Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Warta

MERASA PINTAR, AWAL DARI KEBODOHAN

Pataka Eja by Pataka Eja
2 Juli 2026
in Warta
0
1000328416

Oleh: Achmad Rifqi Abdunnafi’

Suatu ketika, seorang murid bertanya kepada gurunya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Sang guru menjawab, “Orang yang paling tahu bahwa dirinya masih banyak tidak tahu.” Jawaban itu tampak sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan pelajaran besar: ilmu sejati melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

Pada dasarnya, bodoh memang merupakan kekurangan, dan pintar adalah keutamaan. Semua orang ingin menjadi pintar, berwawasan luas, dan dihormati karena ilmunya. Namun, ada satu hal yang justru lebih berbahaya daripada kebodohan itu sendiri, yaitu merasa diri sudah pintar.

Orang yang bodoh tetapi menyadari kebodohannya masih memiliki harapan untuk belajar. Ia akan bertanya, membaca, mendengar nasihat, dan terus memperbaiki diri. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah mengetahui segala sesuatu sering kali menutup pintu ilmu dengan tangannya sendiri. Ia tidak lagi merasa perlu mendengar orang lain, tidak mau dikoreksi, bahkan menganggap dirinya selalu benar.

Karena itulah, para ulama terdahulu tidak pernah bangga dengan ilmu yang mereka miliki. Semakin tinggi ilmu mereka, semakin besar pula kesadaran akan keterbatasan diri.

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله berkata:

كُلَّمَا أَدَّبَنِي الدَّهْرُ أَرَانِي نَقْصَ عَقْلِي، وَإِذَا مَا ازْدَدْتُ عِلْمًا زَادَنِي عِلْمًا بِجَهْلِي

“Setiap kali perjalanan hidup mendidikku, aku semakin melihat kekurangan akalku. Dan setiap kali ilmuku bertambah, bertambah pula pengetahuanku tentang kebodohanku.” (Al-Baihaqi, Manaqib Asy-Syafi’i, juz II, hlm. 208).

Ungkapan ini mungkin terdengar paradoks. Bagaimana mungkin orang yang ilmunya bertambah justru merasa dirinya semakin bodoh? Bukankah seharusnya semakin banyak ilmu membuat seseorang semakin percaya diri?

Jawabannya sederhana, Ketika seseorang baru mengetahui sedikit ilmu, ia mengira bahwa pengetahuan yang dimilikinya sudah cukup luas. Namun, semakin ia belajar, semakin terbuka di hadapannya samudra pengetahuan yang belum ia kuasai. Ia mulai menyadari bahwa apa yang diketahuinya hanyalah setetes air di tengah lautan yang tak bertepi. Kesadaran inilah yang melahirkan tawadhu’ ilmiah, yakni kerendahan hati dihadapan ilmu.

Sebaliknya, penyakit merasa pintar justru menjadi penghalang terbesar dalam proses belajar. Orang yang merasa dirinya paling tahu akan sulit menerima kritik dan nasehat. Ia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi sibuk mempertahankan pendapatnya. Dalam setiap perdebatan, yang ingin ia menangkan bukanlah kebenaran, melainkan egonya sendiri.

Fenomena ini semakin mudah kita temukan di era digital. Media sosial telah memberi ruang kepada siapa saja untuk berbicara dan berpendapat. Hal itu tentu merupakan sesuatu yang baik. Akan tetapi, di sisi lain, media sosial juga melahirkan ilusi pengetahuan.

Seseorang yang membaca satu atau dua artikel merasa telah menguasai suatu bidang. Orang yang menonton beberapa video ceramah merasa telah memahami seluruh persoalan agama. Bahkan tidak sedikit yang baru mengenal suatu disiplin ilmu tetapi sudah berani menghakimi para ahli yang telah menghabiskan puluhan tahun untuk mempelajarinya.

Akibatnya, ruang diskusi berubah menjadi arena saling menyalahkan. Perbedaan pendapat tidak lagi dipandang sebagai kesempatan untuk belajar, tetapi dianggap sebagai ancaman terhadap harga diri.

Padahal, para ulama terdahulu justru menunjukkan sikap yang sebaliknya.

Ada salah satu hadist :

لَا يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ

“Ilmu tidak akan dipelajari oleh orang yang malu (bertanya) dan tidak pula oleh orang yang sombong.”(Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-‘Ilm).

Kesombongan intelektual membuat seseorang merasa tidak membutuhkan guru, tidak membutuhkan teman diskusi, dan tidak membutuhkan nasihat. Ia lupa bahwa setiap manusia, setinggi apa pun ilmunya, tetap memiliki keterbatasan.

Allah SWT berfirman:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85).

Ayat ini seharusnya cukup untuk meruntuhkan kesombongan manusia. Jika dibandingkan dengan ilmu Allah, seluruh pengetahuan manusia, sejak zaman Nabi Adam hingga hari kiamat, hanyalah sedikit.

Karena itu, orang yang benar-benar berilmu tidak pernah berhenti menjadi murid. Mereka sadar bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya, “Sampai kapan engkau akan terus belajar?” beliau menjawab:

مَعَ الْمِحْبَرَةِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ

“Bersama tinta hingga masuk ke liang kubur.” (Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Jami’ li Akhlaq Ar-Rawi wa Adab As-Sami’, juz I, hlm. 152).

Jawaban itu mengandung pesan yang sangat mendalam. Ilmu bukanlah tujuan yang suatu saat akan selesai dicapai, melainkan perjalanan yang tidak pernah berakhir. Semakin seseorang belajar, semakin ia menyadari luasnya pengetahuan yang belum ia ketahui.

Pada akhirnya, masalah terbesar manusia bukanlah kebodohan, melainkan perasaan bahwa dirinya sudah cukup pintar. Sebab, orang yang merasa bodoh masih akan membuka buku, mendatangi guru, dan mendengar nasihat. Adapun orang yang merasa pintar akan menutup semua pintu itu.

Mungkin karena itulah sebagian ulama mengatakan bahwa tanda kecerdasan bukanlah banyaknya pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan kesadarannya akan keterbatasan dirinya.

Di atas setiap orang yang berilmu, masih ada orang yang lebih berilmu.

Allah SWT berfirman:

وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu.”

(QS. Yusuf: 76).

Maka, jika suatu hari kita merasa telah mengetahui banyak hal, barangkali itulah saat yang paling tepat untuk kembali belajar dan berkata kepada diri sendiri:

“Masih banyak yang belum aku ketahui.”

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 20250729 Wa0022
Warta

DPD IMM Sulsel Terima AMDAL PT Masmindo Dwi Area, Pastikan Predator Lingkungan Minggat dari Sulawesi Selatan

30 Juli 2025
101
Img Uing
Warta

Riswandi formatur ketua umum HIPMA Gowa Kom. UINAM harapkan inovasi bersama dalam peningkatan organisasi kedaerahan.

29 September 2024
76
Img 20250912 Wa0016
Warta

UKM LKIMB UNM Akan Menggelar Seminar Nasional Bertema Ekofeminisme

12 September 2025
262
Whatsapp Image 2025 05 20 At 11 32
Warta

Program YESS dan HIPMI Sulsel Gelar Business Network Forum, Dorong Kolaborasi Petani Milenial dan Dunia Usaha

20 Mei 2025
59

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi