Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Validasi Boleh, tapi Jangan Ketagihan kaya Wifi Gratisan

Pataka Eja by Pataka Eja
27 Oktober 2025
in Opini
0
Img 20251027 Wa0009

Oleh: Ludfi Farellita Restri Agustin


Kalian sadar ga sih kalau zaman sekarang itu unik atau aneh?, Zaman sekarang ini unik banget, karena apa?, karena banyak sekali orang sekarang ini kehilangan harga diri yang ada pada diri mereka sendiri, zaman semakin berkembang, hal ini menjadikan seseorang semakin bergantung dengan pendapat orang lain. Coba deh kita liat sekeliling kita. Berapa banyak temen kita yang hidupnya kaya diatur algoritma? Bangun tidur langsung buka handphone, scroll ig sejam lebih, terus mulai insecure karena liat kehidupan orang lain yang keliatan sempurna.

Mau makan aja harus difoto dulu, mau jalan-jalan harus mikir spotnya instagramable apa nggak. Semua yang dilakuin kayaknya harus ada yang liat, harus ada yang ngasih reaksi muji.Padahal kalau dipikir-pikir, absurd juga ya. Kita hidup buat siapa sih sebenernya? Buat diri sendiri atau buat konten? Buat bahagia atau buat kelihatan bahagia? Ini yang sering bikin kita kehilangan harga diri karena kita terlalu sibuk jadi orang lain, jadi versi yang menurut kita bakal disukai banyak orang. Capek banget ya ternyata jadi dewasa semua yang kita lakuin terlalu bergantung sama penilaian orang.

Hidup Di Era “Please Validate Me” 

Jujur aja, generasi sekarang tuh tumbuh di masa yang unik banget. Dari kecil udah dikenalin sama media sosial, diajarin buat berbagi momen lewat media sosial, dapet pujian dari like dan comment. Tanpa disadari, kita menjadi terbiasa menilai harga diri berdasarkan seberapa banyak orang yang muji kehidupan kita.

Mau posting story? Mikir dulu, “Aesthetic ga yaa?” Mau nge-tweet? Harus relatable biar viral. Bahkan buat milih outfit buat keluar aja, kadang kepikiran, “Ini bagus nggak di mata tementemen?” Capek banget, kan? Yang lebih Lelah lagi, kita sering lupa kalau di balik semua itu, ada manusia dengan insecuritynya masing-masing. Jadi sebenernya kita tuh lagi minta validasi dari orang yang juga lagi cari validasi. Lucu nggak sih?

Ketika Validasi Jadi Candu

Masalahnya, dapet validasi dari orang itu kayak candu gitu rasanya. Dapet satu, nagih lagi. Dapet sepuluh, pengen seratus. Nggak cukup-cukup. Pada akhirnya kita ngejar validasi terus, sampai lupa jadi diri sendiri dan malah pura-pura jadi orang lain. Ada yang sampai pura-pura jadi orang lain biar bisa masuk ke circle tertentu. Ada juga yang maksa ikut tren padahal nggak enjoy.

Bahkan ada yang rela umbar privasi cuma biar kontennya rame. Ujung-ujungnya buat apa? Cuma biar ngerasa diterima, padahal semua itu semu. Terus gimana kalau suatu hari semua validasi itu hilang? Misalnya, tiba-tiba ada yang unfollow, ghosting, atau nggak ada yang bales chat kita. Pasti langsung down, ya kan? Rasanya kayak nggak berharga. Padahal sebenarnya nggak ada yang berubah kita tetap orang yang sama, cuma angka di layar aja yang berubah.

Bedanya Validasi dengan Apresiasi

Tenang, ini bukan berarti kita nggak boleh senang kalau dipuji atau dapet pengakuan atas prestasi. Itu wajar dan sehat kok. Secara alami, manusia memang butuh validasi. Manusia itu makhluk sosial. Dari kecil kita tumbuh karena ada pengakuan dan dukungan orang lain misalnya, waktu kamu kecil dan orang tua bilang “bagus ya gambarnya!”, itu bentuk validasi. Hal-hal seperti ini penting untuk membangun rasa percaya diri dan identitas diri.

Jadi, dalam kadar wajar, validasi memang kebutuhan emosional dasar manusia. Akan tetapi validasi bukanlah sumber utama nilai diri. Masalahnya muncul kalau kita bergantung pada validasi buat ngerasa berharga. Kalau semua keputusan, tindakan, atau perasaan diri kamu tergantung dari “apa kata orang”, kamu bakal gampang kehilangan arah. Validasi yang sehat itu cuma bumbu, bukan menu utama dalam hidup.

Kalau kamu melakukan sesuatu karena memang passion kamu dan orang menghargainya, itu sehat. Tapi kalau kamu melakukan sesuatu hanya supaya orang lain suka, berarti kamu lagi ngejar validasi. Contohnya gampangnya: kamu bikin karya seni buat mengekspresikan diri, terus orang menghargai karya itu, dan kamu senang — itu sehat. Tapi kalau kamu bikin karya seni tapi stres mikirin “ini bakal dapat berapa like ya?”, nah itu tandanya udah masuk zona bahaya.

Mulai dari Unfollow Pikiran Negatif 

Jangan ikuti pikiran negatif. Kedewasaan itu bukan cuma soal umur atau pencapaian. Kedewasaan yang sebenarnya adalah ketika kamu sadar bahwa pendapat orang lain tentang kamu itu bersifat sementara, subjektif, dan nggak sepenting yang kamu kira. Coba deh inget-inget lagi masamasa SMA atau awal kuliah.

Hal-hal yang dulu kamu anggap super penting kayak nggak diajak nongkrong, atau drama pertemanan sekarang, kalau dipikir-pikir lagi, ternyata sepele banget, kan? Nah, lima tahun dari sekarang, hal-hal yang sekarang bikin kamu overthinking juga bakal terasa nggak penting.

Mulailah dari hal-hal kecil seperti:

1. Posting sesuatu tanpa berharap viral.

2. Berani ngomong apa yang kamu pikirin meski nggak populer.

3. Berani nolak ajakan kalau kamu memang nggak pengen ikut.

4. Luangkan waktu buat diri sendiri dan nikmati kesepiannya.

5. Kurangi kebiasaan ngecek notifikasi tiap lima menit.

Karena semakin kamu tenang sama diri sendiri, semakin kamu sadar bahwa kedewasaan bukan soal dilihat orang lain, tapi soal bisa nyaman jadi diri sendiri.

Self-Worth yang Sebenarnya 

Harga diri yang sesungguhnya datang dari dalam, bukan dari orang lain. Kamu berharga bukan karena cantik, ganteng, pintar, atau punya banyak followers. Kamu berharga karena kamu ada. Sesederhana itu. Kamu nggak perlu membuktikan apa pun ke siapapun. Kerjain hobi kamu walaupun belum jago. Rayakan pencapaian kecilmu sendiri. Jangan buru-buru membandingkan perjalananmu sama orang lain, karena awal, jalan, dan tujuan tiap orang beda-beda. Kamu juga nggak harus jadi versi “sempurna” di mata semua orang.

Mustahil, karena standar sempurna tiap orang berbeda-beda. Yang penting, konsisten jadi versi dirimu yang asli, bukan versi yang kamu kira bakal bikin orang terkesan. Kedewasaan juga soal punya growth mindset tanpa harus diumumkan ke orang lain. Belajar dari kesalahan, move on dari penolakan, dan jangan terjebak di lingkaran validasi yang bikin stres.

Hargai kritik yang membangun, tapi jangan sampai rusak karena komentar negatif dari orang asing di internet. Dan satu hal penting: tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja. . Kamu nggak perlu pura-pura kuat terus. Kadang boleh ngerasa down, insecure, atau kalah. Yang penting, jangan stuck di situ. Proses itu, healing itu, terus maju lagi sesuai alur kamu sendiri.

“Your Journey, Your Rules”

Pada intinya validasi dari orang lain itu boleh ada, tapi bukan hal wajib. Kamu nggak butuh persetujuan dari orang lain buat merasa cukup. Sebaliknya, orang-orang yang sibuk ngecek validasi kamu biasanya juga lagi sibuk nyari validasi mereka sendiri. Kedewasaan itu tentang nyaman sama diri sendiri, dengan semua kekurangan dan kelebihanmu. Kamu nggak perlu jadi yang terbaik di mata orang lain, cukup jadi versi terbaik dari dirimu sendiri. Mulai sekarang, gimana kalau hidup buat diri kamu sendiri? Bukan buat feed Instagram, bukan buat bikin orang terkesan, tapi buat kebahagiaan dan pertumbuhan dirimu sendiri. Kedengeran menyeramkan? Mungkin. Tapi di situlah kebebasan sejati dimulai. Selamat menjalani perjalanan buat bener-bener mengenal dan menghargai dirimu sendiri. Percaya deh, itu bakal sepadan.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2024 09 04 At 06 18
Opini

Ajang Indoktrinasi, Jauh Dari Nuansa Akademis dan Jadi Ajang Dangdutan. PBAK FEBI KOCAK!

4 September 2024
1.8k
Sri Wahyuni Syukur Pic
Opini

Di Tengah Gaduhnya Negeri, Pendidikan Menjadi Jalan Harapan

3 September 2025
142
Img 20250824 Wa0037
Opini

SANKSI CHAT MESUM REKTOR UNM

24 Agustus 2025
246
Whatsapp Image 2025 12 24 At 20 08
Opini

Ketika Demokrasi Dibelenggu atas Nama Stabilitas Nasional

24 Desember 2025
51

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi