Sudah kita tahu bersama bahwa negara Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak urutan keempat dunia setelah China, India dan Amerika Serikat. Dalam pertengahan tahun 2022 ini jumlah penduduk Indonesia berjumlah 275, 77 juta jiwa. Sementara jumlah pemuda di Indonesia sebanyak 64,92 juta jiwa pada 2021. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah itu setara dengan 23,90% dari total populasi Indonesia.
Indonesia punya generasi muda yang besar. Apalagi jika generasi muda atau gen Z tersebut mendapatkan pendidikan serta kehidupan yang layak. Jika generasi muda saat ini terdidik dengan baik tentunya ke depan akan menjadi generasi yang bertanggungjawab.
Jika kita merenungkan dan merefleksikan kembali kutipan legendaris Bung Karno ” Berikan aku 10 pemuda akan kuguncangkan dunia” maka sejatinya jumlah besar saja tidaklah cukup untuk bisa membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju baik secara fisik maupun spiritual serta diperhitungkan di kancah dunia. Bung Karno tentunya tidak perlu menunggu tahun emas 2045 untuk bisa memberikan kehormatan yang layak bagi bangsa dan negaranya. Bung Karno hanya membutuhkan pemuda-pemudi unggul yang memiliki kualitas dan visi yang besar dalam menatap dunia. Dan tentunya itulah yang kita harapkan bersama kepada generasi muda saat ini.
Kaum Muda dalam Pandangan Ayatullah Ja’far Subhani
Ayatullah Ja’far Subhani salah seorang ulama marja taklid dan ustad Hauzah Ilmiah Qom. Ia spesialis dalam bidang fikih, ushul, tafsir dan ilmu kalam. Beliau lahir pada 20 Farvardin 1308 HS/9 April 1929 di kota Tabriz. Ayahnya adalah Ayatullah Muhammad Husain Subhani Khiyabani.
Dalam pandangan Ayatullah, masa muda adalah masa harapan dan cita-cita, masa yang sarat dengan aktivitas dan keceriaan. Potret masa depan menjelma di pelupuk mata remaja seperti mimpi-mimpi indah. Remaja dan kaum muda terus berfikir, membuat rencana serta melukiskan harapan-harapan yang tinggi dalam benaknya.
Adakalanya juga masa muda mengalami pasang surut. Ada di antara kaum muda yang sudah meraih kesuksesan secara materi. Hampir semua fasilitas bisa dinikmati. Ada juga kaum muda yang hanya fokus pada pengembangan spiritual. Banyak yang kita saksikan saat ini kaum remaja masuk di pondok-pondok tahfidz untuk mengasah kemampuan hafalan Al-Qur’an. Tetapi ada juga kaum muda yang tidak maju sama sekali baik dari segi materi maupun spiritual.
Ayatullah Ja’far Subhani membahas dengan menarik terkait permasalahan kaum muda. Beliau membahas problematika kaum muda dari berbagai aspek serta pengaruhnya terhadap agama dan budaya. Dalam buku Ramze Piruzi-e Mardane Buzurg yang dialihbahasakan menjadi Keluar dari Kemelut Menuju Kebahagiaan : Pemuda, Agama dan Serangan Budaya. ( TB. Hawra Jakarta, 2012 ),
Ayatullah Ja’far Subhani menyebutkan ada enam poin utama yang bisa menjadi lahan kemunduran kaum muda jika tidak dibentengi dengan iman yang kuat serta pondasi agama yang benar.
1). Melakukan Perjalanan Wisata
Ayatullah Ja’far Subhani tampaknya kurang setuju jika para pemuda sering melakukan perjalanan wisata terutama ke negara-negara Barat. Memang salah satu alasan seseorang berwisata adalah refreshing dari padatnya aktivitas seperti pekerjaan, pembelajaran, perniagaan dan aktivitas lainnya. Namun perlu diwaspadai agar tidak terlena dengan budaya asing apalagi sampai mengadopsi budaya yang tidak cocok dengan kebiasaan masyarakat. Apalagi jika perjalanan wisata tersebut sekedar berfoya-foya, membeli barang mewah serta mengumbar-umbar aurat dan hawa nafsu.
2). Waktu Luang
Di antara lahan kemunduran, kemerosotan dan ketergelinciran para pemuda adalah waktu luang atau kosong. Bila melihat tabiat pemuda, maka masalah waktu luang menjadi suatu masalah yang serius. Menurut Ayatullah, waktu luang yang dimaksud di sini adalah tidak melakukan aktivitas tertentu, seperti belajar, berkarya, memanfaatkan waktu dengan hal-hal yang berguna. Bukankah Allah swt telah mengingatkan bahwa manusia itu berada dalam kerugian? Sebagaimana tertulis dalam QS al-Ashr:
وَالۡعَصۡرِۙ.اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَفِىۡ خُسۡرٍۙ
Artinya:
” Dan demi waktu. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian “.
Pemuda harus mengontrol waktu luang agar tidak menjadi racun, menghancurkan eksistensi. Secara naluriah manusia punya kecenderungan untuk mencoba dan berusaha terutama kepada hal-hal yang baru. Jika kecenderungan tersebut disalurkan ke pekerjaan-pekerjaan yang positif maka hal tersebut bisa mengeluarkan pemuda dari kebobrokan dan ketertinggalan.
3). Kemiskinan
Kemiskinan dan kefakiran tidak melulu menyebabkan seorang pemuda atau keluarganya menjadi hancur. Pemuda atau keluarga yang berimanlah yang tidak mengorbankan kehormatan dan kemuliaan diri disebabkan kondisi hidup yang tidak kondusif. Mengapa keimanan perlu menjadi benteng kemiskinan? Karena seseorang akan selalu merasa cukup dengan rezeki yang ada dan tentunya akan selalu sabar serta berprasangka yang baik kepada Sang Pencipta. Allah swt berfirman dalam QS At-Thalaq ayat 3 :
وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا
Artinya:
Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.
4). Membujang
Hidup membujang apalagi tidak produktif tentunya berdampak negatif bukan hanya kepada dirinya sendiri, keluarga bahkan orang lain. Membujang bisa menjadi beban keluarga. Bila diamati membujang terlalu lama bisa menyebabkan kehancuran pada diri. Hidup membujang tidak diamini oleh Nabi dan tidak disyariatkan oleh agama. Hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu, ia mengatakan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak hal itu pada ‘Utsman bin Mazh’un. Seandainya beliau membolehkan kepadanya untuk hidup membujang, niscaya kami membujang”. ( HR Bukhari No.5074 dalam Kitab an-Nikah )
5). Kekayaan dan Kemewahan
Kadang kala kekayaan dan kemewahan bisa menjadi objek penyimpangan dan ketergelinciran. Hal tersebut karena tabiat manusia menyukai kesenangan, kebahagiaan serta memperbanyak harta. Pemuda yang berasal dari keluarga kaya namun imannya lemah bisa saja jatuh ke dalam perilaku negatif. Berfoya-foya, minuman keras, memakai obat-obatan terlarang, serta seks bebas merupakan hal-hal negatif yang erat kaitannya dengan kekayaan. Al-Qur’an memperingatkan dalam QS al-Alaq ayat 6-8 terkhusus bagi kaum muda yang kaya agar selalu mawas diri.
كَلَّآ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَيَطۡغَىٰٓ ٦ أَن رَّءَاهُ ٱسۡتَغۡنَىٰٓ ٧ إِنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ ٱلرُّجۡعَىٰٓ ٨
Artinya.
” Sekali-kali tidak, sungguh manusia itu benar-benar melampaui batas. Apabila melihat dirinya serba cukup. Sungguh hanya kepada Tuhanmulah tempat kembali (mu) “.
Selama roda kehidupan berputar manusia terus mengalami perubahan. Diantaranya bisa saja menjadi ” penghisap darah ” manakala hidup bahagia dan senang, serta bisa menjadi orang yang beriman dan bertaqwa manakala sudah menjumpai kehidupan yang susah dan melarat. Naudzubillah. Jadi meskipun secara umum kekayaan dan kemewahan tidak menjadi salah satu faktor penyimpangan, bagi kaum muda harus tetap menyadari itu.
6). Perbedaan Antara Kesenangan dengan Kebahagiaan
Ayatullah Ja’far Subhani juga memaparkan tentang perbedaan antara kesenangan dan kebahagiaan. Kesenangan berkaitan dengan hal-hal materil ( jasmaniah ) yang sifatnya jangka pendek. Sedangkan yang dimaksud dengan kebahagiaan adalah keadaan jiwa ( rohaniah ) yang sifatnya jangka panjang. Orang bisa senang tapi belum tentu bahagia. Begitu juga sebaliknya, kualitas dari rasa bahagia berbanding lurus dengan tingkat kesulitan dan penderitaan demi meraih tujuan yang positif. Seringkali manusia mengorbankan kesenangan demi mendapatkan kebahagiaan. Jadi mana yang akan kita pilih apakah kesenangan yang durasinya sementara atau kebahagiaan yang durasinya permanen?




