, tapi memperluas kapasitas akal sehat dan empati. Namun sayangnya, sebagian orang justru menganggap senioritas sebagai lisensi untuk mendominasi.
Fenomena ini tampak jelas di berbagai organisasi mahasiswa. Ada senior yang memposisikan diri layaknya “dewa penjaga gerbang” yang suaranya harus disembah dan keputusannya tak boleh digugat. Kita menyaksikan bagaimana tradisi semu ini menular dari generasi ke generasi, seolah tanpa evaluasi. Padahal, semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semestinya semakin bijak pula caranya bersikap terhadap orang lain, termasuk terhadap junior yang baru saja menjejakkan kaki di lingkungan kampus.
Tulisan ini bukan untuk menyinggung siapa pun, melainkan sebagai refleksi bersama. Sebab, menjadi senior yang santai bukan berarti kehilangan wibawa, justru di situlah letak kematangan berpikir diuji. Mari kita pelajari satu per satu bagaimana menjadi senior yang santai dengan kepala dingin, nalar jernih, dan rasa humor yang tetap hidup
Mengenali Posisi: Senior, Bukan Sang Pengendali Semesta
Menjadi senior bukan berarti menjadi Aang sang Avatar yang bisa mengendalikan empat unsur kehidupan air, udara, api, dan tanah. Senior hanyalah manusia biasa, yang sedikit lebih dulu datang di tempat yang sama. Tidak lebih, tidak kurang.
Sayangnya, sebagian senior sering lupa konteks waktu. Mereka memandang junior sebagai “versi kecil” dari diri mereka, padahal setiap generasi punya cara berpikir, cara belajar, dan cara berinteraksi yang berbeda. Di sinilah pentingnya memahami posisi. Senior bukan pengendali arah hidup orang lain, melainkan fasilitator yang memberi ruang tumbuh.
Dalam teori pendidikan Paulo Freire, relasi yang baik antara pendidik dan peserta didik bukanlah relasi menindas, melainkan dialogis. Artinya, senior dan junior sama-sama subjek dalam proses belajar. Jadi, kalau masih ada senior yang merasa perlu mengatur semua hal, dari cara bicara hingga gaya berpakaian, mungkin ia belum selesai berdamai dengan egonya sendiri.
Hindari Gaya Otoriter: Galak Tidak Sama dengan Tegas
Banyak yang mengira bahwa galak adalah bentuk ketegasan. Padahal, keduanya berbeda jauh. Ketegasan lahir dari tanggung jawab dan kejelasan tujuan, sedangkan galak biasanya lahir dari ketakutan, takut kehilangan wibawa, takut dikritik, atau takut dianggap tidak berpengaruh lagi.
Menjadi senior seharusnya berarti menjadi teladan, bukan penjaga neraka yang selalu siap mengamuk. Sikap keras tanpa arah hanya melahirkan ketakutan, bukan penghormatan. Dalam jangka panjang, model kepemimpinan semacam ini justru kontraproduktif. Junior akan patuh di depan, tapi menolak di belakang. Mereka belajar berpura-pura, bukan berproses.
Maka benar pepatah lama: “Yang berwibawa tak perlu berteriak.” Jika seorang senior ingin dihormati, cukup tunjukkan perilaku yang pantas dihormati. Santai saja. Dunia tidak akan kiamat hanya karena junior punya cara berpikir yang berbeda.
Wibawa Tidak Sama dengan Butuh Dihormati
Sebagian senior tampak begitu menikmati statusnya sebagai “yang dituakan”. Mereka ingin disapa duluan, ingin disebut dalam setiap forum, bahkan ingin diperlakukan seolah menjadi penjaga moral organisasi. Padahal, rasa hormat tidak bisa diminta; ia tumbuh dari sikap yang tulus.
Kita tentu paham bahwa struktur sosial kampus sering kali menciptakan hierarki tidak tertulis antara senior dan junior. Tapi hierarki itu seharusnya tidak menjelma menjadi feodalisme. Hormat yang lahir karena paksaan hanya bertahan di permukaan, sedangkan wibawa sejati lahir dari keteladanan yang konsisten.
Maka jika ingin dihormati, jangan menuntut penghormatan, bangunlah kepercayaan. Junior yang melihat integritas dan empati akan menghormati dengan sendirinya, tanpa perlu komando.
Proporsional dalam Mengurus: Jangan Gila Urusan
Ada juga tipe senior yang merasa perlu mengatur semua hal, dari siapa yang boleh dekat dengan siapa, hingga bagaimana seseorang menghabiskan waktu luangnya. Mereka menjadi seperti detektif kampus tanpa lisensi. Padahal, tidak semua urusan harus dicampuri.
Bersikap proporsional adalah tanda kedewasaan. Seorang senior yang matang tahu kapan ia perlu memberi saran, kapan ia harus diam, dan kapan ia sekadar mendengarkan. Dalam organisasi, batas antara bimbingan dan intervensi sering kali tipis, tapi bukan berarti harus dihapus.
Menjadi senior bukan berarti menjadi “pemerintah kecil” di lingkup mahasiswa. Tidak semua urusan butuh tanganmu, apalagi komentarmu. Kadang, cara terbaik menunjukkan kepedulian adalah memberi ruang bagi orang lain untuk belajar dari pengalamannya sendiri.
Arif, Bijaksana, dan Tetap Santai
Akhirnya, inti dari semua ini adalah kebijaksanaan. Senior yang santai bukan berarti abai, ia justru tahu bagaimana mengelola ego, bagaimana bicara tanpa merendahkan, dan bagaimana mendidik tanpa mendikte.
Dalam konteks psikologi perkembangan, seseorang dikatakan matang ketika mampu mengelola perbedaan dengan tenang. Artinya, menjadi senior yang baik bukan tentang siapa yang paling banyak tahu, tapi siapa yang paling mampu memahami.
Santai bukan berarti lemah. Ia adalah tanda bahwa seseorang sudah cukup kuat untuk tidak selalu ingin menang. Bahwa ia sudah paham, setiap generasi punya cara sendiri untuk menjadi hebat.
Penutup: Senioritas yang Dewasa, Junioritas yang Merdeka
Pada akhirnya, kehidupan kampus hanyalah miniatur dari dunia sosial yang lebih luas. Jika di kampus saja kita gagal membangun relasi yang sehat antara senior dan junior, bagaimana kita akan menjadi masyarakat yang demokratis di luar sana?
Menjadi senior yang santai adalah latihan menjadi manusia yang adil sejak pikiran. Ia bukan sekadar simbol lucu untuk tulisan reflektif, tetapi ajakan serius untuk berhenti merasa paling benar hanya karena datang lebih dulu.
Jadi, untuk para senior di mana pun kalian berada, santailah. Dunia tidak sedang menunggumu menjadi sempurna. Jadilah teladan, bukan tiran. Jadilah pengarah, bukan pengatur. Dan kalaupun hidup terasa berat, jangan lupa, kata pepatah anak kos: “Santai dulu, kak, ini bukan neraka.”




