Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Menjawab Pertanyaan tentang Orientasi Seksual: Given atau Konstruksi Sosial?

alwi by alwi
13 Januari 2025
in Esai
0
Whatsapp Image 2025 01 13 At 21 22

Dokumen Pribadi

Oleh: Nurhayati


Mendiskusikan mengenai isu-isu seks dan gender seakan-akan tidak ada habisnya untuk diperbincangkan di kalangan masyarakat dunia, terlebih bagi masyarakat Indonesia sendiri. Banyak orang yang memahami konsep seks sama dengan gender. Padahal sejatinya kedua konsep tersebut sangatlah jauh berbeda meskipun memiliki keterkaitan. Secara sederhana, seks berfokus pada kondisi biologis dan terbagi menjadi dua yakni perempuan dan laki-laki. Sedangkan gender mencakup pada tingkah laku dan peran manusia dengan garis besar meliputi dua pembagian pula yakni feminim dan maskulin.

Menelisik lebih dalam, seks dan gender pada satu sisi dan lain hal memang memiliki keterkaitan. Apabila orientasi seks merupakan sebuah kecenderungan manusia untuk melakukan dan menentukan pilihan seksualnya, maka bisa dipastikan bahwa hal tersebut dipengaruhi oleh sex dan gender. Yang dimaksudkan disini adalah seseorang yang memiliki kecenderungan seksual sebagai seorang lesbi, gay, heteroseksual tentunya didorong oleh sex dan gender.

Kajian mengenai isu seks dan gender tentu tidak akan jauh-jauh dari pembahasan mengenai lesbianism (penyuka sesama jenis perempuan), heteroseksual (hasrat suka sesama lawan jenis), dan juga homoseksual/gay (penyuka sesama jenis laki-laki). Sebagai sebuah orientasi seks, homoseksual/gay dan lesbianisme sampai sekarang masih menjadi sebuah isu yang sangat kontroversial karena kedua hal tersebut selalu dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah penyimpangan seksual.

Menurut buku Sexual Variance in Society and History (1980) dan The Columbia Electronic Encyclopedia, Penyimpangan seksual dalam bidang psikologi merujuk pada perilaku seksual yang dianggap tidak normal karena tidak sesuai dengan standar hasrat seksual yang umum. Tindakan penyimpangan seksual adalah salah satu tindakan yang sangat perlu kiranya untuk dihilangkan. Terlebih lagi jika penyimpangan seksual dinilai dari kacamata agama dan hukum. Maka tak heran jika homoseksual dan lesbianisme sangat dicela di masyarakat dunia, terlebih lagi di masyarakat Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama.

Kebanyakan warga Indonesia, yang menganut agama dan budaya konservatif, cenderung melihat homoseksual/gay dan lesbianisme sebagai perilaku yang tidak sesuai dengan nilai moral dan agama yang mereka yakini. Akibat stigma ini, banyak individu dengan orientasi seksual yang berbeda mengalami diskriminasi, marginalisasi, dan bahkan kekerasan, yang berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.

Fenomena homoseksual/gay dan lesbianisme hanya merupakan contoh yang kemudian membuat kita semua berpikir bahwa seorang manusia haruslah memiliki orientasi seks yang sejalan dengan mayoritas manusia. Padahal tanpa kita ketahui, sebenarnya banyak manusia yang memiliki orientasi seksual yang berbeda dengan kebanyakan orang. Fenomena seperti homoseksual/gay dan lesbianisme tentu selalu menjadi pertentangan di kalangan masyarakat. Hingga kemudian pertanyaan yang timbul ialah, apakah seseorang yang memiliki gejala homoseksual atau lesbianiseme dikarenakan lingkungannya yang membentuk dia untuk menjadi seorang homoseks (socially or politically constructed)? atau hal tersebut merupakan sebuah ketetapan yang telah diatur oleh Tuhan (given)?

Terkadang orientasi seks yang berbeda itu given dan adakalanya socially or politically constructed. Setelah banyak perdebatan tentang seks dan gender, terdapat pandangan bahwa orientasi seksual dipengaruhi oleh faktor biologis, seperti hormon dan sifat-sifat biologis lainnya. Oleh karena itu, menjadi homoseksual, lesbian, atau orientasi seksual lainnya dapat dianggap sebagai kodrat.

Kita sebagai manusia biasa tidak akan pernah bisa memberikan keputusan ataupun penilaian apapun terkecuali melihat sesuatu seperti sex orientation ini dalam perspektif kekuasaan dan keesaan Tuhan. Hal tersebut menjelaskan bahwa menjadi homoseksual/gay, heteroseksual, dan lesbian, adalah di luar kehendak dan kekuasaan manusia itu sendiri (kodrati), jika memang benar bahwa penyebabnya merupakan susunan hormonal. Terkecuali jika kedepannya nanti ilmu sains menemukan temuan baru yang bisa mempengaruhi dan mengubah susunan hormonal seseorang hingga kemudian orientasi seksualnya pun berubah.

Orientasi seksual terkadang juga dipengaruhi oleh faktor non-biologis atau hormonal, seperti faktor sosial, budaya, politik, ataupun semacamnya, dan bisa dibilang bahwa hal tersebut hampir sama dengan konteks gender. Karena konteks gender ini yang kemudian membuat orientasi seks seseorang bisa berubah. Perubahan orientasi seks yang menyimpang seperti ini bisa dihukumi karena hal tersebut bukanlah sesuatu yang disebabkan oleh faktor biologis atau kodrati.

Ketika akan memberikan permasalahan orientasi seksual manusia, perlu kiranya kita melihat dan menilainya dari faktor yang menjadi penyebab utamanya secara detail hingga kemudian kita tidak akan salah dalam menyimpulkan sesuatu terutama orientasi seksual itu sendiri. Dengan cara demikian, kita bisa membuat keputusan terkait dengan orang-orang yang melakukan penyimpangan seksual tidak hanya berdasarkan pada dalil keagaman, tetapi juga didasarkan pada dalil biologi dan sosial. Keputusan yang didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tersebut diharapkan akan mengeluarkan kebijakan dan keputusan yang lebih adil dan inklusif serta tidak merugikan pihak yang lainnya. Tapi secara garis besar, sex orientation yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma agama dan hukum akan mengalami kesulitan menjalani kehidupannya di negara seperti Indonesia. Pesan penulis, teruslah bijak dalam menyikapi sesuatu, jangan gegabah dalam menilai, dan terakhir perbanyak membaca.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Islam Dan Teologi Aa
Esai

Upaya Meretas Kapitalisme: Islam Sebagai Gerakan Pembebasan

18 November 2024
17
Whatsapp Image 2022 05 24 At 01 04
Esai

Neoliberalisme: Bentuk Privatisasi Layanan Publik di Indonesia

6 September 2025
60
Images
Esai

Berkenalan dengan Kartini

11 September 2025
25
Esai

Reformasi Pendidikan: Realitas Pendidikan Indonesia

9 Juli 2024
61

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi