Jakarta, Pataka Eja – Dunia perfilman dan teater Indonesia kembali berduka. Aktor senior sekaligus seniman teater Diding Boneng meninggal dunia pada Senin (3/8/2026) pukul 06.04 WIB dalam usia 76 tahun. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia seni, mengingat dedikasinya yang telah berlangsung lebih dari lima dekade di panggung teater maupun layar lebar.
Bagi jutaan penonton Indonesia, nama Diding Boneng akan selalu dikenang sebagai pemeran komandan satpam yang ikonik dalam film Bisa Naik Bisa Turun (1992), salah satu film legendaris Warkop DKI. Dengan ekspresi khas dan gaya komedinya yang natural, Diding berhasil menciptakan karakter yang hingga kini masih melekat dalam ingatan para penggemar.
Dalam film tersebut, Diding memerankan seorang pasien rumah sakit jiwa yang menyamar sebagai komandan satpam dan melatih trio Dono, Kasino, dan Indro. Adegan itu menjadi salah satu momen paling dikenang dalam sejarah film komedi Indonesia.
Namun, perjalanan Diding Boneng jauh lebih besar daripada satu karakter yang membuatnya populer. Pria bernama asli Zainal Abidin itu telah mengabdikan hidupnya untuk seni peran sejak awal dekade 1970-an.
Kariernya dimulai dari panggung teater pada 1973. Di sana, ia mengasah kemampuan akting sekaligus aktif mengikuti berbagai festival teater remaja. Berkat dedikasinya, Diding kerap meraih penghargaan dan turut membimbing rekan-rekan satu kelompok teater hingga berprestasi.
Pengalaman panjang di dunia teater menjadi fondasi yang membawanya memasuki industri film. Debut layar lebarnya dimulai melalui film Tiga Dara Mencari Cinta (1980), sebelum kemudian tampil dalam berbagai film nasional, termasuk seri Catatan Si Boy.
Popularitas Diding mencapai puncaknya ketika bergabung dalam deretan film Warkop DKI pada akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Meski lebih sering memerankan tokoh pendukung, kehadirannya selalu mencuri perhatian lewat karakter-karakter unik yang memperkuat nuansa komedi setiap film.
Di balik popularitasnya sebagai aktor film, Diding tidak pernah meninggalkan dunia teater. Hingga usia senja, ia tetap aktif melatih generasi muda melalui berbagai komunitas seni, termasuk Sanggar Perkasa di Kota Bekasi.
Kabar wafatnya pun pertama kali dikonfirmasi melalui akun resmi Sanggar Perkasa.
“Kebaikan serta dedikasi Bung dalam berbagi ilmu akan selalu menjadi bagian dari perjalanan dan kenangan kami,” tulis Sanggar Perkasa dalam unggahannya.
Pada tahun-tahun terakhir kehidupannya, Diding kembali menunjukkan kualitas aktingnya melalui film horor. Ia tampil dalam KKN di Desa Penari (2022), kemudian kembali dipercaya membintangi Badarawuhi di Desa Penari (2024) dan The Torture: Beranak dalam Kubur (2024).
Semangat berkaryanya tak pernah padam meski usia terus bertambah.
Beberapa bulan terakhir, kondisi kesehatan Diding mulai menurun akibat penyakit asma. Menurut keterangan keluarga, ia sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama sekitar tiga pekan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang karena kondisinya membaik.
Namun sekitar sepekan berada di rumah, penyakit asmanya kembali kambuh hingga menyebabkan sesak napas. Selama dua hari terakhir sebelum wafat, keluarga terus bergantian mendampinginya.
Diding Boneng mengembuskan napas terakhir pada Senin pagi pukul 06.04 WIB. Rencananya, jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Menteng Pulo, Jakarta Pusat.
Kepergian Diding Boneng bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia perfilman dan teater Indonesia. Sosok yang selama puluhan tahun menghadirkan tawa di layar, membangun karakter-karakter yang tak mudah dilupakan, serta mengabdikan hidupnya untuk panggung seni itu kini telah berpulang.
Namun karya-karyanya akan terus hidup, diputar, dikenang, dan menjadi bagian dari sejarah perfilman Indonesia. Diding Boneng telah menutup perjalanan hidupnya, tetapi jejak pengabdiannya akan tetap abadi di hati para penikmat seni.




