Oleh: Surahmat Tiro
Kedatangan agama Islam dan Kristen di Sulawesi Selatan bisa dikatakan hampir bersamaan. Proses tersebut sepertinya tidak terlepas dari kedatangan pedagang melayu Muslim dan misionaris Kristen di Kerajaan Gowa (Somba Opu). Meskipun dalam proses penyebarluasannya dilakukan tidak bersamaan.
Mukhaer Afkar (2021) mengatakan kristenisasi di Sulawesi Selatan mulai berlangsung sejak tahun 1538 yang dilakukan oleh kalangan Jesut melalui Panther Manule d’La Costa. Meskipun lebih dahulu melakukan kristenisasi setelah pertemuannya dengan bangsawan Gowa dan Portugis di Ternate tahun 1537. Merujuk laporan Portugis yang menginformasikan bahwa sudah banyak bangsawan Gowa yang memeluk agama Kristen dan tidak sedikit dari mereka telah memeluknya sebagai ajaran agama.
Antonio de Payya seorang pedagang dan misionaris Portugis dari Malaka, satu dekade setelah pertemuan tersebut mendatangi Kerajaan Suppa dekat Pare-Pare, karena mendapat mandat dari Gubernur Portugis di Ternate untuk menyebarkan dan memperkuat agama Katolik di Sulawesi Selatan. De Payya berhasil mengkristenkan raja Suppa yakni Datu Suppa La Makkarawie dengan nama baptis Don Luis.
Kemudian Raja Siang (Wilayah Pankep) diberi nama Don Juan. Bersamaan dengan beberapa penduduknya berhasil dikristenkan, namun tidak berlangsung lama. Pada tahun 1542 De Payya mencatat yang dikutip Pelras bahwa misi Katolik yang diembannya tidak berhasil, sebab pedangan Melayu Islam.
Tidak masifnya krisetenisasi di Sulawesi Selatan bisa dikatakan karena di bawah langsung dari Portugis. Hal demikian dapat dilihat dari masa kepemimpinan Tumaparrisi’ Kallonna sebagai raja ke-IX Gowa tidak terlalu memberikan ruang bagi etnis asing selain yang dianggap serumpun seperti Jawa, Sumatera, dan Malaka.
Karena dari itulah para pedagang Melayu muslim mendapat tempat istimewa di Somba Opu. Bersamaan dengan itu, etnis Patani, Pahang, Champa dan Johor juga ikut menetap di Somba Opu dan mendapat kebebasan menjalankan agama islam di kerajaan.
Islam mulai disebarkan secara resmi di Sulawesi Selatan setelah perjanjian Sultan Ternate Baabullah dengan Raja Gowa Tunijallo tahun 1580. Dari pernjanjian tersebut terjadi penyerahan Selayar kepada Gowa. Penguasa ke-XII Kerajaan Gowa ini, memang dianggap dekat dengan penguasa Islam di Nusantara seperti Jawa, Johor, Malaka, Pahang, Banjar, dan Maluku.
Satu Abad berlalu orang Melayu Islam di Somba Opu mendengar kabar bahwa Raja Gowa diperhadapkan dua pilihan agama. Komunitas Melayu muslim mulai khawatir, kemudian meminta kepada Sultan Muda Alauddin Riayat Syah untuk mengajak ulama ke Sulawesi Selatan.
Dalam prosesnya, diutus tiga datuk Dato Tallua. Ketiga datuk berasal dari Sumatera Barat yang mendapatkan Pendidikan agama di Zawiyah, yang terkenal memiliki pengalaman dalam menyebarkan Islam di kampung-kampung Minangkabau.
Perjalanan tiga datuk menuju Pelabuhan Somba Opu pada awal abad ke-XVIII. Namun, sebelum tiba di Somba Opu, ketiga datuk tersebut menyempatkan diri singgah di Riau kemudian ke Johor. Selama di Riau dan Johor, ketiga datuk tersebut mempelajari budaya masyarakat Sulawesi Selatan dari pelaut Bugis-Makassar.
Ketiga datuk tersebut, menggunakan beberapa cara dalam menyebarkan Islam di Sulawesi Selatan.
Pertama melalui jalur politik seperti mengislamkan raja Luwu yang memiliki kekuatan penting dalam hal keagamaan di Sulawesi Selatan.
Berdasrkan Lontara Sukku’na Wajo, mengisahkan datuk Patimang berhasil mengislamkan Lapatiware Daeng Parabu sebagai Pajung Luwu ke XV pada tahun 1603.
Kedua, menggunakan jalur teologis yang menggunakan pendekatan akidah Islam dengan Dewata SewaE yang dipercayai oleh penguasa dan rakyat Luwu.
Ketika Raja Luwu menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan, menyusul Kerajaan Tallo berhasil di islamkan oleh Datuk ri Bandang dan gerakan islamisasi di kerajaan Bugis-Makassar mulai aktif dilakukan mulai tahun 1603-1612 dan berhasil menjadikan islam sebagai agama resmi kerajaan di Sulawesi Selatan.
Perang Islamisasi (Musu’ Selleng) di Bugis
Ambisi Gowa untuk menguasai kerajaan Bugis terkhusus Bone, dalam konteks politik, agowa menjadikan islamisasi sebagai alat. Raja Gowa ke-XIV I Manga’rangi Daeng Manra’bi Sultan Alauddin, bersama Mangkabumi I Mallingkang Daeng Manyonri pasca negosiasi dengan Raja Bone untuk memeluk agama yang sama, tetapi Bone menolak, kemudian Soppeng yang merupakan bagian dari kerajaan Bugis menginisiasi untuk membentuk koalisi untuk menolak ajakan tersebut dengan nama “PoccoE”.
Terdapat tiga Kerajaan Bugis yang bergabung dalam PoccoE yakni Bone, Soppeng, dan Wajo. Hal demikian memicu kedua tokoh kerajaan Makassar tersebut ke Bone yang didampingi 20.000 prajurit dan terjadilah perang (Musu’ Selleng) untuk memaksa kerajaan Bugis untuk memeluk islam dan kerajaan Wajo, Soppeng kalah dan telah berada di bawah kekuasaan Gowa.
Sebelum perang terjadi, meskipun raja Bone ke -XI La Tenriruwa Sultan Adam Mantinroe ri Bantaeng sudah memeluk islam tetapi rakyat dan Ade’ Pitue di Bone menolak untuk memeluk islam. Alasan penolakan tersebut dianggap sebagai suatu taktik yang dilakukan oleh Gowa dalam rangka menguasai Bone. Rakyat Bone dan Pade’ Pitu melihat yang terjadi pasca penaklukan Soppeng dan Wajo.
Karena perang tersebut semua rumah penduduk di Lalebbata sebagai Ibu Kota Kerajaan Bone dibumi hanguskan. Dari penyerangan tersebut, menjadi penyebab La Tenripale sebagai pengganti La Tenriruwa Sultan Adam, menyerah dan kalah atas serangan Gowa, kemudian rakyat Bone menerima islam. Pada akhirnya kerajaan Bone dijadikan sebagai bawahan kekuasaan Gowa pada tahun 1611.
Kerajaan Bone, menerima Islam dengan tekanan militer, selama setengah abad lebih yang dimulai pada tahun 1562 dan berhasil ditaklukkan melalui perang Islam tahun 1611, kemudian di bawah kontrol Gowa selama 32 tahun. La Tenripale yang bergelar Sultan Abdullah menerima islam secara langsung dari raja Gowa Sultan Alauddin di Tallo. Mengislamkan raja Bone di Tallo karena berdasarkan pertimbangan memperdalam pengetahuan islam dari Datuk ri Bandang.
Referensi:
- Moh Natsir dkk. Keperbukalaan Islam di Sulawesi Selatan. Makassar: Balai Pelestarian Peninggalan Pubakala Makassar, 2019.
- Mukhaer, Proses Kristenisasi dan Islamisasi Sulawesi Selatan yang beriringan,2021.https://nationalgeographic.grid.id/read/132993907/proses-kristenisasi-dan-islamisasi-sulawesi-selatan-yang-beriringan
- Thomas Gibson, Narasi Islam dan Otoritas di Asia Tenggara: Dari Abad ke-16 Hingga Abad Ke-20, 2012, Inninawa.
- James P. Spradley, Metode Etnografi, Pt Tiara Wacana (TWY), Yogyakarta, 1997.
- W.F. Wertheim, Masyarakat Indonesia Dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial, PT. Tiara, 1999, Yogya.
- Muhtar Yunus dkk, Kearifan Lokal untuk Perdaban Global, Melacak Filosofi Nilai Kearifan Lokal Towani Tolotang dan Peranannya Terhadap Peguatan Nilai-Nilai Kebhinekaan di Indonesia, 2019. Pare-Pare
*Penulis merupakan penelitian sosial-budaya di Cita Tanah Mahardika




