Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Kondisi Dilema: Antara Hubungan Emosional dan Nalar Kritis

Pataka Eja by Pataka Eja
1 Februari 2026
in Opini
0
Whatsapp Image 2026 02 01 At 20 44

potret Khaerul Abrar

Oleh: Khaerul Abrar


Dalam kehidupan sehari-hari, pengambilan keputusan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas manusia. Setiap harinya, individu dihadapkan pada berbagai pilihan yang memengaruhi kehidupan pribadi, karier, hubungan sosial, hingga arah masa depan. Namun, tidak semua keputusan yang diambil selalu berujung pada hasil yang diinginkan. Tidak jarang seseorang merasa kecewa, bahkan menyesal, karena keputusan yang ternyata membawa dampak buruk bagi dirinya maupun lingkungannya.

Salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan yang baik adalah kemampuan logika dan berpikir kritis. Logika merupakan kualitas berpikir yang memungkinkan individu menganalisis dan mengevaluasi informasi secara objektif, mengidentifikasi argumen yang kuat, serta mengenali kesalahan berpikir atau bias yang dapat mempengaruhi penilaian. Dengan logika, seseorang dapat meminimalisir keputusan yang didasarkan semata-mata pada dorongan sesaat atau tekanan emosional.

Berpikir kritis juga sangat berkaitan erat dengan penalaran. Edward Glaser, sebagaimana dikutip dalam pemikiran Fisher, mendefinisikan berpikir kritis sebagai pengetahuan tentang metode-metode pemeriksaan dan penalaran yang logis. Penalaran sendiri merupakan proses berpikir untuk menarik suatu kesimpulan atau membentuk pernyataan baru berdasarkan pernyataan-pernyataan yang diketahui benar atau dianggap benar. Dengan demikian, penalaran menjadi landasan penting dalam menjalankan proses berpikir kritis, terutama dalam situasi yang menuntut pengambilan keputusan kompleks.

Namun, pengambilan keputusan tidak hanya dipengaruhi oleh aspek rasional. Hubungan emosional turut memainkan peran yang sangat signifikan. Hubungan emosional adalah dinamika interaksi antarmanusia yang melibatkan perasaan, koneksi batin, dan respons emosional. Hubungan ini mencakup berbagai bentuk ikatan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan mempengaruhi cara individu membangun kedekatan dengan orang lain.

Menurut teori ikatan emosional yang dikemukakan oleh John Bowlby, hubungan emosional yang terjalin antara anak dan orang tua atau pengasuh memiliki dampak jangka panjang terhadap kemampuan individu membangun ikatan emosional yang sehat di masa dewasa. Teori ini menekankan pentingnya responsivitas dan konsistensi figur pengasuh dalam memenuhi kebutuhan emosional anak. Artinya, emosi bukan sekedar pelengkap dalam kehidupan manusia, melainkan pondasi penting dalam membentuk kepribadian dan pola relasi.

Namun, hubungan emosional juga kerap menempatkan manusia pada ruang kebimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk merasa “tidak enakan”, takut melukai perasaan orang lain, atau enggan merusak hubungan yang telah terbangun lama. Kondisi ini sangat mempengaruhi pola berpikir individu, sehingga ia berada dalam dilema antara keputusan yang rasional dan tuntutan emosional dari hubungan tersebut.

Perasaan dilema muncul ketika keterlibatan emosional mendorong individu untuk tetap mempertahankan hubungan, meskipun nalar berpikir mendeteksi adanya ketimpangan, ketidakadilan, atau bahkan kerugian jangka panjang. Akibatnya, individu terjebak dalam konflik batin antara mendengarkan suara hati yang emosional atau mengikuti pertimbangan rasional yang didasarkan pada logika dan evaluasi objektif.

Sebagai contoh, seorang mahasiswa dapat mengalami dilema ketika harus memilih antara melanjutkan aktivitas organisasi karena kedekatan emosional yang telah terbangun lama dan rasa tidak tega melihat teman seperjuangannya kesusahan, atau mengambil keputusan rasional untuk memilih jalan berbeda demi tujuan pribadi. Keputusan rasional tersebut bisa didasarkan pada keinginan meningkatkan kompetensi diri di luar kampus, mempertimbangkan prospek jangka panjang, atau memilih fokus akademik agar dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

Dalam konteks ini, nalar kritis sejatinya berfungsi sebagai alat evaluatif yang menimbang keputusan berdasarkan nilai, prinsip, dan dampak jangka panjang. Namun, dalam hubungan emosional, nalar kritis seringkali dipersepsikan sebagai gangguan. Pernyataan yang rasional dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian atau kurangnya empati. Pada titik inilah hubungan emosional tidak lagi menjadi ruang dialog yang sehat, melainkan berubah menjadi arena kompromi sepihak yang justru menekan kapasitas berpikir kritis individu.

Kondisi dilematis tersebut memperlihatkan bahwa emosi dan nalar berpikir sering kali berbenturan. Namun, keduanya sejatinya tidak sepenuhnya bertentangan, melainkan berada dalam hubungan tarik-menarik. Ketika emosi mendominasi secara penuh, individu berisiko kehilangan nalar rasional dan terjebak dalam keputusan yang merugikan dirinya sendiri. Sebaliknya, ketika rasionalitas dipaksakan tanpa mempertimbangkan hubungan emosional, relasi dapat kehilangan makna afektifnya dan memunculkan persoalan baru.

Oleh karena itu, tantangan utama dalam hubungan emosional bukanlah memilih antara perasaan atau rasionalitas, melainkan menemukan titik keseimbangan di antara keduanya. Kematangan hubungan justru ditandai oleh kemampuan mengelola emosi tanpa mengesampingkan nalar kritis, serta menggunakan nalar kritis tanpa meniadakan kepekaan emosional. Dalam keseimbangan inilah hubungan dapat berkembang secara sehat dan tidak hanya memuaskan secara emosional, tetapi juga adil, saling menguntungkan, dan bermakna.

*Penulis Merupakan Kabid Infokom HIPMA Gowa Koord. Bontomarannu
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Foto Muh Thafdil Wirawan S
Opini

Menambang Data, Menjemput Masa Depan

30 Juli 2025
72
Whatsapp Image 2026 02 21 At 01 07
Opini

Demokrasi Dalam Bayangan KUHP Baru: Antara Dekolenisasi atau Rekolonisasi

23 Februari 2026
90
Whatsapp Image 2024 07 26 At 22 58 35 9a14d79c
Opini

Mereka Seharusnya Lebih Belajar Soal Agama

27 Juli 2024
121
Whatsapp Image 2026 01 16 At 20 42
Opini

Analisis Peran Perempuan dalam Representasi Politik Indonesia

16 Januari 2026
61

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi