Patakaeja.id – Gowa, Papua Bukan Tanah Kosong. Kalimat itu menjadi benang merah dalam pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang digelar oleh Forum Komunikasi Islam (FIKSI), lembaga sayap HMJ Komunikasi dan Penyiaran Islam, bertempat di Tala Space Hertasning, Jumat Malam. (22/05/2026)
Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan ruang menonton bersama, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai realitas yang terjadi di Papua. Antusiasme peserta terlihat sepanjang acara. Banyak di antara mereka mengaku mendapatkan perspektif baru dan merasakan empati terhadap kehidupan masyarakat Papua setelah menyaksikan film tersebut.

Diskusi pasca-pemutaran dipandu oleh Demisioner Ketua PMII 2025, Izhar Attarsyach. Dalam pemaparannya, ia mengajak peserta untuk melihat Papua secara lebih utuh, tidak hanya dari informasi yang selama ini beredar, tetapi juga melalui konteks sejarah dan ketimpangan yang masih terjadi hingga hari ini.
Astika yang merupakan peserta sekaligus dewan senior Fiksi memberikan komentar bahwa proyek ketahanan industri dan energi merupakan kedok kekuasaan untuk melakukan eksploitasi terhadap alam di tanah papua.
“Sepertinya narasi soal proyek ketahanan industri dan energi hanyalah cover, dijelaskan pada film tersebut hutan yang dibabat akan ditanami sawit dan tebu untuk memproduksi bioetanol dan biodiesel yang akan dicampurkan dengan bensin dan solar guna bahan bakar yang lebih ‘go green’. namun dibalik itu terdapat eksploitasi, pembabatan hutan besar besaran dengan dalih bahan bakar Go Green” ukap Astika.
Menutup diskusi, Izhar menegaskan bahwa Papua bukan tanah kosong dan jelas berbagai ketimpangan terjadi di tanah Papua.
“Papua Bukan Tanah Kosong bukan hanya slogan perlawanan semata, melainkan gambaran realitas ketimpangan yang terjadi di Indonesia, khususnya di tanah Papua. Karena itu, kita perlu melihat dan beraksi dalam hal tersebut.”
Ketua FIKSI yakni Ahmad Naufal Rasyidi, menilai film karya Dandhy Laksono ini berhasil membahas Papua secara lebih komprehensif. Tidak hanya menampilkan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Papua, tetapi juga mengulas aspek historis dan geologis yang membentuk kondisi Papua saat ini.
Meski demikian, film ini masih memunculkan berbagai pandangan. Sebagian pihak menganggapnya sebagai propaganda, sementara sebagian lainnya melihatnya sebagai upaya menghadirkan perspektif yang jarang mendapat ruang dalam diskusi publik.
Melalui kegiatan ini, FIKSI berharap peserta tidak hanya berhenti pada proses menonton, tetapi juga terdorong untuk membangun empati, memperluas wawasan, dan lebih peduli terhadap isu-isu kemanusiaan di Indonesia.




