Oleh: Hajrah
Ketergantungan kita pada plastik sering kali tidak hadir dalam bentuk perdebatan serius atau kebijakan besar, melainkan justru muncul lewat candaan-candaan kecil yang terdengar remeh.
Salah satunya adalah kalimat yang hampir selalu muncul setiap kali kami menggunakan peralatan plastik, “ada mikroplastiknya,” kata teman saya sambil tertawa.
Candaan itu mungkin terdengar ringan, tapi sesungguhnya menyimpan kritik diam-diam terhadap cara hidup yang kita anggap wajar.
Candaan tersebut bermula dari obrolan santai di warkop. Saat itu saya menyinggung soal gelas plastik yang digunakan untuk menyajikan kopi, juga sedotan yang menyertainya.
Saya hanya menyampaikan bahwa mikroplastik dari peralatan plastik bisa masuk ke dalam tubuh dan berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan.
Tidak ada niat menggurui. Namun sejak saat itu, kalimat tersebut berubah menjadi running joke yang terus diulang. Bahkan, candaan itu tidak berhenti hanya di warkop. Karena memang teman saya suka mengungkit dan mengejek, seandainya ada lomba mengejek mungkin dia sudah memegang piala bergilir.
Terakhir kali, ketika kami sedang melaksanakan perkaderan di organisasi, panitia ingin menghidangkan daging berkuah panas ala makassar (sebut: coto), tetapi tidak ada wadah yang tersedia di lokasi perkaderan sehingga solusi paling praktis adalah mangkuk kertas yang tentu saja berlapiskan plastik, teman saya kembali mengulang kalimat yang sama “ada mikroplastiknya.”
Saya kemudian menambahkan bahwa itu justru lebih berisiko jika kuah panas disimpan dalam plastik kemudian dikonsumsi. Namun, itu tetaplah solusi paling praktis yang akhirnya dipilih, karena setelah makan kita juga tidak perlu mencuci plastiknya, tinggal dibuang ke tempat sampah, dan masalah selesai.
Momen kecil itu menunjukkan bagaimana obrolan biasa yang pernah saya lontarkan hadir kembali, di tengah aktivitas yang justru memperlihatkan betapa akrabnya kita dengan plastik.
Dalam kegiatan organisasi mahasiswa, kita bisa melihat ketergantungan pada plastik terasa makin nyata. Piring, gelas, sendok garpu sekali pakai, hingga kantong kresek.
Sebenarnya bukan karena abai, tetapi karena plastik memang menawarkan kemudahan, pakai plastik jelas lebih cepat, murah, dan menghemat tenaga di tengah waktu yang terbatas apalagi kalau menghadapi peserta yang banyak.
Di titik ini, plastik bukan lagi sekadar pilihan individu, melainkan bagian dari sistem yang memaksa. Ia hadir karena diproduksi massal, dilegalkan oleh regulasi industri, dan disebarkan tanpa beban tanggung jawab yang sepadan.
Kita boleh sadar dampaknya, tetapi kesadaran itu sering kalah oleh cara kerja sistem yang membuat plastik selalu tersedia dan alternatifnya terasa merepotkan.
Maka efisiensi terasa lebih relevan dibanding idealisme ekologis, bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena kita dibiasakan untuk patuh pada kepraktisan.
Seolah diingatkan, belakangan beranda media sosial saya dipenuhi dengan pembahasan mikroplastik. Bukan lagi dalam konteks lelucon, tetapi dalam unggahan tentang penelitian air hujan di beberapa kota yang ternyata mengandung mikroplastik.
Ada nada mencekam dalam temuan itu, Sesuatu yang sebelumnya kita anggap selesai begitu saja, dibuang ke tempat sampah, lalu dilupakan rupanya tidak benar-benar hilang.
Ia kembali, menjelma partikel-partikel kecil yang turun bersama hujan, jatuh ke tanah, air, dan akhirnya masuk lagi ke tubuh kita. Ironis, rasanya. Hal yang kami jadikan candaan santai ternyata punya cerita panjang dan gelap.
Di sisi lain justru karena candaan itulah, isu ini tidak terasa asing. Ia sudah lebih dulu masuk ke percakapan kami,sebagai pengingat kecil bahwa ada masalah besar yang belum benar-benar diberi ruang untuk diselesaikan.
Lagi-lagi humor yang sering muncul itu pun bukan bentuk pengabaian, melainkan cara untuk menerima kenyataan tanpa merasa tertekan. Kita tahu ada dampak lingkungan dan kesehatan, tapi kita juga tahu tidak semua situasi memberi ruang untuk pilihan ideal.
Tawa menjadi cara untuk tetap waras di tengah kesadaran yang tidak selalu bisa diwujudkan menjadi pilihan nyata.
Mungkin kita belum bisa sepenuhnya lepas dari gelas plastik dan peralatan sekali pakai, setidaknya belum sekarang. Tapi kesadaran kecil tetap punya nilai.
Solusi mungkin tidak dimulai dari perubahan besar, melainkan dari langkah sederhana, bisa dimulai dengan membawa tumbler ke warkop, menyediakan botol minum sendiri saat kegiatan, atau mengurangi pembelian peralatan sekali pakai.
Saya tidak berharap kita semua tiba-tiba berhenti menggunakan plastik. Kita hidup dalam rutinitas yang serba cepat, dan dunia belum menyediakan banyak pilihan yang benar-benar praktis. Tapi setidaknya, saya berharap candaan itu tidak berhenti hanya sebagai tawa.
Kadang, perubahan dimulai dari hal yang terlalu lucu untuk dianggap serius, tapi terlalu nyata untuk diabaikan selamanya. Juga, kita perlu mulai mencurigai tawa kita sendiri. Jangan-jangan, yang kita tertawakan bukan plastiknya, melainkan ketidakberdayaan kita untuk hidup sedikit lebih bertanggung jawab.
Sebab mikroplastik bukan sekadar partikel kecil yang tak kasat mata. Ia adalah simbol dari pilihan-pilihan kecil yang terus kita remehkan, hingga suatu hari, semuanya terakumulasi, bukan lagi di gelas kopi, tetapi di tubuh kita semua.




