Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Fenomena Coffee Shop di Kota Palopo dan “FOMO” Generasi Muda dalam Menanggapi Tren Ngopi

Pataka Eja by Pataka Eja
11 Oktober 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 10 11 At 16 02

Oleh: Iqra Muslism Said (Sekretaris Jenderal PP IPMIL)

Ada pemandangan yang semakin mudah ditemukan di Kota Palopo yakni coffee shop tumbuh di berbagai sudut kota, sementara meja-mejanya dipenuhi anak muda dan pekerja yang datang silih berganti.

Kopi tidak lagi sekadar minuman untuk mengusir kantuk. Ia telah berubah menjadi bagian dari gaya hidup, ruang pertemuan, tempat bekerja, berdiskusi, mengerjakan tugas, bahkan menjadi latar untuk menunjukkan bahwa seseorang sedang menikmati kehidupan.

Secangkir kopi akhirnya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar rasa. Persoalannya kemudian bukan lagi tentang “apa yang diminum”, tetapi mengapa kita merasa harus terus berada di sana?

Fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya buruk. Coffee shop dapat menjadi ruang sosial yang mempertemukan banyak orang. Dari sana bisa lahir diskusi, komunitas, pekerjaan, bahkan gagasan-gagasan baru. Tetapi ketika aktivitas tersebut berubah menjadi rutinitas yang harus dilakukan hampir setiap hari, kita perlu mulai bertanya tentang motif di baliknya.

Apakah benar kita membutuhkan kopi setiap hari, atau kita takut tertinggal dari lingkungan pergaulan ketika tidak ikut nongkrong? Di sinilah istilah FOMO (fear of missing out) menjadi relevan. Keinginan untuk tidak merasa tertinggal dapat mendorong seseorang mengikuti aktivitas yang sebenarnya tidak selalu dibutuhkan.

Masalahnya menjadi lebih serius ketika gaya hidup mulai tidak seimbang dengan kemampuan ekonomi. Secangkir kopi mungkin terasa ringan jika hanya dibeli sesekali. Namun, pengeluaran yang kecil dan berulang sering kali justru menjadi pengeluaran yang tidak terasa. Bayangkan jika kebiasaan tersebut dilakukan hampir setiap hari.

Dalam sebulan, uang yang semula terlihat “hanya untuk kopi” dapat berubah menjadi jumlah yang cukup berarti. Bagi pekerja dengan penghasilan tetap, mungkin hal itu merupakan bagian dari anggaran hiburan.

Tetapi bagi anak muda yang belum memiliki pendapatan tetap, pertanyaannya menjadi lebih sederhana: uang untuk mempertahankan gaya hidup itu sebenarnya berasal dari mana?

Di sinilah budaya ngopi bertemu dengan budaya pencitraan. Media sosial membuat nongkrong di coffee shop tidak hanya menjadi pengalaman yang dijalani, tetapi juga sesuatu yang dapat dipertontonkan.

Foto meja dengan secangkir kopi, laptop, buku, atau sudut ruangan yang estetik seakan menjadi simbol produktivitas dan kehidupan yang menarik. Kita kemudian hidup dalam situasi yang agak paradoks: seseorang bisa terlihat sangat sibuk membangun masa depan di media sosial, tetapi pada saat yang sama tidak pernah benar-benar menghitung berapa banyak uang yang telah dihabiskan untuk mempertahankan citra tersebut. Kita terkadang bukan membeli kopi, melainkan membeli perasaan bahwa kita tidak tertinggal dari orang lain.

Namun, saya kira tidak adil jika seluruh fenomena ini kemudian dibebankan kepada coffee shop. Pelaku usaha hanya membaca kebutuhan pasar dan menyediakan ruang yang memang diminati masyarakat. Persoalannya berada pada bagaimana konsumen mengelola kebutuhannya sendiri.

Ngopi bukan masalah. Nongkrong juga bukan masalah. Bahkan menikmati hasil kerja sendiri adalah sesuatu yang wajar. Yang perlu dipikirkan adalah ketika keinginan untuk mengikuti tren membuat seseorang kehilangan kemampuan membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan tekanan sosial. Jangan sampai kita merasa harus hadir di setiap tempat hanya karena takut dianggap tidak mengikuti zaman.

Generasi muda memang tidak bisa dipisahkan dari tren. Setiap zaman mempunyai bentuk gaya hidupnya sendiri. Kalau dulu tempat berkumpul mungkin berada di warung kopi sederhana, kini coffee shop menawarkan konsep yang lebih beragam dan pengalaman yang lebih modern. Perubahan itu adalah bagian dari dinamika masyarakat.

Tetapi menjadi modern tidak seharusnya berarti kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri. Anak muda tidak harus membuktikan bahwa hidupnya baik-baik saja melalui secangkir kopi yang difoto dari sudut terbaik.

Ada kehidupan yang jauh lebih penting daripada apa yang terlihat di layar: pendidikan, pekerjaan, keluarga, tabungan, karya, dan masa depan yang sedang dibangun secara perlahan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan “bolehkah anak muda ngopi setiap hari?” Pertanyaan yang lebih penting adalah “apakah kita masih mengendalikan gaya hidup kita, atau justru gaya hidup yang mengendalikan kita?” Coffee shop boleh bertambah, tren boleh berganti, dan harga kopi boleh berubah.

Tetapi kemampuan mengelola diri seharusnya tidak ikut menjadi tren. Sebab hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling sibuk, paling estetik, atau paling sering nongkrong. Barangkali sesekali kita memang perlu keluar dari coffee shop, duduk sebentar di tempat yang lebih sederhana, lalu menghitung kembali: bukan berapa banyak kopi yang sudah kita minum, tetapi berapa banyak masa depan yang sedang kita siapkan dengan uang dan waktu yang kita punya.

ShareSendTweetShareSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 19 At 20 16
Opini

Ijazah Menjadi Tiket Kemiskinan: Krisis Pengangguran Sarjana di Gerbang Timur Menuju Titik Nadir

24 Desember 2025
Img 20250501
Opini

Di Lautan Perang Tarif Antara AS dan China, Akankah Indonesia Tenggelam atau Belajar Lebih Jauh?

1 Mei 2025

Rubrik

Ekonomi & Bisnis Esai Hukum & Kriminal Olahraga & Kesehatan Opini Prosa Puisi Ragam Resensi Sosial & Politik Sosok Uncategorized
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • News
    • Sosial & Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Ekonomi & Bisnis
    • Olahraga & Kesehatan
    • Ragam
    • Sosok
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi