Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Menyentuh Pelosok Di Usia Dewasa Muda: Cerita Anak Pelosok Batch 26

Pataka Eja by Pataka Eja
27 Oktober 2026
in Opini, Ragam
0
20261013082000 Img

Oleh: A. Zahraturugaisyiyah

Di umur seperempat abad yang sudah memasuki fase dewasa muda (early adulthood) tentunya memiliki struggle tersendiri ketika mengikuti kegiatan relawan mengajar, kalau waktu bisa di putar mungkin penulis akan mengikuti kegiatan ini saat masih menjadi mahasiswa baru di kampus, tapi takdir berkata lain. Jalan hidup membawa penulis justru di usia yang sudah lebih dewasa secara formal, namun masih penuh pertanyaan tentang arah dan makna.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh salah satu komunitas relawan mengajar yang cukup besar yakni Guru untuk Bangsaku (GUB). Kegiatan ini termasuk kedalam program utama GUB yang dinamai sebagai Cerita Anak Pelosok (CAP). Disini penulis mengikuti CAP batch 26 yang dilaksanakan pada tanggal 22- 25 Oktober 2026 yang berlokasi di Desa Bontomanurung, Dusun Makmur, kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros.

Ini pertama kalinya penulis mengikuti komunitas relawan mengajar seperti ini. Rasanya seperti pergi KKN tapi versi lite. Bedanya ini hanya waktu singkat tapi dengan konsep yang lebih rumit karena kita harus mempunyai media ajar dan harus di sesuaikan dengan kemampuan anak-anak yang ada disana.

Pembekalan CAP Batch 26 yang Berarti

Sebelum terjun ke lokasi para calon volunteer (calvon) di beri pembekalan berupa meet up 1 sampai meet up 4 dengan tujuan tertentu di setiap meet up–nya. Bahkan di meet up tiga para calon volunteer diberikan simulasi mengajar anak-anak yang tinggal di jalan seruni yang ada di makassar.

Ketika meet up 2 pembagian kelompok, penulis mendapatkan kelompok paus (level 3), yaitu mengajar anak-anak yang berada di kelas 5 dan 6. Penulis mengajar mata pelajaran matematika dengan indikator siswa harus mampu melakukan perkalian 1 sampai 5. Indikator yang di berikan oleh bagian kurikulum GUB tentu saja bukan hanya asal menyusun indikator saja namun sebelum kegiatan, mereka turun di lokasi dan observasi kemampuan anak-anak disana, maka tersusunlah indikator tersebut.

Energi yang Saling Menopang

Penulis di kelompok paus bersama dengan calon volunteer lain, ada tiga perempuan yang keren yaitu; ada Kak Inayah, orangnya lemah lembut, disaat orang baru bersiap-siap pergi mengajar, beliau sudah berinteraksi dengan anak-anak yang akan di ajar (i think she is will be a loving mom). Ada juga kak Herda dan Kak Husnul, beliau orang-orang yang penuh energi dan cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar, mereka mampu meluluhkan hati anak-anak yang awalnya malu-malu di kelompok lain tapi ketika berada di kelompok paus, mereka bisa belajar dan membuat mereka antusias belajar.

Merekalah salah satu alasan penulis bisa survived dan bisa mengajar dengan semaksimal mungkin, dengan media ajar serta energi yang sangat terbatas.

Tidak Ada Anak yang Tidak Mau Belajar

Selama berada di lokasi penulis tersadar bahwa tidak ada anak-anak yang tidak mau belajar hanya saja mereka belum menemukan kenyamanan dalam proses belajar. Disini para calvon dituntut memahami kebutuhan dan ketertarikan, dan emosional anak-anak. Dan tentunya harus sigap membaca situasi yang terjadi di lingkungan itu.

Karakter anak-anak disana tentunya bervariasi tergantung bagaimana mereka di didik oleh lingkungan mereka sendiri. Mulai dari yang harus selalu belajar sama-sama temannya walaupun level kemampuan mereka berbeda karena jika mereka dipisahkan di kelompok lain, antusias belajar mereka bisa tiba-tiba drop bahkan bisa langsung pulang ke rumah.

Ada anak-anak yang pandai di mata pelajaran tertentu seperti ada siswa kurang bisa membaca, tapi pintar di matematika yang ternyata anak tersebut selalu hitung uang (mungkin selalu jadi kasir).

Disana penulis mengajar dua orang siswa, pertama adalah seorang anak perempuan cantik yang bernama Sartuni. Anaknya manis yang awalnya pemalu namun tetap menunjukkan antusias selama proses pembelajaran serta mampu menangkap dengan cepat pelajaran.

Kedua, Adam yakni anak laki-laki yang ceria walapun gampang terdistraksi dengan kondisi sekitar. Cukup amazed, dengan anak ini karena awalnya dia tidak memahami sama sekali mengenai perkalian, tetapi ketika diberikan pemahaman dan cara kerja perkalian, anak ini langsung menangkap di saat itu juga serta dia gampang memahami pola. Mungkin pola inilah yang membuat Adam dapat langsung memahami cara kerja soal perkalian dasar.

Momen ketika Adam tiba-tiba “klik” menjadi salah satu yang paling diingat. Dari yang semula bingung, dalam hitungan menit ia sudah mampu mengikuti. Ada kepuasan tersendiri melihat wajah seorang anak yang awalnya kosong menjadi penuh semangat. Di sisi lain, Sartuni mengajarkan tentang kesabaran dan kelembutan. Keduanya, dengan caranya masing-masing, menjadi cermin bahwa setiap anak membawa keunikan yang layak dihargai.

Sebuah refleksi di usia seperempat abad

Mengikuti CAP batch 26 di usia yang sudah memasuki early adulthood memberikan warna tersendiri. Di satu sisi, ada rasa “terlambat” dibanding jika mengikuti sejak mahasiswa baru. Di sisi lain, ada kedewasaan yang membuat penulis lebih mampu membaca situasi, lebih sabar menghadapi tantangan, dan lebih sadar bahwa impact tidak selalu diukur dari lamanya waktu, melainkan dari kedalaman interaksi.

Dari semua ini, tentunya penulis sangat berterimakasih ke semua orang yang terlibat dalam kegiatan ini, mulai dari kakak-kakak panitia dan pengurus GUB, masyarkat yang ada di Dusun Makmur dan tentunya specially thanks to teman-teman CAP 26 dan kelompok paus yang telah menjadi teman perjalanan kegiatan yang tak terlupakan ini.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 10 13 At 08 23
Ragam

Makkemah: Ruang Kebersamaan, Belajar dari Kesederhanaan

13 Oktober 2025
Whatsapp Image 2026 02 23 At 14 30
Opini

Di Bawah Bayang Seragam: Ada Pelaku Bernama Oknum

23 Februari 2026

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi