Oleh: Yessi Alma’wa
Teruntuk Soe, yang kucintai sampai kini
Soe, apakah kau ingat seorang perempuan bernama Dian Sastrowardoyo yang membacakan cerita pendek berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku” milik Seno Gumira Ajidarma?
Saat itu kau nilai dengan kata “bagus.” Aku tahu kau tipe laki-laki yang tidak terlalu tertarik dengan sesuatu yang lahir dari khayalan atau fiksi. Hidupmu penuh rencana dan perhitungan yang matang, kau tahu betul untung rugi setiap perbuatan, terutama apa untung ruginya untuk dirimu sendiri(1), seperti Alina. Sementara aku sebaliknya, lebih suka menjadi pengkhayal.
Seperti hari ini, aku kembali menulis surat untukmu. Namun, bedanya ini berbentuk elektronik, Soe. Biarlah nantinya orang-orang bakal tahu tentang isi surat ini. Masa bodo.
Lucu ya, Soe. Aku baru tahu kalau mengirimimu surat tak lagi butuh kertas, pena dan tukang pos. Dulu, aku menulis surat menggunakan kertas, kemudian aku antar ke tukang pos yang berjarak 30 menit dari rumahku. Tapi kali ini tidak. Kertas dan pena sudah tidak menarik lagi bagiku. Aku juga lupa terakhir kali meletakkannya di mana.
Surat ini pada dasarnya berbicara tentang kita berdua. Perihal apa? Baca saja sampai habis, Soe. Terpenting suatu hari aku yakin kau akan menemukan dan membaca surat ini.
Sebentar, aku lupa menyapamu “Kau baik-baik saja, kan, Soe? Aku harap kau sehat selalu dan bisa menyelesaikan masalah pekerjaanmu. Selalu aku doakan kau selalu bahagia tentunya. Ngomong-ngomong, beberapa minggu lalu aku bermimpi. Di dalam mimpi itu aku melihatmu memakai almamater salah satu kampus di Jakarta. Apa kau benar-benar mulai kuliah? Semoga saja mimpiku itu nyata. Dan bagaimana kabar Jakarta hari ini? Apakah masih ada angin segar di sana?”
Baik, aku kira sudah cukup sapaan dan pertanyaannya. Kita kembali ke suratku ini, Soe.
Aku tahu kau belum pernah mengetahui akhir dan lengkapnya cerita pendek “Sepotong Senja untuk Pacarku” punya Seno Gumira Ajidarma itu. Penilaianmu dengan kata “bagus” itu membuat niatku menceritakan kisah selengkapnya langsung sirna begitu saja. Tapi kurasa ini waktu yang cocok untuk menceritakannya. Berharap kali ini mata hatimu terbuka.
Soe, cerita pendek yang dibacakan oleh Dian Sastrowardoyo itu adalah balasan berupa tamparan keras. Kau tahu? Itu adalah surat balasan Alina untuk Sukab, seorang lelaki yang begitu mencintainya. Saking cintanya, Sukab sampai nekat mencuri sepotong senja untuk Alina. Bukan hanya senja yang Sukab curi. Satu paket, Soe! Kau bayangkan saja sebuah senja di tepi pantai lengkap dengan hempasan ombak, bau laut dan angin yang asin(1), itu semua dicuri oleh Sukab. Kalau dipikir-pikir pasti Tuhan bisa marah, kan? Jujur, aku tidak membenarkan perbuatan Sukab. Aku lebih tepatnya, iri. Aku iri pada Alina. Sukab begitu mencintai Alina dan menghadiahinya dengan sepotong senja, betapa sentimentalnya bukan? Sementara aku, begitu mencintaimu tak pernah kau hadiahi dengan sepotong senja terlebih senja di dalam amplop.
Maksudku, bukan berarti kau mesti memotong senja juga dan memasukkannya ke dalam amplop, Soe. Tidak!
Kau tahu, kan? Aku menyukai senja, apalagi senja di atas laut. Kau juga menyukainya, kita berdua menyukainya. Setiap hari sabtu atau minggu, kau selalu pamit pergi ke pantai. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Tapi ternyata masalah inilah yang membuat kita tak bisa bersua lagi. Kau hanya salah kaprah dengan cara ngambekku itu. Sebagai anak perempuan pertama, egoku memang agak tinggi. Aku tidak bisa terang-terangan menyatakan keinginanku. Bukankah sudah fitrahnya seorang perempuan ingin dimengerti tanpa harus banyak bicara?
Mana mungkin aku bilang terang-terangan “Aku juga ingin senja itu. Aku juga ingin kau mengukir nama kita berdua di atas pasir, lalu kau kirimkan itu semua kepadaku.” Mana mungkin aku mengatakan hal itu kepadamu, memalukan!
Dasar tidak peka! Dikasih isyarat tidak mau mengerti!(1) Tapi sekarang aku beritahu. Aku ingin semua itu. Harusnya kau sadar dan melakukannya tanpa perlu kuminta. Soe, renungkan lagi isi video yang kukirimkan itu. Kau mungkin ingat dengan kalimat ini,
Kamu pikir berapa ton beratnya pasir di sepanjang pantai itu Sukab? Kira-kira sedikit dong! (1)
Pikirkan perkataan itu pada saat situasi kita dulu, Soe! Cobalah sesekali ikuti kata hatimu, bukan hanya otakmu! Kalau kau hanya mengandalkan logika, hidup akan selalu hambar.
Soe, aku tidak seperti Alina, yang marah karena ada lelaki mengirimi pasir berton-ton dan air laut di dalam amplop. Aku justru senang kalau mendapatkan hal seperti itu! Memang tidak masuk akal, tapi lupakan saja ketidaklogisan itu. Berkhayal dan berimajinasilah sesekali. Itu membuatmu hidup.
Kau tahu sendirilah Soe, di daerahku tidak punya air laut berwarna biru dan pasir seperti di tempatmu. Kami hanya punya pohon nipah, pidada, lumpur dan sungai berair coklat. Kuda dan bintang laut saja bocah-bocah TK yang kuajari itu, tidak percaya kalau itu benar-benar ada. “Memang ada ya bu?” kata mereka. “Kuda bisa hidup di dalam laut? Bukannya kuda hidupnya di darat ya bu? Dan bukannya bintang berada di langit? Bintangkan gak bisa dipetik terus kita cemplungin begitu saja ke laut.” Itu kata mereka, Soe. Mereka sungguh penasaran. Mana aku sudah berjanji pada mereka menunjukkan itu semua. Tapi sayangnya kamu lagi-lagi tidak peka! Mereka tidak pernah melihatnya, Soe.
Entahlah bagaimana aku harus menjelaskan tentang hubungan kita sekarang. Apakah sudah berakhir? Atau diakhiri? Tapi yang jelas, kita sudah berakhir. Sebenarnya aku bohong tentang ketidaktahuanku mengenai letak kertas dan penaku itu. Aku ingin mengirimimu surat-surat kembali. Alamatmu juga masih tertata kusimpan rapi. Hanya saja, ruang untuk kita berbicara sudah mati.
Kau tahu? Soe, isi surat terakhirku dulu itu, kebalikannya. Kenapa sampai sekarang kau tidak paham-paham? Memang, di cerpen Seno Gumira Ajidarma, Sukab blak-blakan bilang cinta pada Alina. Tapi itu bahasa laki-laki, Soe. Saat aku menyebutmu brengsek, laki-laki tidak peka, lalu bilang aku tidak mencintai kamu(1), itu artinya kebalikannya, Soe! Itulah bahasa perempuan. Sungguh, aku mencintaimu, kenapa sih kau tidak mengerti juga?
Kau mungkin tidak mencari lebih lanjut mengenai akhir cerita pendek Seno Gumira Ajidarma itu. Tapi sungguh aku tidak mengharapkan kisah kita berakhir seperti Sukab dan Alina. Kau tahu akhirnya? Gara-gara tukang pos yang jahil membuka surat itu, surat Sukab akhirnya terlambat 10 tahun. Surat cinta itu kemudian menimbulkan banjir yang luar biasa hingga menenggelamkan dunia, Soe. Terlebih balasan Alina terhadap surat itu. Alina menolak Sukab, Soe! Alina tidak mencintai Sukab.
Aku sebenarnya tidak masalah jika kau tidak pandai merangkai kata, aku bahkan bisa menerima dengan senang hati. Saat kucek puisimu waktu itu ternyata hasil salin tempel dari internet. Setidaknya kau sudah berusaha memilih puisi yang tepat untukku, meskipun aku berharap puisi itu benar-benar dari hatimu. Aku juga tidak masalah kau lupa ulang tahunku yang ke-22 tahun lalu, atau tanggal jadian kita. 30 Agustus, Soe. Ingat itu. Sama seperti tanggal ulang tahun kita yang sama-sama tanggal 30.
Tetapi Soe, waktu malam itu. Saat aku hampir kehilangan arah dan akal. Mungkin karena aku terlalu sering mengkhayal. Sehingga tak bisa membedakan mana yang benar dan salah lagi. Kau marah saat tahu aku ingin mendiskon umurku, lalu kau meninggalkanku. Aku sering ragu, “Apa benar kau mencintaiku? Seperti aku mencintaimu?”
Tapi aku bersyukur, Soe. Akhirnya kau berani jujur, kau memang Alina, dan sialnya aku memang bernasib seperti Sukab. Walaupun kau tidak bilang cintaku tolol atau bodoh. Aku tetap mencintaimu, aku sadar Soe, kau yang kucintai ternyata tidak mencintaiku. Seharusnya aku tidak terlalu banyak berkhayal ya? Seharusnya aku sepertimu memakai otak, agar selamat dari perasaan cintaku yang tolol ini.
Ah tidak, lupakan saja kisah cinta Sukab pada Alina, juga soal kamu yang benar tidak mencintaiku. Aku akan segera mengakhiri surat ini. Aku senang akhirnya bisa menuliskannya di sini. Kalau kutulis di kertas dan kukirim ke tukang pos kemungkinan surat ini akan menimbulkan bencana. Jakarta hari ini sedang tidak baik-baik saja.
Aku takut Pak Pos yang mengantarkan suratku nanti ikut terlindas oleh mobil polisi. Tentu peluang itu ada. Surat ini penuh dengan air mata. Polisi pasti tertarik bukan? Bunyi rinai bersamaan guntur dan amukan angin tentu menarik perhatian mereka. Bisa jadi dipikiran para polisi suratku ini berisi suara amukan rakyat dan harus segera diredam. Kalau sampai itu terjadi, aku akan berdosa seperti Sukab, menyebabkan kiamat akibat luapan air mataku. Para buruh dan mahasiswa juga akhirnya tidak jadi menyerukan kebenaran, kemudian mati sia-sia dan kau Soe, juga pada akhirnya ikut mati tenggelam bukan? Sebelum membaca suratku ini.
Aku tidak mau itu terjadi. Biarlah kutulis di sini saja, biarlah surat ini mengembara tanpa tujuan ataupun alamat. Meskipun pada akhirnya sampai padamu, itu tidak akan mengubah apa pun. Keadaan kita akan tetap sama.
Selamat berpisah, Soe. Selamat tinggal.
Tertanda,
Perempuan yang berharap menjadi istrimu. []
REFERENSI
1. Seno Gumira Ajidarma. Sepotong Senja untuk Pacarku. PT Gramedia Pustaka Umum; 2017.
*Penulis merupakan alumnus Sastra Indonesia Universitas Jambi.




