Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Meneropong Pendidikan Mainstream UINAM Melalui Pendidikan Kritis

Pataka Eja by Pataka Eja
15 Agustus 2025
in Opini
0
Img 20250814 Wa0018

Oleh: Muhammad Fadikholilah Kahfi

Pendidikan mainstream adalah pendidikan formal seperti yang ditempuh oleh kebanyak orang seperti SD, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, Universitas dan berbagai lembaga pendidikan lainnya. Pendidikan secara bahasa adalah proses pembelajaran atau pengajaran sedangkan mainstream diambil dari bahasa Inggris yang terdiri dari 2 kata yaitu ‘main’ berarti ‘utama’ dan kata ‘stream’ yang berarti ‘arus’ sehingga dapat diartikan sebagai ‘arus utama’.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan mainstream adalah proses pembelajaran yang mengikuti arus utama atau arus umum yang diterima dalam masyarakat. Arus diterima yang dimaksud adalah berupa metode ajar, kurikulum, dan sistem pendidikan yang digunakan pada suatu lingkungan dalam hal ini adalah Indonesia.

Sisi lain dari pendidikan mainstream adalah pendidikan kritis, pendidikan ini hadir sebagai narasi tandingan dalam menciptakan ideologi-ideologi tandingan dari ideologi yang disebarkan pada pendidikan mainstream (Zainal Abidin, Cit Paulo Freire 2022). Para kaum pendidikan kritis ini iyalah mereka yang menyadari ada muatan politik dalam berbagai sendi kehidupan dan salah satunya adalah dunia pendidikan, mereka memiliki tujuan membebaskan kaum tertindas dari ragam bentuk penindasan dan memberdayakan mereka agar dapat berdiri sama dengan kaum yang menindas mereka(Agus Nuryatno, 2011).

Melalui ragam bentuk refleksi pada pendidikan mainstream kaum pendidikan kritis telah banyak melakukan bentuk-bentuk kritik pada kondisi pendidikan seperti kondisi ruang kelas yang terkesan sebagai ajang pembungkaman, transfer pengetahuan semata tanpa proses pencarian pengetahuan, dan ragam bentuk penindasan lainnya pada dunia pendidikan sehingga mereka menjadi narasi tandingan pada ideologi-ideologi yang dibuat oleh pendidikan mainstream dalam mempertahankan kekuasaannya. (Zainal Abidin, Cit Paulo Freire 2022).

Pengertian, Dasar, dan Tujuan Pendidikan

Berdasarkan teks tersebut, pengertian pendidikan menurut Paulo Freire adalah lebih dari sekadar mengajarkan sesuatu kepada seseorang atau pelatihan untuk memiliki kompetensi atau skill tertentu. Pendidikan merupakan upaya untuk membantu peserta didik mengetahui realitas dan bagaimana realitas itu dibentuk, di mana guru dan siswa sama-sama belajar dan memiliki subjek kognitif. Dasar pendidikannya adalah hakikat manusia yang memiliki ciri khas berupa kebebasan (liberty). Dan pendidikan mumiliki tujuan yaitu *untuk mereproduksi ideologi kelas dominan dan kondisi-kondisi yang memelihara kekuasaan mereka. Namun, Freire mengusulkan tujuan pendidikan alternatif, yaitu sebagai sarana reproduksi ideologi tandingan. (Zainal Abidin Cit Paulo Freire 2022)

Bisa disimpulkan bahwa pendidikan menurut Paulo Freire adalah upaya membantu peserta didik mengetahui realitas dan pembentukannya yang didasari oleh hakikat manusia berupa kebebasan dan bertujuan untuk mereproduksi ideologi tandingan alih-alih ideologi kelas dominan.

Kondisi Ruang Pendidikan Hari Ini

Pada bagian ini saya mengambil bahan analisis dari beberapa mahasiswa di UINAM yang saya sampaikan sebab takutnya mereka untuk menyampaikan keresahannya pada ruang-ruang pendidikan hari ini, demi keamanan, identitas pemberi sumber analisa pribadi saya sembunyikan. dirinya merasa ada beberapa dosen yang saat mengajar suka bercanda tapi candaannya berkesan merendahkan perempuan. Menurutnya, dosen seharusnya tidak demikian menunjukkan pemikiran yang lama (kolot). Selain itu, ada juga dosen yang tidak suka dikritik. Kalau murid mengkritik sedikit saja, dosen jadi menjauhi muridnya dan merasa dirinya paling benar.

Fenomena demikian sering terjadi pada ruang-ruang dan terjadi secara terus-menerus tanpa adanya sanggahan sehingga membentuk suatu budaya yang Paulo Freire sebut dengan budaya diam. Kondisi inilah yang membentuk karakter mahasiswa tidak ingin mempertanyakan realitas, tidak ingin berpikir kritis, tidak berani menyampaikan ide-ide brilian mereka sebab adanya rasa takut yang telah tertanam pada mahasiswa.

Bukan mereka tidak ingin, sebab pencarian pengetahuan sebuah keharusan, akibat dari pencarian pengetahuan tersebut ada majunya peradaban maka seharusnya setiap orang berlomba-lomba mencari pengetahuan, tapi kenyataan berbanding terbalik, ruang kelas hari ini hanyalah wadah transfer ilmu pengetahuan tanpa disertai dengan mempertanyakan pengetahuan tersebut, ketakutan telah menjadi identitas dari pendidikan hari ini, kondisi transfer pengetahuan tersebut Freire sebut dengan pendidikan gaya bank (Paulo Freire 1968), layaknya bank yang selalu di isi saja dengan uang Freire melihat kondisi tersebut memiliki kemiripan di mana mahasiswa hanya di isi saja dengan pengetahuan tanpa adanya kerja-kerja pencarian pengetahuan dan akhirnya membentuk subjek yang bisu (mahasiswa yang terkena budaya diam).

Budaya Pragmatisme Pada Pendidikan

Paham pragmatisme adalah cara berpikir yang menyatakan bahwa kebenaran suatu hal terbukti melalui hasil yang secara realistis menguntungkan atau kegunaannya dalam pengalaman nyata(Noor Amaliana Safitri).

Kritik pada pragmatisme iyalah hanya menekankan pada hal praktis terhadap segala sesuatu, sehingga seringnya mengesampingkan segala hal yang non praktis, Agus Nuryatno dalam bukunya Mazhab Pendidikan Kritis mendapati fenomena budaya pragmatis dalam dalam hubungan orang tua dan anak dalam memasukkannya kepada lembaga pendidikan.

Kita lihat, misalnya, banyak orang tua yang punya persepsi bahwa sekolah adalah investasi masa depan. Yang dimaksud investasi di sini lebih banyak dipahami dalam kerangka ekonomi dibanding non ekonomi. Ketika sekolah dipersepsi sebagai investasi ekonomi, maka tujuan sekolah adalah mencari kerja. Persepsi di atas punya implikasi luas.

Masyarakat akan cenderung menyekolahkan anaknya ke fakultas-fakultas yang sekiranya bisa menghasilkan keuntungan ekonomi yang lebih banyak. Akibatnya fakultas yang akan laku adalah fakultas yang berorientasi pasar dan mudah mencari kerja seperti ekonomi, teknik, kedokteran, dan lain-lain. Sementara fakultas-fakultas yang non pasar seperti filsafat, antropologi, sastra, dan seterusnya akan tidak laku. (Agus Nuryatno, 2011).

Orientasi Kerja Dalam Pendidikan

Pada bagian ini saya menyempatkan berdiskusi dengan seorang mahasiswa UINAM, dia seorang mahasiswa yang sekaligus berkerja dan andai kata pun dia ingin berhenti kuliah sebab skill dan pengalaman kerja dirinya sudah bisa menghidupi diri dan keluarganya, demi keamanan saya merahasiakan identitasnya dirinya.

Kita mengetahui secara umum bahwa tujuan kuliah hari ini bagi khalayak umum adalah untuk kerja, kerja, dan kerja. Tidak bisa dipungkiri apa lagi sebab adanya budaya pargmatis dan dominasi ideologi pasar yang menekankankan paham pragmatis-materialistik dan menormalkan budaya kompetisi dan justru mengesampingkan budaya koperasi.

Alhasil kerja-kerja persaingan yang saling menjatuhkan satu sama lain menjadi normal, padahal harusnya kerja-kerja koperasilah yang harus kita tekankan yang fokus pada tolong-menolong meraih kesuksesan secara bersama.

Kawan saya memberikan kritik bahwa jikalau kuliah untuk kerjapun, kerja-kerja kuliah tidak dapat mendukung kemampuan individu untuk bersaing dalam dunia kerja hari ini, mengapa demikian? Sebabnya adalah:

  • Dari rutinitas kuliah hari ini, banyak mahasiswa hanya menjadikan kuliah formalitas dan mencari nilai saja dan kurang mencari skill untuk masa depan, alhasil pulang tanpa memiliki kemampuan unggul.
  •  Mata kuliah yang diturunkanpun selaku bersifat teoritis yang hasilnya banyak mahasiswa tidak tau menerapkan ilmu tersebut dalam realitas.
  • Jikalaupun mata kuliah hari ini mendukung untuk kerja-kerja masa hadapanpun, mata kuliah hari ini pun tidak menunjang full kemampuan mahasiswa untuk menjadi inovator, pemimpin wirausaha melainkan lebih kepada pencetakan cadangan tenaga kerja sahaja (karyawan).

Melalui diskusi dengan kawan saya tersebut saya mengingat kembali kata-kata Agus Nuryatno dalam buku Mazhab Pendidikan Kritis “apakah kuliah sudah memberikan jaminan pasti bahwa setelah selesai kuliah sudah pasti dapat kerja atau belum?” Kita sudah tau pasti bahwa hal itu masih sangat sedikit sekali adanya, dimana lembaga pendidikan telah memberikan jaminan pasti jikalau menyelesaikan akademiknya langsung terjun kerja, dari hal itulah menjadikan tujuan kuliah untuk kerja itu sudah keliru, sebab tujuan utama kuliah adalah untuk belajar yang bertujuan mampu memahami keberadaan dirinya dan lingkungan dunianya yang dengan bekal pikiran dan tindakan “praksis”nya ia merubah dunia dan realitas (Paulo Freire, 1999).

Budaya disiplin pada kuliah hari ini justru menjadi alat pengekangan dan mendukung penuh bagaimana budaya tunduk patuh pada atasan kerja itu benar adanya dan menormalkan fenomena tersebut, akibatnya, kemampuan kritis setiap mahasiswa hari ini menjadi kaku dan terjebak pada budaya bisa dan tidak dapat berkreasi untuk mengembangkan dirinya sendiri.

Kerja menjadi bagian dari pendidikan, bukan tujuan utama pendidikan, maka dari itu menolak kerja dalam pendidikan jelas hal yang sangat keliru, kita tetap membutuhkan kerja guna melanjutkan kehidupan hari ini dan esok hari, maka menjadi pekerja yang sadar penuh tentang tujuan belajar yang saya maksud dan menjadi manusia yang merdeka bukan selalu tunduk patuh pada atasan kerja, manusia demikianlah yang dimaksud sebab kerja-kerja penindasan, pembungkaman, dan budaya bisu pada manusia adalah hal yang salah.

Terimakasih kepada para pembaca, kawan-kawan diskusi saya yang membantu saya membuat artikel ini, semoga artikel ini menjadi cakrawala pengetahuan baru dan alat pembebasan bagi kawan-kawan yang masih takut untuk melihat kenyataan, saya mohon maaf sebelumnya jikalau ada salah kata, kalimat, dan maksud yang membuat pembaca merasa tidak nyaman membaca artikel saya, harapan saya artikel ini dapat tersebarkan dan bermanfaat bagi banyak orang.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 09 03 At 20 16
Opini

Pejabat Malnutrisi Karena Malas Membaca: Menghasilkan Kebijakan Bermodal Asumsi dan Tanpa Diskusi

3 September 2025
26
Whatsapp Image 2025 11 25 At 19 26
Opini

Syair Using Menyebrang Zaman: Tradisi Lisan yang Bertransformasi

25 November 2025
47
Whatsapp Image 2025 01 28 At 23 16 06
Opini

Disparitas Pendidikan: Anak Putus Sekolah Dan Kekerasan Struktural

28 Januari 2025
64
Whatsapp Image 2025 12 16 At 14 15
Opini

Mikroplastik, Jokes, dan Sirkel yang Terlalu Akrab untuk Sok Serius

15 Desember 2025
162

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi