Oleh: Rose
Halo, Nona!
Aku ingin kau baca catatan kecil ini
Sebuah catatan tentang pengakuan utang ku padamu, nona
Ada satu utang yang mungkin akan tetap tinggal sebagai utang:
“Setangkai mawar merah yang tak pernah cukup nyali kuselipkan di tanganmu”
Bukan sebagai bentuk pengharapan balas rasa
Lebih dari itu, ia adalah perwujudan:
“Bahwa rasa tak bisa di ada-ada”
Maaf, Nona!
Aku pengecut—memilih berdamai dengan keraguanku sendiri,
bersembunyi di balik bayang-bayang segala kemungkinan yang kuciptakan
Hingga pada akhirnya,
waktu diam-diam datang dan membawamu pergi,
sebelum keberanian sempat menemukan jalannya
Jika ini bagian dari catatan buruk yang harus tercatat di lengan kiri,
biarlah kelak di hari kemudian kupertanggungjawabkan di hadapan Maha Adil
bersama dengan segudang catatan lain yang tak kalah buruknya
Terakhir, izinkan aku tetap mengabadikan senyum manismu
yang pernah kupotret langsung melalui ponselku,
sebagai bukti bahwa:
“kau yang pertama dan satu-satunya yang membuatku kembali berantusias,
setelah sempat dipatahkan realitas”
Kini, di bawah kolong langit mana pun kau berpijak,
tetaplah mekar dan wangi, seperti mawar merah
Sekali lagi, maaf, Nona.




