Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Ragam

Tadarus Sastra Bahas “Konspirasa di Titik ب”, Narasi Mitos, Filsafat, dan Kritik Sosial

Pataka Eja by Pataka Eja
14 Maret 2026
in Ragam
0
Whatsapp Image 2026 03 14 At 23 23

Pataka Eja — Kegiatan Tadarus Sastra yang digelar UKM Seni Budaya eSA pada Jumat malam (13/3) di Aula Kementerian Agama Kabupaten Gowa menghadirkan dialog reflektif bertajuk “Konspirasa di Titik ب”. 

Forum yang berlangsung sejak pukul 21.00 hingga menjelang sahur ini mempertemukan sejumlah narasumber dari latar akademik dan kebudayaan untuk membaca fenomena sosial kontemporer melalui pendekatan historis, filosofis, dan kultural.

Dialog menghadirkan Dr. Muhsin, M.Ag, Pdt. Dr. Diks S. Pasande, M.Th, dan Aslan Abidin, dengan moderator Gunawan Hatmin, S.Ag., M.Ag.

Dalam pemaparannya, Dr. Muhsin, M.Ag melihat tema titik Ba (ب) dari sudut pandang historis. Ia menjelaskan bahwa dalam perkembangan tradisi keilmuan Islam, tanda titik pada huruf Arab tidak selalu hadir sejak awal, melainkan melalui proses historis yang panjang dalam sistem penulisan bahasa Arab.

Dalam perjalanan waktu, menurutnya, simbol kecil tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda fonetik, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari narasi simbolik dalam tradisi intelektual dan spiritual. Dalam beberapa tradisi pemikiran sufistik, titik pada huruf Ba bahkan dimaknai sebagai simbol metafisik yang merepresentasikan awal pengetahuan dan kesadaran.

Ia menyinggung bahwa dalam khazanah sufisme, titik sering dibaca sebagai simbol yang mengandung makna kosmologis—sebuah metafora tentang asal mula pengetahuan yang kemudian berkembang dalam berbagai tafsir mistik.

Sementara itu, Pdt. Dr. Diks S. Pasande, M.Th membuka percakapan dengan mengaitkan tema diskusi pada dinamika geopolitik global. Ia menyinggung konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sebagai contoh bagaimana suatu peristiwa sering kali diproduksi dalam berbagai narasi kekuasaan.

Menurutnya, dalam banyak kasus, peristiwa politik global tidak hanya berlangsung sebagai fakta historis, tetapi juga sebagai konstruksi narasi yang dibangun oleh otoritas tertentu. Dalam konteks inilah gagasan konspirasi sering muncul—baik sebagai kritik terhadap kekuasaan maupun sebagai respons masyarakat terhadap informasi yang tidak selalu transparan.

Untuk membaca fenomena tersebut, ia merujuk pada berbagai tradisi filsafat Barat, mulai dari pemikiran Martin Heidegger, Immanuel Kant, hingga Arthur Schopenhauer, serta sejumlah filsuf Jerman lainnya. Referensi tersebut digunakan untuk menunjukkan bagaimana tradisi filsafat mencoba memahami hubungan antara realitas, pengetahuan, dan cara manusia memaknai dunia.

Menurutnya, fenomena konspirasi tidak bisa semata-mata dibaca sebagai spekulasi, tetapi juga sebagai gejala epistemologis tentang bagaimana manusia mencari makna di tengah kompleksitas realitas sosial dan politik.

Sementara itu, Aslan Abidin membawa diskusi ke dalam konteks kehidupan sosial mahasiswa dan dunia akademik. Ia menyoroti berbagai gejala yang muncul di lingkungan pendidikan tinggi, mulai dari rendahnya minat membaca hingga kecenderungan mahasiswa untuk menghindari sikap kritis dalam menghadapi berbagai persoalan sosial.

Menurutnya, budaya akademik seharusnya menjadi ruang untuk melatih keberanian berpikir, mempertanyakan, dan mengembangkan argumentasi. Namun dalam kenyataannya, tidak sedikit mahasiswa yang justru merasa ragu untuk menyampaikan gagasan kritis karena berbagai faktor, termasuk tekanan sosial maupun kebiasaan intelektual yang kurang terbangun.

Ia menegaskan bahwa sastra dan diskusi kebudayaan dapat menjadi ruang alternatif untuk menghidupkan kembali keberanian intelektual tersebut. Melalui bahasa simbolik dan refleksi pengalaman manusia, sastra mampu membuka cara pandang baru dalam membaca realitas sosial.

Dialog yang berlangsung hingga larut malam itu memperlihatkan bagaimana tema “Konspirasa di Titik ب” dapat dibaca dari berbagai perspektif—mulai dari sejarah pengetahuan, filsafat, hingga kritik terhadap dinamika sosial kontemporer.

Selain dialog intelektual, kegiatan ini juga diisi dengan pementasan artistik berupa monolog, musik akustik, serta pembacaan puisi yang memperkaya suasana refleksi Ramadan. 

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sahur bersama sebagai ruang perjumpaan informal antara narasumber, peserta, dan komunitas sastra yang hadir.

Melalui forum seperti ini, Tadarus Sastra diharapkan terus menjadi ruang dialog kebudayaan yang mempertemukan refleksi intelektual, ekspresi artistik, dan kesadaran sosial dalam satu perjumpaan yang terbuka.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

6a630f8284ad8
Ragam

Enam Santri MTs Sultan Hasanuddin Gowa Lolos Seleksi OSN Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 

25 Juli 2026
99
Whatsapp Image 2025 12 10 At 08 53
Ragam

Menuju MUBES HIPMA Gowa, Pengurus Gelar Audiensi Bersama Bupati Gowa

10 Desember 2025
307
Img 20260214 Wa0037
Ragam

ICMI Muda Gowa Resmi Dibentuk, Perkuat Jejaring Intelektual Muslim di Kabupaten Gowa

14 Februari 2026
176
Img 20260301 Wa0025
Ragam

Dialog & Buka Puasa HMI Cabang Gowa Raya: Dorong Penyelesaian Konstitusional dan Integrasi Gerakan

1 Maret 2026
56

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi