Oleh: Intan Sholihatul Hikmah
Ada bagian dari diriku yang hilang,
seperti warna yang perlahan memudar,
larut bersama detik yang tak pernah kembali.
Kini aku sadar, ia pergi tanpa penjelasan.
Segalanya berubah asing;
aku berjalan, tapi langkahku hampa.
Pelan-pelan aku belajar menerima,
sebab hidup sering menuntun kita ke arah yang berbeda.
Aku tidak pernah membencinya,
juga tak pernah menyesal mengenalnya.
Hanya saja, aku berhenti menjadi jiwa
yang selalu mengerti,
dan tak lagi memaksa hadir di tempat yang tak dihargai.
Mungkin aku tidak perlu penutupan untuk menyembuhkan.
Mungkin aku hanya perlu berhenti bertanya mengapa,
karena tidak semua yang hilang harus disesali,
dan sesuatu yang baru datang tidak perlu ditakuti.




