Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Membongkar Tabu: Perempuan sebagai Pelaku Pelecehan Seksual dalam Perspektif Feminisme Kontemporer

Pataka Eja by Pataka Eja
9 September 2025
in Opini
0
Img 20250908 Wa0007

Oleh: Caca

*Tulisan ini saya buat bukan untuk mengklaim diri saya adalah feminis! 

Selama ini, wacana pelecehan seksual hampir selalu menempatkan perempuan sebagai korban dan laki-laki sebagai pelaku. Narasi tersebut memang banyak didukung oleh data, tetapi sekaligus membentuk bias persepsi yang menutup kemungkinan bahwa perempuan juga dapat menjadi pelaku.

Tabu inilah yang membuat isu ini jarang dibicarakan secara serius, baik di ruang akademik maupun dalam gerakan feminisme.

Perempuan sebagai Pelaku, Mengapa Sulit Diakui?

Konstruksi sosial menempatkan perempuan sebagai sosok pengasuh, penuh kasih, dan tidak berbahaya. Pandangan ini membuat masyarakat sulit menerima kenyataan bahwa perempuan bisa melakukan pelecehan seksual. Bahkan sebagian feminis enggan mengangkat isu ini karena khawatir dianggap melemahkan perjuangan melawan patriarki. Namun, sikap defensif semacam itu justru menimbulkan masalah baru: korban dari pelaku perempuan semakin terpinggirkan.

Bukti Empiris yang Mulai Terungkap

Sejumlah penelitian dan publikasi terbaru menunjukkan bahwa fenomena ini nyata adanya:

1. Anna Motz (2024) dalam If Love Could Kill mengkaji perempuan pelaku kekerasan, menekankan bahwa tindakan mereka kerap berakar pada trauma dan relasi kuasa yang kompleks, bukan sekadar deviasi individual (The New Yorker, 2024).

2. Studi di Australia (Robertson & Harris, 2025) menemukan bahwa perempuan dapat menjadi pelaku pelecehan seksual di sekolah, dengan faktor situasional dan emosional sebagai pemicu utama (SAGE Journals, 2025).

3. Survei Inggris (2023) melaporkan bahwa 71% pria heteroseksual pernah mengalami bentuk pelecehan seksual dari perempuan, dengan dampak psikologis serius seperti depresi dan PTSD (Springer, 2023).

4. Data Queensland, Australia (2024) menunjukkan bahwa 84% tindak pelecehan seksual oleh perempuan dilakukan oleh anak perempuan usia 10–17 tahun, membantah anggapan bahwa pelaku perempuan selalu minoritas (Courier Mail, 2024)

Dampak Pengingkaran

Menolak mengakui perempuan sebagai pelaku membawa konsekuensi serius:

1.Korban laki-laki kerap dianggap “tidak mungkin” dilecehkan, atau malah diejek.

2.Korban perempuan dari pelaku perempuan sering tidak dipercaya dan kehilangan validasi.

Sistem hukum cenderung lebih lunak terhadap pelaku perempuan karena bias sosial yang masih menganggap mereka “tidak berbahaya.” Semua ini memperdalam ketidakadilan dan menyalahi prinsip feminisme yang berpihak pada korban.

Mengakui kenyataan bahwa perempuan bisa menjadi pelaku pelecehan seksual tidak berarti melemahkan feminisme. Justru, hal ini memperluas cakupan perjuangan menuju keadilan yang menyeluruh. Feminisme sejati berpihak pada korban, tanpa peduli siapa pelakunya.

Membongkar tabu ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa tidak ada korban yang ditinggalkan hanya karena pelakunya perempuan.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 25 At 17 19
Opini

Menatap Masa Depan Penutur Bahasa Makassar

26 Desember 2025
144
Foto Muh Thafdil Wirawan S
Opini

Menambang Data, Menjemput Masa Depan

30 Juli 2025
90
Whatsapp Image 2024 11 16 At 13 56 08 Be57f241
Opini

Sumber Kekacauan Pilkada Sebagai Refleksi Demokrasi

16 November 2024
142
Whatsapp Image 2026 01 16 At 20 42
Opini

Analisis Peran Perempuan dalam Representasi Politik Indonesia

16 Januari 2026
87

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi