Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Pengaruh Teknologi Digital terhadap Penyebaran Agama: Tantangan dan Solusi di Era Informasi

Internet telah menjadi unsur utama serta referensi kehidupan manusia di muka bumi. Berbagai macam aktivitas dan kegiatan manusia tidak lagi bisa dipisahkan dari buah kemutakhiran pengetahuan manusia ini.

Pataka Eja by Pataka Eja
9 Agustus 2024
in Esai
0
Whatsapp Image 2024 08 07 At 18 02

Dokumen Pribadi Nurhayati

Oleh: Nurhayati


Perkembangan zaman yang telah terjadi sekarang ini sungguh sangat signifikan dan memberikan pengaruh besar pada kehidupan manusia. Sebelum adanya teknologi, manusia selalu melakukan segala hal secara manual baik itu dalam hal bepergian, melakukan pekerjaan hingga ke komunikasi.

Di era 4.0 ini, teknologi digital sudah sangat mendominasi manusia yang membuat komunikasi menjadi sangat mudah. Dulu manusia ketika ingin berbicara pada individu lain, harus bertemu dulu secara langsung atau biasa juga dilakukan dengan cara mengirimkan surat.

Tetapi sekarang ini, manusia tinggal duduk manis, baring di rumah, memainkan gawainya untuk berbicara ataupun berkomunikasi dengan individu lain.

Perkembangan teknologi juga sangat mempengaruhi penyebaran ajaran agama-agama di dunia. Yang dulunya agama disebarkan secara langsung dari tempat ke tempat, sekarang ajaran agama bisa disebarkan melalui teknologi, khususnya internet.

Pergeseran teknologi menjadi sangat bermanfaat bagi agama, tetapi perlu juga diingat bahwa tentunya akan ada dampak negatif dari hal tersebut. Dan dalam tulisan ini, kita akan sama-sama melihat seberapa besar dan banyak nya kontribusi teknologi digital bagi agama di zaman sekarang.

Media dan jejaring sosial di internet menjadi perpanjangan tangan pendakwah agama yang memilih untuk menyebarkan ajaran agama dengan mudah, efektif, dan juga efisien. Efek sosial yang ditimbulkan oleh media sosial tentunya akan sangat signifikan.

Masyarakat yang berasal dari berbagai lapisan dan tingkatan usia turut masuk ke dunia baru yang dirancang sebagai dunia kedua (second world). Maka berkembanglah istilah dunia maya (cyber space/virtual space) untuk mengidentifikasi dunia baru ini.

Dunia virtual merupakan sebuah dunia dengan ruang interaksi yang tak lagi dibatasi oleh batas-batas spasial. Inilah dunia yang mampu  membuat manusia terpana, bahkan untuk waktu yang lama.

Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berselancar di dunia maya. Menemukan segala hal yang mungkin ada dalam dunia tersebut. (M. Fadlan L. Nasurung, 2020).

Internet telah menjadi unsur utama serta referensi kehidupan manusia di muka bumi. Berbagai macam aktivitas dan kegiatan manusia tidak lagi bisa dipisahkan dari buah kemutakhiran pengetahuan manusia ini.

Internet tak hanya menjadi ruang interaksi dan menjadi sumber pencarian informasi terkini. Melainkan internet di zaman sekarang ini telah menjadi sumber utama referensi manusia dalam mencari kebenaran, dengan mengandalkan kecanggihan akses informasi yang efektif dan juga efisien.

Konstruk nalar yang dibangun dengan hanya mengandalkan sebuah informasi dari media sosial saja, akan membentuk pola pikir manusia yang praktis dan juga berangkat dari segala hal yang sedang hangat diperbincangkan di media sosial.

Hal ini yang menjadikan cara berpikir seorang manusia dalam menjalani kehidupan akan sangat dangkal. Akibat dari hal tersebut, manusia akan dengan cepat memakan informasi tanpa adanya perbandingan dan juga riset terlebih dahulu untuk menguji validitas dari informasi yang diperoleh. Mudahnya penyebaran informasi juga akan sangat mempengaruhi agama.

Dalam konteks penyebaran agama melalui media sosial, tentu akan sangat menjadi ancaman yang perlu diperhitungkan. Siapa saja bisa menjadi sumber informan penyebaran dogma agama di media sosial tanpa perlu adanya jabatan dan lain sebagainya yang harus dimiliki terlebih dahulu.

Keakuratan informasi dan juga ajaran agama yang disebarkan tentu perlu dipertanyakan. Akan tetapi mengingat kembali bahwa siapa saja menjadi informan di media sosial, tentu akan sangat menyulitkan kita sebagai pembaca untuk mempercayai informasi dari ajaran agama yang benar.

Dan letak unsur permasalahannya adalah tak semua masyarakat Indonesia memahami hal tersebut, bahwa segala informasi yang tersebar di media sosial masih harus diragukan kebenarannya.

Penanaman pemahaman mengenai pentingnya menyaring informasi yang baik dan benar tentu sangat penting untuk diterapkan pada masyarakat. Terlebih lagi banyak sekali oknum-oknum di media sosial sekarang ini yang memang ingin menyalahgunakan internet sebagai media penyebaran informasi dengan cara menyebarkan ajaran agama-agama yang salah dan juga melenceng dari syariat yang seharusnya.

Nichols dalam bukunya yang berjudul Matinya Kepakaran mengemukakan bahwa, Internet mengizinkan satu miliar bunga mekar, namun sebagian besarnya busuk, mulai dari pikiran iseng para penulis blog, teori konspirasi orang-orang aneh, hingga penyebaran informasi bohong oleh berbagai kelompok. (Hal. 130-131).

Hal seperti yang dijelaskan di atas lebih tepatnya juga disebut sebagai suatu fenomena hoax.

Penyebaran informasi hoax terlebih untuk ajaran agama tentunya sangat meresahkan bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan informasi hoax atau keliru mengenai ajaran agama yang diperoleh di media sosial kemudian diterapkan di dunia nyata akan sangat merugikan bagi masyarakat itu sendiri dan juga menodai ajaran agama yang bersifat transendental.

Syariat agama yang memiliki sifat transendental tak sepantasnya dinodai dengan cara penyebaran ajaran syariat yang keliru dengan mengatasnamakan agama tertentu. Tugas menjaga kebenaran syariat agama adalah tugas seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Digitalisasi di dunia maya yang meresahkan, sudah tentunya harus kita waspadai bersama-sama. Jangan memakan informasi di internet dengan mudah. Lihatlah informasi dengan berimbang, tak sekadar mengikuti naluri yang kita percaya.

Lakukanlah riset lebih dalam mengenai informasi yang diperoleh di media sosial agar terhindar dari informasi hoax. Terakhir, perbanyaklah membaca buku. 

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20251201 Wa0002
Esai

Menjaga Kesehatan Mahasiswa Pendidikan di Masa Pancaroba

1 Desember 2025
45
Img
Esai

Implikasi Ketidakadilan Gender dan Pernikahan Dini: Dampak Sosial dan Psikologis bagi Perempuan di Indonesia

31 Juli 2024
72
Whatsapp Image 2024
Esai

Sejarah Integrasi Agama dan Sains

2 Agustus 2024
44
Whatsapp Image 2025 10 17 At 22 52
Esai

Daeng Mangalle Sang Diplomasi Politik dari  Bangsawan Gowa di Negeri Siam Abad XVII

20 Oktober 2025
130

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi