Pataka Eja — Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, membangun gerakan tidak cukup hanya dengan mengumpulkan massa. Ia membutuhkan gagasan, keberanian, sekaligus kemampuan untuk mengubah gagasan menjadi kerja nyata.
Semangat itulah yang coba dibangun Gerakan Untuk Generasi Indonesia Berdaya (Gurinda) melalui konsolidasi yang digelar di Kabupaten Gowa. Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi sejumlah aktivis dari berbagai organisasi kepemudaan untuk mempererat silaturahmi, bertukar perspektif, sekaligus menyatukan arah gerakan.

Konsolidasi ini menjadi bagian dari upaya Gurinda merapikan barisan dan memperkuat jejaring aktivis muda agar tidak berjalan sendiri-sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan generasi muda maupun tantangan kebangsaan.
Gurinda mengusung prinsip “Gugat, Gagas, Gerakkan” yang dimotori oleh Multazam Ahmad Tawalla. Tiga kata tersebut menjadi pijakan gerakan: berani menggugat persoalan yang terjadi, menghadirkan gagasan sebagai jalan keluar, kemudian menggerakkan berbagai potensi menjadi aksi nyata.
Bagi Gurinda, keberanian menggugat tidak boleh berhenti pada kritik. Kritik perlu dilanjutkan dengan gagasan, sementara gagasan harus menemukan jalannya melalui gerakan.
Selain memperkuat konsolidasi gerakan, Gurinda juga memberi perhatian pada aspek profesionalitas aktivis. Ruang gerak aktivisme dinilai tidak semestinya hanya berhenti di lingkungan organisasi, tetapi juga perlu berkembang menjadi kapasitas dan kompetensi yang dapat digunakan di berbagai sektor profesional.
Karena itu, Gurinda membuka ruang bagi para aktivis untuk mengembangkan minat, bakat, keahlian, dan potensi yang mereka miliki. Aktivis didorong untuk tetap memiliki idealisme sekaligus membangun kompetensi agar mampu mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat.
“Gurinda ingin menjadi ruang yang mempertemukan idealisme aktivis dengan profesionalitas. Aktivis tidak hanya dituntut mampu menggagas perubahan, tetapi juga memiliki kompetensi untuk mengambil peran di berbagai sektor.”
Konsolidasi di Gowa sekaligus menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring dan mengidentifikasi berbagai potensi anak muda yang dapat dikembangkan melalui kolaborasi lintas organisasi dan lintas sektor.
Gurinda melihat bahwa generasi muda memiliki beragam kekuatan yang kerap berjalan secara terpisah. Karena itu, mempertemukan gagasan, pengalaman, keahlian, dan jejaring menjadi penting agar potensi tersebut dapat diarahkan menjadi kekuatan kolektif.
Dengan semangat “Gugat, Gagas, Gerakkan”, Gurinda mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya kritis membaca persoalan, tetapi juga mampu menawarkan gagasan, membangun gerakan, dan bekerja secara profesional.




