Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Belenggu Patriarki Terhadap Perempuan

Pataka Eja by Pataka Eja
13 September 2025
in Opini
0
07 45 56 Images

Oleh: Arnianti

Selama ini perempuan selalu diidentikkan dengan penampilan yang anggun, lemah lembut, gemulai, atau dengan kata lain feminine. Hal itulah yang katanya menjadi standar apakah seorang perempuan layak disebut perempuan tulen dikalangan masyarakat pada umumnya. Mengapa feminine menjadi standar? Bukankah feminine merupakan gender? Dan bukankah gender berbeda dengan seks? Gender merupakan serangkaian karakteristik yang terbentuk dari sosial dan budaya dalam masyarakat.

Jenis – jenis gender sebenarnya sangat banyak, namun dewasa ini kita hanya mengetahui dua jenis gender yaitu feminine dan maskulin, sekedar untuk membedakan perempuan dan laki-laki (menggantikan fungsi seks), karena hal tersebut muncullah standar tadi.

Karena adanya standar seperti ini muncul beberapa ketimpangan gender di kalangan masyarakat seperti stereotype bahwasanya perempuan itu lemah yang mengakibatkan perempuan termarginalkan dan selalu disubordinasi, muncul pula standarisasi kecantikan dimana perempuan barulah dianggap cantik apabila ia pandai bersolek, bertubuh tinggi, memiliki berat badan yang ideal, bentuk tubuh yang ideal, berkulit putih, dll. adanya program TV seperti ajang Miss World atau Puteri Indonesia sebagai ajang kecantikan yang menampilkan perempuan-perempuan yang telah dieksploitasi oleh kapitalis mengamini kehadiran standarisasi kecantikan.

Mengapa standar ini bisa hadir dan masih membudaya dikalangan masyarakat saat ini? Tentu saja hal ini disebabkan oleh adanya patriarki, kebanyakan masyarakat pada umumnya masih terbelenggu budaya patriarki sehingga masih belum bisa membedakan seks dengan gender.

Patriarki merupakan suatu sistem sosial dimana laki-laki lebih mendominasi dibandingkan perempuan. Sistem patriarki kini telah mengakar dan membudaya, akibatnya perempuan terus mengalami kemerosotan dan timbulnya pandangan masyarakat yang menganggap perempuan akan selalu berada di bawah tingkat laki-laki. Perempuan menjadi tidak bebas karena banyaknya batasan-batasan yang hadir setelah adanya sistem patriarki ini.

Batasan yang saya maksud perempuan tidak boleh sering keluar malam, perempuan dibatasi pergaulannya, kebanyakan anak perempuan juga dilarang merantau, perempuan setelah menikah tidak boleh bekerja, perempuan sebagai istri harus menurut dengan apa yang dikatakan oleh suami, dan masih banyak batasan-batasan terhadap perempuan. Patriarki dan ketimpangan gender membuat perempuan rentan menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual.

Menurut saya hal yang membuat ketimpangan gender dan patriarki masih melekat dikalangan masyarakat, pertama, pola asuh dalam keluarga karena dalam keluarga seorang anak perempuan sedari kecil diajari untuk tampil feminine, dibelanjakan permainan-permainan yang katanya permainan khusus anak perempuan, dipilihkan baju feminine dan ketika beranjak remaja, anak perempuan mulai diajari untuk bersolek, menjaga tutur kata, dan lagi anak perempuan harus feminine.

Dalam keluarga anak perempuan selalu dibatasi segala sesuatunya, sangat sedikit ruang kebebasan untuk anak perempuan bahkan untuk jenjang pendidikan sampai pekerjaan ditentukan oleh orang tua, sedangkan anak laki-laki dalam keluarga sangat diistimewakan diberikan kebebasan untuk menentukan jenjang pendidikan sampai pekerjaan yang ia inginkan.

Sedang di kalangan masyarakat perempuan dengan gender dominan feminine itu dianggap perempuan tulen, berbeda dengan perempuan yang gendernya dominan maskulin, perempuan itu akan mendapatkan diskriminasi sosial seperti dianggap bukan perempuan atau perempuan jadi-jadian.

Kedua, konstruk media terhadap peran perempuan seperti yang kita ketahui, kebanyakan iklan produk yang tampil dalam TV hanya menampilkan perempuan sebagai ibu rumah tangga saja. Contohnya iklan detergen pasti selalu menampilkan perempuan atau ibu rumah tangga sedang mencuci pakaian atau piring, sedangkan laki-laki pasti selalu hadir sebagai seseorang yang baru pulang kerja atau mungkin ingin pergi bekerja.

Konstruk dalam iklan-iklan TV ini mengaminkan perempuan menjadi ibu rumah tangga saja. Ketiga, adanya hasil tafsiran ayat dan hadis misogini yang menempatkan posisi perempuan sebagai posisi yang tersubordinasi, membuat pemeluk agama percaya bahwasanya memang perempuan itu sudah seharusnya berada di posisi kedua. Padahal semua agama terlebih agama islam itu sendiri sangat memuliakan perempuan sebagai individu yang setara dengan individu yang lainnya, agama hadir bukan untuk mendiskreditkan perempuan melalui kitab-kitabnya.

Tidak seharusnya perempuan dibatasi terus menerus dengan kehadiran patriarki, perempuan juga harus diberi ruang kebebasan layaknya laki-laki bukankah Rasulullah Muhammad Saw. sangat memuliakan perempuan serta memperjuangkan kebebasan perempuan pada zaman kehadiran islam dan kita sebagai pengikut-Nya seharusnya juga memuliakan perempuan layaknya Rasulullah Muhammad Saw. bukan justru menyia-nyiakan perjuangannya.

Indonesia merupakan salah satu Negara yang budaya patriarkinya masih sangat kental sejak era kolonialisme sampai sekarang, padahal RA Kartini sudah memperjuangkan kebebasan perempuan pada era kolonialisme melalui sastra.

Namun tetap saja dari tahun ke tahun ruang gerak kebebasan perempuan tetap terbatas, melihat perjuangan RA Kartini melawan budaya patriarki melalui sastra di era kolonialisme dimana untuk mengakses hal-hal berbau literasi sangat sulit, seharusnya menjadi inspirasi untuk perempuan-perempuan era sekarang ini agar bisa memanfaatkan teknologi dan melawan budaya patriarki dengan sastra ataupun karya lainnya.

Sudah saatnya kartini-kartini muda untuk melanjutkan perjuangan RA Kartini untuk membebaskan kaum perempuan dari berbagai ketimpangan gender dan belenggu budaya patriarki.

 

 

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Ni3fkvhqmfecajveogef
Opini

Menguji Demokrasi di Indonesia

3 Oktober 2024
79
Img 20250830 Wa0048
Opini

Duka yang Membakar Perjuangan: Suara Rakyat Tidak Boleh Padam

30 Agustus 2025
166
Img 20250501
Opini

Di Lautan Perang Tarif Antara AS dan China, Akankah Indonesia Tenggelam atau Belajar Lebih Jauh?

1 Mei 2025
90
Whatsapp Image 2024 06 13 At 16 29 56 E999ab2a
Opini

TRAGIKA

2 Juli 2024
55

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi