Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Tengkorak di Bendera, atau Tengkorak di Kepala?

Ketika simbol mulai bicara, penguasa biasanya panik. Karena simbol tak bisa dikriminalisasi semudah pasal-pasal karet. Ia tak punya mulut, tapi bisa menyindir lebih tajam dari cuitan oposisi.

Faisal Basri by Faisal Basri
5 Agustus 2025
in Opini
0
Muh Fajar Nur

Dokumen Pribadi Muh Fajar Nur

Oleh: Muh Fajar Nur


Agustus belum genap seminggu, tapi semangat nasionalisme sudah kebingungan. Bukan karena rakyat malas mengibarkan merah putih, tapi karena sebagian dari mereka justru mengibarkan bendera bajak laut. Dan yang lebih lucu lagi: negara tersinggung. Di negeri ini, sehelai kain bergambar tengkorak tampaknya lebih berbahaya ketimbang pejabat korupsi atau proyek IKN yang bolong.

Polisi dikerahkan. Investigasi dibuka. Saksi dimintai keterangan. Negara tampak sangat serius, seolah-olah bendera One Piece adalah ancaman ideologis. Tapi tenang saja, ini bukan sinopsis film fiksi. Ini Indonesia, di tahun 2025, ketika logika dan akal sehat pelan-pelan dideportasi ke tempat yang tak diketahui. Bendera One Piece dianggap provokatif. Simbol bajak laut didefinisikan sebagai ancaman kedaulatan. Seakan-akan, jika rakyat mulai mengibarkan kain bergambar Luffy, maka esok pagi republik ini bubar. Padahal republik ini sudah lama digerogoti dari dalam oleh tikus-tikus berdasi yang tak pernah ditangkap dengan kecepatan yang sama.

Dalam dunia protes sosial, Bert Klandermans menyebut bahwa aksi demonstrasi punya dua wajah: satu bersifat instrumental, yang mengejar hasil nyata. Satunya lagi simbolik, yaitu ketika rakyat tahu bahwa suara mereka tak akan pernah cukup nyaring dibanding buzzer, maka mereka bicara lewat simbol. Lewat lagu, mural, kaos, hingga bendera. Dan ketika simbol mulai bicara, penguasa biasanya panik. Karena simbol tak bisa dikriminalisasi semudah pasal-pasal karet. Ia tak punya mulut, tapi bisa menyindir lebih tajam dari cuitan oposisi.

Yang menarik dari bendera One Piece ini bukan kainnya, tapi reaksi negara. Ini tentang cara penguasa memperlakukan akal sehat publik. Ketika rakyat menyindir lewat fiksi, negara menjawab dengan represi yang nyata. Ini seperti membalas candaan anak kecil dengan lemparan batu. Terlalu serius untuk sesuatu yang seharusnya cukup dijawab dengan senyum.

Tapi jangan salah. Di balik kelucuan ini, terselip rasa takut yang nyata dari mereka yang duduk di kursi kekuasaan. Karena simbol bisa menyatukan. Ia bisa menumbuhkan kesadaran kolektif. Dan satu hal yang paling ditakuti penguasa bukan kritik, bukan demo, tapi kesadaran. Karena kesadaran membuat rakyat berhenti percaya, dan ketika rakyat berhenti percaya, legitimasi runtuh.

Jadi pertanyaannya bukan lagi soal bendera siapa yang dikibarkan. Tapi mengapa negara ini begitu mudah takut pada rakyatnya sendiri? Kenapa sebuah simbol fiksi bisa dianggap lebih berbahaya dari krisis harga pangan, dari utang luar negeri, dari ketimpangan sosial yang menganga? Kenapa ketika rakyat sedang ingin main-main dengan simbol, negara malah main-main dengan hukum?

Negara ini tampaknya sedang kelelahan menjaga citra. Terlalu sibuk mengatur agar semua tampak “normal” dan “tertib”, sambil lupa bahwa rakyat bukan hanya makhluk yang butuh listrik dan beras, tapi juga akal sehat. Dan ketika akal sehat itu mulai diungkap lewat sehelai kain tengkorak, penguasa langsung panik seperti melihat cermin.

Akhirnya, kita harus jujur pada pertanyaan yang selama ini sengaja dihindari: siapa sebenarnya yang menakutkan di negeri ini? Tengkorak yang dijahit di selembar kain, atau tengkorak yang bersemayam di kepala rakyat yang mulai berpikir? Kalau simbol bisa membuat negara gemetar, maka barangkali yang ditakuti bukan benderanya, tapi otak di baliknya. Dan itu berarti, republik ini sedang gentar bukan pada pemberontakan, tapi pada kesadaran. Karena ketika rakyat mulai berpikir, bendera bajak laut tak lagi jadi masalah, yang jadi masalah adalah kekuasaan yang telanjang.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 10 29 At 21 32
Opini

Patriarki Harus Mati: Perempuan dan Revolusi Intelektual

30 Oktober 2025
125
Whatsapp Image 2024 11 16 At 13 56 08 Be57f241
Opini

Sumber Kekacauan Pilkada Sebagai Refleksi Demokrasi

16 November 2024
117
07 45 56 Images
Opini

Belenggu Patriarki Terhadap Perempuan

13 September 2025
60
Whatsapp Image 2026 02 24 At 22 27
Opini

Ketika ‘Wajar’ Menjadi Senjata: Normalisasi Ketidakadilan dan Tumpulnya Nalar Kritis

25 Februari 2026
79

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi