Opini Oleh : Mawadda Rahma (Kabid Pendidikan dan pelatihan Korps HMI wati Cabang Makassar)
Sebagai sebuah usaha untuk merawat tradisi ilmiah di momentum Milad ke-60 Korps HMI-Wati (KOHATI), refleksi terhadap perjalanan lembaga ini menjadi sesuatu yang penting. Enam puluh tahun bukan sekadar angka yang layak dirayakan, melainkan rentang sejarah yang cukup panjang untuk bertanya kembali: ke mana KOHATI hendak diarahkan, dan nilai apa yang sesungguhnya sedang dibangun melalui proses pembinaannya?
Sejak didirikan pada tahun 1966, KOHATI memiliki latar belakang sejarah dan mandat perjuangan yang tidak sederhana. Selama enam dekade, KOHATI telah melahirkan banyak kader perempuan yang turut mewarnai perjalanan Himpunan Mahasiswa Islam maupun kehidupan masyarakat secara lebih luas. Kontribusi itu tidak hanya hadir dalam ruang internal organisasi, tetapi juga dalam berbagai lingkungan eksternal organisasi seperti ruang sosial, intelektual, dan kemasyarakatan.
Namun, perjalanan panjang semestinya tidak berhenti pada perayaan capaian sejarah. Sejarah harus menjadi ruang untuk melakukan evaluasi. Sebab organisasi yang besar bukanlah organisasi yang terbebas dari kritik, melainkan organisasi yang mampu menjadikan kritik sebagai bagian dari proses pembenahan dirinya.
KOHATI sebagai lembaga khusus HMI bukan semata-mata dibentuk untuk menunjang aktivitas HMI. Secara lebih substantif, KOHATI merupakan ruang perkaderan HMI-Wati untuk mengembangkan potensi dirinya agar mampu berkontribusi secara lebih luas. Karena itu, aktivitas KOHATI tidak seharusnya dipersempit hanya pada persoalan perempuan, meskipun isu-isu perempuan tetap menjadi salah satu mandat penting yang harus terus diperjuangkan.
KOHATI semestinya menjadi laboratorium kader perempuan: tempat kader belajar, berpikir, berdialektika, membangun keberanian, mengembangkan kapasitas, serta menemukan posisi intelektual dan sosialnya sebagai HMI-Wati.
Dalam konteks inilah tema “KOHATI Bernilai” pada momentum 60 tahun menjadi relevan untuk direnungkan. Nilai tidak cukup hanya menjadi slogan yang ditempelkan pada sebuah perayaan. Nilai harus hadir dalam proses pembinaan, dalam cara organisasi memperlakukan kader, dalam tradisi intelektual yang dibangun, bahkan dalam bagaimana kekuasaan dan kepentingan dikelola di dalam organisasi.
Tema Kohati bernilai yang kemudian mengingatkan saya mengenai salah satu Filsuf Aksiologi Max Scheler. Bagi Scheler, nilai bukan sekadar sesuatu yang diciptakan oleh kepentingan manusia sesaat, melainkan memiliki tingkatan dan kualitas yang harus menjadi orientasi dalam kehidupan manusia.
Jika gagasan tersebut dibawa ke dalam konteks KOHATI, maka pertanyaan pentingnya adalah: nilai apa yang hari ini ditempatkan paling tinggi dalam proses pembinaan kader?
Apakah kualitas intelektual kader?
Apakah kedewasaan spiritual?
Apakah keberanian memperjuangkan persoalan perempuan?
Apakah kemampuan membaca realitas sosial?
Ataukah justru posisi, pengaruh, kedekatan, dan kepentingan politik organisasi mulai mengambil ruang yang lebih besar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukanlah upaya untuk mendiskreditkan KOHATI. Justru sebaliknya, pertanyaan tersebut lahir dari kecintaan terhadap organisasi hijau-hitam yang telah menjadi bagian dari sejarah panjang perjuangan kader perempuan.
Sebab kritik terhadap organisasi tidak selalu berarti penolakan terhadap organisasi. Dalam tradisi intelektual, kritik justru merupakan bentuk kepedulian agar organisasi tidak kehilangan arah.
Hari ini, salah satu hal yang patut kita refleksikan adalah bagaimana wajah KOHATI terlihat dari luar. Ketika dinamika politik internal dan konflik kepentingan organisasi berlangsung terlalu panjang, ada risiko perhatian terhadap mandat pembinaan dan perjuangan isu-isu perempuan menjadi terpinggirkan.
Pada titik inilah kita perlu bertanya: apakah KOHATI masih cukup kuat dipandang sebagai laboratorium kader perempuan, atau perlahan berubah menjadi arena pertarungan kepentingan?
Kita tentu tidak bisa menutup mata bahwa organisasi tidak pernah berada di ruang yang steril dari kepentingan. Politik adalah bagian dari dinamika organisasi. Kompetisi juga merupakan sesuatu yang mungkin hadir dalam kehidupan organisasi. Persoalannya bukan pada ada atau tidaknya politik, melainkan pada ketika logika politik mulai menggeser logika pembinaan.
Ketika posisi organisasi lebih dihargai daripada kualitas kader.
Ketika loyalitas kelompok lebih menentukan daripada kapasitas.
Ketika kedekatan dengan kekuatan tertentu lebih diperhitungkan daripada gagasan.
Dan ketika proses perkaderan perlahan dipahami sebagai kendaraan menuju jabatan, bukan sebagai proses pembentukan manusia.
Pada titik itulah KOHATI perlu melakukan introspeksi.
KOHATI seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh sebelum dituntut untuk tampil; ruang belajar sebelum menjadi ruang pertarungan; dan ruang peningkatan kapasitas sebelum menjadi ruang perebutan posisi.
KOHATI semestinya menjadi tabir pemberdayaan, bukan jeruji keterbatasan.
Tabir pemberdayaan berarti KOHATI mampu menyediakan ruang yang memungkinkan kader perempuan belajar tanpa takut salah, berdialektika tanpa takut berbeda, bertumbuh tanpa harus segera membuktikan diri melalui jabatan, serta membangun keberanian untuk kemudian hadir di ruang HMI dan ruang publik yang lebih luas.
Sebab kader perempuan tidak seharusnya hanya dipersiapkan untuk mengisi struktur. Mereka harus dipersiapkan untuk mengisi sejarah dengan gagasan dan tindakan.
Pembinaan bukan sekadar proses menghasilkan kader yang mampu menduduki posisi tertentu. Pembinaan adalah proses membentuk manusia yang memiliki kesadaran, kapasitas, keberanian, dan orientasi perjuangan.
Maka, setelah 60 tahun KOHATI berdiri, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak kader yang telah dilahirkan, tetapi juga manusia seperti apa yang sedang kita lahirkan melalui proses perkaderan tersebut?
Apakah kita sedang membentuk kader yang kritis atau sekadar patuh?
Apakah kita sedang membangun perempuan yang berdaya atau hanya perempuan yang mampu beradaptasi dengan struktur kekuasaan?
Apakah KOHATI sedang membentuk ruang pembebasan, atau justru mereproduksi pola-pola relasi kuasa yang selama ini kita kritik?
Enam puluh tahun KOHATI harus menjadi momentum untuk kembali pada pertanyaan paling mendasar: untuk apa KOHATI ada?
Sebab usia yang panjang tidak otomatis menjamin keberlanjutan nilai. Sejarah yang besar tidak selalu berarti arah yang benar. Dan banyaknya kader yang berada dalam struktur tidak selalu menunjukkan bahwa proses pembinaan telah berhasil.
Milad ke-60 semestinya bukan hanya perayaan bahwa KOHATI telah bertahan selama enam dekade. Ia harus menjadi momentum untuk menguji kembali nilai, arah, dan orientasi pembinaannya.
Sebab KOHATI tidak cukup hanya “bernilai” dalam slogan.
Ia harus bernilai dalam proses pembinaan, bernilai dalam keberpihakan, bernilai dalam tradisi intelektual, bernilai dalam perjuangan perempuan, dan bernilai dalam keberanian melahirkan kader yang mampu membaca serta mengubah realitas.




