Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Tasawuf sebagai Ideologi Perlawanan Syekh Yusuf Al-Makassary dan Anti Kolonialisme Abad XVII

Pataka Eja by Pataka Eja
12 Januari 2026
in Esai
0
Whatsapp Image 2026 01 12 At 18 08

Oleh: Edi Kurniawan


Dalam sejarah Islam Nusantara, tasawuf sering dipersepsikan sebagai jalan sunyi penuh dan keterasingan dari hiruk-pikuk dunia. Namun figur Syekh Yusuf al-Makassary mematahkan stereotip ini. Lahir sebagai pemikir neo-sufisme agung, pemimpin politik, panglima perang, dan ideolog perlawanan terhadap kolonialisme.

Bagi Syekh Yusuf, spiritualitas dan perlawanan tidak berdiri berseberangan, melainkan menyatu dalam etika tauhid, bahwa tidak ada kekuasaan yang absolut selain Sang Maha Pencipta. Syekh Yusuf Al-Makassary begitu mahfum bahwa tasawuf tidak lagi menjadi pelarian dari dunia, tetapi berfungsi sebagai senjata moral melawan penindasan.

Etika Tauhid dan Pemberontakan Melawan Kekuasaan Absolut

Akar perlawanan Syekh Yusuf lahir dari tauhid, bukan sentimen dan propaganda etnis. Baginya, tauhid tak cukup sebagai pengakuan bahwa Tuhan itu satu, melainkan penolakan terhadap segala bentuk “penuhanan” selain Allah. Kekuasaan kolonial, dalam pandangannya, adalah bentuk syirik sosial. Manusia, kekayaan dan senjata dijadikan “tuhan-tuhan kecil” yang menindas umat dan menentukan nasib bangsa yang tertindas.

VOC tak lagi sebatas kekuatan ekonomi, melainkan simbol dominasi yang memaksa manusia agar tunduk pada kekuasaan asing. Menolak VOC bukan hanya tindakan politik, tetapi kewajiban secara teologis, perintah moral yang lahir dari keyakinan bahwa hanya Allah yang berhak menjadi pusat ketaatan dan ketundukan.

Dari prinsip nilai tauhid inilah tasawuf Syekh Yusuf berkembang menjadi ideologi pembebasan. Setiap ajaran spiritual menjadi senjata moral menentang penindasan, menyatukan spirit dan perlawanan dalam satu gerakan etis dan revolusioner. Pesan ini tetap relevan hingga hari ini.

Keyakinan yang tulus harus melahirkan keberanian sosial melawan ketidakadilan, melawan tirani dan menolak segala bentuk kekuasaan absolut yang mengekang martabat manusia. Tauhid adalah landasan batin dan pondasi revolusi moral-sosial, menegaskan bahwa spiritualitas sejati selalu berpihak pada kemerdekaan dan keadilan.

Sufisme dan Revolusi Kehidupan yang Mengubah Dunia

Syekh Yusuf al-Makassary menegaskan bahwa tasawuf sejati tidak berhenti di ruang batin, melainkan merambah ke dunia nyata sebagai kekuatan moral dan sosial. Dalam kehidupannya sebagai guru spiritual, sosok mufti kerajaan dan panglima perang melawan VOC, menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah menuntut tindakan yang berani, bahwa keimanan tanpa aksi sosial hanyalah ilusi spiritual. Setiap langkahnya adalah manifestasi tasawuf yang menjadi revolusi kehidupan, dimana spiritualitas dan tanggung jawab sosial menyatu dalam misi moral yang utuh.

Yang membuat perjuangan Syekh Yusuf berbeda adalah perlawanan moral yang universal. Tidak menyerukan perang atas nama fanatisme tarekat, etnis ataupun nasionalisme secara sempit dan kaku, terus memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Tasawufnya mengajarkan bahwa semakin tinggi kedekatan seseorang kepada Tuhan, semakin besar tanggung jawabnya untuk membela yang tertindas.

Dari tanah Makassar hingga Cape Town, dari pengasingan hingga pengaruh global, Syekh Yusuf membuktikan bahwa spiritualitas yang dalam dapat menggerakkan revolusi sosial, dan seorang sufi sejati adalah mujahid kehidupan, melampaui ruang dan waktu. 8

Perlawanan Etis dan Revolusi Moral Tanpa Dendam

Syekh Yusuf al-Makassary memberikan pelajaran hidup bahwa perlawanan sejati tidak lahir dari kebencian, melainkan dari etika dan kesadaran moral. Bahkan setelah ditangkap dan diasingkan ke Sri Lanka maupun Afrika Selatan, ia tidak menulis satu pun risalah yang menyerang atau mengutuk Belanda.

Baginya, yang harus dilawan adalah struktur penindasan. Prinsip ini menegaskan bentuk perlawanan spiritual yang unik, menolak penjajahan sambil menjaga kebersihan jiwa, menolak tirani tanpa memupuk dendam pribadi.

Sikap ini membuatnya menjadi ancaman berbahaya bagi kolonialisme. VOC mungkin bisa memenjarakan tubuhnya, tetapi mereka tidak bisa menahan pengaruh gagasan dan keteladanan moralnya. Tasawufnya menjadi senjata tak terlihat, membebaskan pikiran dan hati, menggerakkan revolusi moral melalui keimanan, keteladanan dan keberanian etis. Syekh Yusuf membuktikan bahwa kekuatan spiritual yang tulus dapat melampaui batas fisik dan waktu, mengajarkan bahwa revolusi sejati lahir dari prinsip, bukan dari amarah.

Tasawuf sebagai Gerakan Perlawanan Internasional

Pengasingan Syekh Yusuf dari Nusantara ke Sri Lanka (Ceylon) lalu ke Afrika Selatan (Cape Town) bukanlah akhir dari pengaruhnya, justru menjadi panggung global bagi ajaran tasawufnya. Di tanah asing uang baru, jauh dari kampung halaman dan pusat kekuasaannya, ia menapak sebagai bapak spiritual komunitas Muslim yang menggagas sebagai “Pahlawan Aphartheid”.

Islam di Cape Town bukan diwariskan melalui dominasi politik atau penaklukan, melainkan jiwa keteladanan seorang sufi buangan, seorang pejuang yang mengubah penderitaan pribadi menjadi kekuatan moralitas yang menyatukan umat manusia di tanah camp pengasingan.

Yang luar biasa, Syekh Yusuf adalah ulama Nusantara pertama yang memformulasikan tasawuf sebagai gerakan universal perlawanan. Melawan ketidakadilan dan penindasan yang melampaui batas geografis dan ruang- ruang sejarah. Dalam visinya, tasawuf semata jalan batin menuju Tuhan, melainkan senjata mematikan untuk menggerakkan etika, moral, dan keadilan di panggung dunia.

Syekh Yusuf al-Makassary membuktikan satu kebenaran secara epik.  Sosok sufi tidak perlu memilih antara sajadah dan medan perang, antara zikir dan keadilan. Di dalam dirinya, spiritualitas dan perlawanan menyatu, menjadi gerakan yang menegaskan, menuntut keberanian sosial. Tasawuf bukan pelarian atas sejarah, melainkan intervensi secara ilahiyah yang mengubah alur geopolitik dan panggung perjuangan setelahnya.

Lebih dari tiga abad sejak wafatnya, Syekh Yusuf tetap berdiri, tak hanya sebagai ulama, tetapi sebagai simbol abadi bahwa keyakinan sejati selalu berpihak pada kemerdekaan manusia, pada perlawanan terhadap segala bentuk penindasan dan absolutisme. Ia mengajarkan dunia bahwa spiritualitas yang otentik tidak menunggu izin dari kekuasaan, melainkan tindakan, keberanian dan revolusi moral.

Referensi:

  1. Al-Hilali, Taqiuddin Muhammad, & Khan, Muhammad Muhsin. Interpretation of the Meanings of the Noble Qur’an in the English Language. Riyadh-Saudi Arabia: Dar-us-Salam Publications, 1995.
  2. Azra, Azyumardi. The Transmission of Islamic Reformism to Indonesian: Networks of Middle Eastern Malay-Indonesian “Ulama” in the Seventeenth and Eighteenth Century. Dissertation, Columbia University: UMI, 1992.
  3. Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Akar Pembaruan Islam di Indonesia. Edisi Revisi. Jakarta: Kencana, 2007.
  4. Azra, Azyumardi. Shaykh Yῡsuf: His Role in Indonesia and South Africa. Paper presented at “One-day Seminar on Slavery and Political Exile.” Cape Town, South Africa: Slave Lodge, the Iziko Museums, March 23, 2005.
  5. Cence, A.A. “Pemujaan Syeikh Yῡsuf di Sulawesi Selatan.” In Sejarah Lokal di Indonesia, edited by Taufiq Abdullah. Yogyakarta: UGM, 1979.
  6. “Perjuangan Syeikh Yusuf Taj al-Khalwati.” Almanak Muhammadiyah XX, 1959/1960.
  7. Transcriptie Van De Lontara Bilang of Het Dagboek der Vorsten Van Gowa en Tallo. S. Graven Hage: Volksdrukkerij, 1877.
  8. Lubis, Nabilah. Syekh Yusuf al-Taj al-Makasari: Menyingkap Intisari Segala Rahasia. Bandung: Mizan, 1996.
  9. Mulyati Sri, Hj.MA. Dr. Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia. Jakarta: Prenada Media, 2004.
  10. Daeng Magassing, Nuruddin. Riwayatna Tuanta Salamaka Sehe Yusufu. Makassar: Volksdrukkerij, 1933.
  11. Sahib, Muzdalifah. Sheikh Yusuf al-Maqassary, His Religious Mystic’s Ideas in Indonesian and South African Scholars Works with Special Reference to Mathalib al-Sālikῑn Treatise. Unpublished research, Leiden University, 2011.
  12. Sahib, Muzdalifah. Sheikh Yusuf al-Maqassary dan Pembaruannya dalam Asme. Makassar: Yayasan al-Mahasin, 2016.
  13. Sahib, Muzdalifah. Shaykh Yῡsuf al-Maqassarῑ: His Life Story as a National Hero from Gowa, South Sulawesi to Cape Town, South Africa and a Reformer in the Islamic Mystic World. Revised Edition, Makassar: Alauddin University Press, 2014.
  14. Sultan Sahib. Syeikh Yusuf Tuanta Salamaka: the Sufi Islamic Scholar, the Warrior of the Seventeenth Century and the National Hero of Two Countries. Translated and Edited by Muzdalifah Sahib, Makassar: YAPMA, 2006.
  15. Sultan Sahib. Allāh dan Jalan Mendekatkan Diri Kepada-Nya dalam Konsepsi Syeikh Yusuf. Edited by Dra.Hj. Muzdalifah Sahib, M.Hum, Makassar: YAPMA, 2008.
  16. Syeikh Yusuf Makassar: Riwayat dan Ajarannya. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press), 1997.
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img
Esai

Implikasi Ketidakadilan Gender dan Pernikahan Dini: Dampak Sosial dan Psikologis bagi Perempuan di Indonesia

31 Juli 2024
76
Whatsapp Image 2024
Esai

Harmoni Dalam Perbedaan: Merajut Keindahan Beragama di Negara Multikulturalisme

28 Juli 2024
55
Whatsapp Image 2025 10 08 At 14 43
Esai

Jingara’ dan Genealogi Pengetahuan Islam: Membaca Ulang Kedaulatan Ekonomi-Politik Kerajaan Gowa-Tallo dalam Bingkai Dekolonisasi

8 Oktober 2025
122
Whatsapp Image 2025 07 26 At 18 09
Esai

Tubuh, Kuasa, dan Kekerasan: Membongkar Kekerasan Seksual lewat Kacamata Foucault

26 Juli 2025
57

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi