Oleh:Levina Elysia Felda
Di ufuk barat, mentari perlahan tunduk,
mewarnai langit dengan sisa cahaya yang lembut.
Awan berarak, seakan membawa pesan rahasia,
tentang rindu yang tak sempat terucap oleh waktu.
Kau hadir, seperti senja yang menenangkan,
tak berlebihan, tak pula terburu-buru.
Kehangatanmu menepi di relung dadaku,
menjadi cahaya terakhir sebelum malam datang menjemput.
Alam pun ikut berbicara,
dedaunan berbisik di bawah angin yang lembut,
sungai beriak, menyanyikan harmoni yang sederhana,
dan langit memeluk bumi dalam senyum jingga.
Aku menatap siluetmu di antara cahaya senja,
dan di sana, aku melihat makna hidup.
Bahwa keindahan tak selalu tentang warna,
tapi tentang kehadiran yang diam-diam menenangkan jiwa.
Seperti laut yang setia menunggu ombak,
aku pun belajar dari sabarnya senja.
Bahwa setiap perpisahan adalah janji,
bahwa esok akan lahir kembali cahaya yang baru.
Kini, setiap kali langit memerah di ujung sore,
aku tak lagi mencari siapa pun —
karena di dalam langit senja itu,
kau telah menjadi bagian dari alam,
dan aku… menjadi bagian dari rindumu yang abadi.




