Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Ilusi Pengetahuan dan Senjakala Intelektual

Internet seperti pedang yang bermata dua, menawarkan  sisi  unik sekaligus paradoksal. Kebiasaan menelusuri internet kerap memunculkan ilusi pengetahuan, yang ironisnya justru mengikis ketelitian intelektual. Fenomena mencari pengetahuan melalui media sosial menimbulkan kekhawatiran atas kualitas pemahaman masyarakat. 

Pataka Eja by Pataka Eja
28 Juli 2025
in Opini
0
Sfsgsdgs

foto Roy Demmadika

Oleh : Roy Demmadika
Kemalasan berpikir di era serba instan jadi ancaman serius bagi intelektualitas. Jika tak paham, orang cenderung langsung menyalin. Internet yang menyediakan banyak jalan pintas justru mempercepat kemunduran kemampuan berpikir kritis.

Internet kini ibarat artileri yang membombardir  pengguna dengan informasi yang keliru. Fenomena diskusi virtual menghadirkan beragam dinamika, dimana narasi yang viral kerap lebih dihargai tanpa melalui proses kritik rasional. 

Tantangan utama kita di era digital ini adalah hilangnya kemandirian berpikir, membuat kita terbawa arus mengikut opini publik. Akibatnya, banyak individu yang terjebak pada ilusi pengetahuan, merasa tahu padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa.

Internet telah berevolusi menjadi senjata ampuh untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi, sekaligus mendorong respon instan dalam menanggapi berbagai isu. Namun kebebasan mengakses tanpa batas justru membanjiri ruang publik dengan informasi tak penting dan pemikiran setengah matang. Alhasil, Internet dan media sosial membuat kita semakin jauh dari nilai-nilai  sosial dan memicu perilaku  konfrontatif ditengah masyarakat. 

Internet seperti pedang yang bermata dua, menawarkan  sisi  unik sekaligus paradoksal. Kebiasaan menelusuri internet kerap memunculkan ilusi pengetahuan, yang ironisnya justru mengikis ketelitian intelektual. Fenomena mencari pengetahuan melalui media sosial menimbulkan kekhawatiran atas kualitas pemahaman masyarakat. 

Apa peranan pendidikan di era digital?

Pendidikan sejatinya memiliki peran penting dalam membangun daya pikir kritis, tapi kini digitalisasi sudah menjadi wajah baru yang dinormalisasi di instansi pendidikan seperti perguruan tinggi. Ini yang kemudian menimbulkan ketergantungan pada internet sehingga mahasiswa sudah jauh dari esensi kemahasiswaan itu sendiri. 

Kehadiran internet di masyarakat akademisi sangat berpengaruh besar, karena lebih mempercepat akses informasi. Namun, dibalik kemudahan mengakses pengetahuan ini, kemampuan berpikir kritis justru kian tumpul dan kurang terasah. 

Ini yang kemudian menjadikan perguruan tinggi jauh dari kata akademis program intelektual yang memberikan janji pendidikan. Pada dasarnya pendidikan menurut Tan Malaka untuk mempertajam kecerdasan, memperhalus perasaan, dan memperkukuh kemauan yang kemudian berubah menjadi mesin pekerja. di zaman yang penuh dengan opini berpikir kritis menjadi senjata terakhir yang dimiliki manusia dimana kita diajarkan untuk meragukan,bertanya,dan membedah suatu asumsi

Pendidikan kritis yang semestinya terus di kembangkan sejalan dengan kemajuan teknologi, namun yang kita saksikan pada hari ini adalah keterbelakangan intelektual. Ketika berpikir jadi pilihan dan menyontek jadi strategi. Kesuksesan instan lebih dihargai daripada memilih untuk menjadi orang idealis. 

Internet benar-benar mengubah cara kita membaca, menjelaskan, bahkan berpikir, menjadi lebih buruk. Kita mendambakan informasi serba cepat, tapi justru sering disuguhi potongan-potongan info yang dikemas visual menarik tanpa kedalaman makna. Tidak ada yang kita inginkan, alhasil banjir informasi, dalam kualitas yang beragam dan kadang dengan tingkat kewarasan tak tentu, menciptakan kumpulan pengetahuan yang membuat kondisi kita lebih buruk dibandingkan dengan saat kita tidak tahu sama sekali. 

Dampaknya kita bingung membedakan informasi yang berbasis fakta dan mendukung penciptaan propaganda totaliter yang merusak kebebasan manusia. Tom Nichols memotret dengan baik realitas tersebut dalam bukunya yang berjudul matinya kepakaran. 

Nichols menulis tentang internet dengan nada getir bahwa ia memberi ilusi pengetahuan, bukan pengetahuan. Kita mengetik gejala penyakit dan merasa sudah lebih pintar dari seorang ahli. Kita membaca satu artikel dan merasa sudah lebih tahu dari orang yang bertahun tahun melakukan riset. 

Internet memang memberimu data, tapi tak memberimu kesempatan untuk memilahnya. Di layar itu, kita hanya melihat pantulan ego dunia yang selalu menjawab ya pada prasangka kita, dan tak pernah berani berkata kau keliru. Media sosial membuat semua suara terdengar sama besar. 

Nichols menunjukkan nahwa fenomena sekarang terkait kepenulisan dan kepakaran begitu miris. Seorang ilmuan yang meneliti seumur hidup dan seorang yang hanya mengutip meme punya panggung yang sama luasnya. Dan publik yang selalu lapar pada hiburan sering memilih yang paling berisik. Di sana, kebenaran kalah oleh popularitas, dan keahlian tenggelam di bawah keberanian mereka yang paling lantang bersuara. 

AI bisa meniru logika tapi tidak memiliki semangat skeptis. Berpikir kritis adalah benteng terakhir manusia. (Daniel Dennett)

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 25 At 17 19
Opini

Menatap Masa Depan Penutur Bahasa Makassar

26 Desember 2025
121
Whatsapp Image 2025 12 16 At 14 15
Opini

Mikroplastik, Jokes, dan Sirkel yang Terlalu Akrab untuk Sok Serius

15 Desember 2025
171
Whatsapp Image 2025 05 02 At 22 20 08 9605197a
Opini

Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Mewujudkan Keadilan dan Kualitas Pendidikan

2 Mei 2025
144
Whatsapp Image 2025 11 28 At 09 59
Opini

Kebijaksanaan dalam Mendidik: Menuntun Bukan Menentukan

28 November 2025
127

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi