Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Opini

Pedoman menjadi Junior yang Tidak Dungu

Pataka Eja by Pataka Eja
14 Oktober 2025
in Opini
0
Whatsapp Image 2025 10 14 At 18 27

Muh Kautsar Mustakim kader HIPMA Gowa Bontomarannu

Oleh: Muh Kautsar Mustakim (Demisioner Pengurus HIPMA Gowa Koord. Bontomarannu)


Adindaku, para pecinta kopi sachet yang katanya “biar melek revolusi.” Tulisan ini bukan untuk menertawakanmu, tapi untuk sedikit menanggapi dan mengajakmu berpikir sedikit saja tentang bagaimana menjadi junior yang tidak dungu di tengah budaya senioritas yang masih berurat akar di organisasi.

Kita hidup di tahun 2025, tapi anehnya, banyak dinamika organisasi mahasiswa masih terasa seperti zaman kerajaan kecil. Ada “raja-raja” berlabel senior, ada “rakyat jelata” bernama junior, dan ada tradisi-tradisi yang katanya “pembentukan karakter,” padahal sering kali hanya pembiasaan tunduk. Lucu memang, ketika organisasi yang katanya tempat belajar demokrasi malah menciptakan hierarki yang kaku dan membungkam nalar.

Menjadi junior bukanlah aib, tapi juga bukan alasan untuk berhenti berpikir. Senioritas memang bagian dari kultur organisasi, tapi ketika berubah jadi alat pembenaran dominasi, di situlah penyakitnya mulai tumbuh. Karena sejatinya, organisasi mahasiswa, pelajar, pemuda atau apapun bentuknya bukan tempat melatih ketakutan, tapi tempat menumbuhkan kesadaran.

1. Keyakinan: Karena Senior Bukan Nabi, dan Kamu Bukan Murid Abadi

Banyak junior yang begitu masuk organisasi, langsung merasa kecil, takut bersuara, dan sibuk mencari restu senior untuk berpikir. Mereka merasa pendapatnya tak berarti sebelum divalidasi “yang lebih tua.” Padahal, senior juga pernah salah jalan, pernah keliru membaca situasi, bahkan kadang hanya hidup dari nostalgia masa “kejayaan” yang tak pernah selesai.

Keyakinan dan kepercayaan diri adalah pondasi utama agar kamu tidak mudah digiring ke dalam pola pikir feodal. Kamu boleh hormat pada senior, tapi jangan kehilangan logikamu. Dalam bahasa sosiologi, otoritas simbolik sering kali membuat seseorang merasa lebih benar hanya karena lebih lama. Tapi umur dalam organisasi bukan jaminan kedewasaan berpikir.

Maka, berhentilah melihat senior sebagai nabi kecil. Jadikan mereka sumber pengalaman, bukan sumber kebenaran mutlak. Karena dalam organisasi yang sehat, suara muda bukan untuk dibungkam, tapi untuk dihidupkan.

2. Berpikir: Loyalitas Tanpa Logika Itu Bukan Dedikasi, Tapi Penyerahan Diri

Budaya “loyal tanpa tanya” masih jadi penyakit kronis dalam organisasi mahasiswa. Senior bilang “Ayo aksi!”, junior ikut. Senior bilang “Hantam!”, junior mengangguk tanpa sempat berpikir. Padahal, loyalitas yang tidak disertai nalar hanyalah bentuk penyerahan diri.

Organisasi seharusnya menjadi ruang dialektika tempat berpikir, bukan tempat berlutut. Kamu punya akal, hati, dan nurani, maka gunakan itu untuk menimbang setiap arahan. Tidak semua instruksi layak dijalankan, apalagi kalau hanya untuk menjaga ego seseorang yang takut kehilangan pengaruh.

Jangan salah paham, loyalitas itu penting, tapi pada nilai, bukan pada orang. Dalam organisasi, nilai kebenaran, kejujuran, dan kebermanfaatan harus lebih tinggi dari sekadar kepatuhan pada struktur. Sebab, ketika akal berhenti bekerja, organisasi berubah menjadi sekte yang memelihara kepasrahan.

3. Kritis: Karena Bertanya Itu Bukan Dosa, Tapi Tanda Hidup

Kamu tidak akan pernah menjadi kader yang kuat jika tidak punya keberanian untuk bertanya. Banyak senior yang alergi kritik, seolah masukan adalah ancaman bagi wibawanya. Padahal, wibawa yang sehat justru tumbuh dari ruang yang memberi tempat bagi perbedaan pikiran.

Berpikir kritis bukan tentang menentang siapa yang lebih tua, tapi tentang menjaga agar organisasi tetap hidup. Dalam dunia akademik, berpikir kritis adalah jantung dari proses belajar dan organisasi adalah miniatur dari ruang akademik itu sendiri.

Seperti yang pernah dikatakan Chomsky, “Jika kita tidak menantang kekuasaan, kita menjadi bagian dari kebohongan yang diciptakannya.” Maka, diam dalam organisasi yang salah arah bukan bentuk hormat, tapi bentuk kolusi. Senior yang takut dikritik seharusnya belajar lagi tentang arti kepemimpinan, bahwa dihormati bukan berarti tak boleh dikoreksi.

4. Sadar: Antara Belajar dan Berani

Menjadi junior bukan sekadar fase di mana kamu “disuruh dan disetir,” tapi masa penting untuk belajar banyak hal: berpikir jernih, menimbang, dan berani mengambil sikap. Jangan takut salah. Lebih baik salah karena mencoba berpikir, daripada benar karena cuma meniru.

Dalam teori pendidikan kritis, pembelajaran sejati lahir dari kesadaran reflektif. Sebuah kesadaran dimana ketika seseorang mampu melihat realitas dan menilai dirinya di dalam realitas itu. Junior yang reflektif tidak akan mudah disetir, karena dia tahu kapan harus mendengar dan kapan harus menolak.

Maka, janganlah menjadi “junior ideal” yang hanya tahu tunduk, tapi jadilah junior sadar yang tahu bagaimana berpikir. Senior boleh lebih duluan, tapi bukan berarti lebih tinggi derajatnya. Mereka memegang pengalaman, kamu memegang masa depan dan organisasi hanya akan hidup jika dua hal itu bersatu dalam ruang dialog, bukan dominasi.

Pada akhirnya, hubungan antara senior dan junior bukan soal siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin, tapi soal siapa yang mau sama-sama belajar. Senior yang bijak tidak akan menaklukkan junior, tapi menuntunnya tumbuh. Junior yang cerdas tidak akan menolak bimbingan, tapi menolak untuk dibungkam.

Organisasi seharusnya menjadi sekolah kehidupan, menjadi wadah dimana logika dikasah, bukan dipasung; tempat ide tumbuh, bukan dikontrol. Maka, jika kamu seorang junior, berdirilah tegak, berpikirlah jernih, berbicaralah dengan sopan namun tegas dan jangan dungu. Karena perubahan besar selalu dimulai dari keberanian kecil untuk berpikir.

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

2596576651
Opini

Menguak Tabir Penobatan Soeharto sebagai Bapak Pembangunan

9 Juli 2025
38
Screenshot
Opini

Desaku Berdaya : Tak Butuh MBG Menyapa

29 November 2025
111
Whatsapp Image 2026 01 27 At 09 39
Opini

Ilmu Pengetahuan: Dari Alat Pencerahan Menjadi Dogma Baru

28 Januari 2026
128
Whatsapp Image 2026 02 24 At 18 45
Opini

Jika tradisi dan budaya tidak bisa dijelaskan secara nilai dan tujuan, maka ia berhak dipertanyakan kembali

24 Februari 2026
255

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi