Opini Oleh : Syahrul Gunawan
Sejarah peradaban manusia senantiasa dipenuhi dengan perlawanan dan pertentangan kelas. Perjuangan yang dilakukan kalangan bawah (elemen masyarakat) melawan kalangan atas (penguasa dan pemerintah).
Bahkan tanpa terkecuali kemajuan suatu bangsa selalu bermula dari riak pada akar rumput. Dan pada setiap riak tersebut, ada satu golongan yang selalu terlibat aktif dalam prosesnya, yakni gerakan mahasiswa.
Di Indonesia sendiri, tercatat bahwa gerakan mahasiswa menjadi bagian integral perjuangan kelas bawah meruntuhkan rezim-rezim yang menindas di berbagai fase bangsa ini. Dari sebelum kemerdekaan, hingga pasca kemerdekaan; orde lama, orde baru, hingga reformasi.
Motor penggerak dari setiap fase perjalanan bangsa dimobilisasi oleh gerakan mahasiswa yang menyatu bersama kaum buruh, tani dan elemen masyarakat lainnya.
Tak hanya sampai di situ, pasca reformasi juga masih menjadi panggung bagi gerakan mahasiswa menjaga stabilitas negara dengan mengawal setiap kebijakan publik yang hadir.
Doktrin yang terbangun dalam kehidupan kampus masih terus ditanamkan mengenai 4 fungsi mahasiswa; agent of change, social of control, moral force, dan iron stock.
Namun, perlahan tampaknya romantisme sejarah gerakan mahasiswa dewasa kini tinggal menjadi bumbu pemanis dalam doktrin perjuangan di kalangan mahasiswa.
Hal ini tak luput dari kenyataan bahwa beberapa pentolan aktivis mahasiswa khususnya saat reformasi, kini menjadi bagian dari rezim yang berkuasa sekarang. Walaupun apa yang terjadi demikian seharusnya bukan salah satu alasan bagaimana gerakan mahasiswa sekarang telah termakan oleh waktu.
Intensitas dan antusiasme mahasiswa sekarang dalam menjalankan fungsinya terlihat memudar. Dilihat dari gerakan-gerakan yang dibangun sangat mudah dikendalikan dan dibaca oleh birokrasi kampus atau pemerintah yang berkuasa.
Mahasiswa kini, tak banyak mengumpulkan data dan melakukan riset yang mendalam terkait sebuah isu yang akan diangkat. Hingga pada akhirnya, gerakan yang dibangun hanya bersifat memanfaatkan momentum dan hanya merawat citra positif sebagai aktivis abal-abal atau sekadar menjadi penggugur tanggungjawab sebagai fungsionaris lembaga kemahasiswaan.
Sehingga gerakan yang diakomodir tak mengubah atau menyelesaikan permasalahan yang ada. Bahkan terkesan menjadi nilai tukar atas apa yang dituntut dengan kehendak pribadi semata. Teriakan dan riak mahasiswa yang dahulu lantang kini terdengar ciut di mimbar jalanan.
Apalagi jika menyangkut permasalahan internal kampusnya. Seakan-akan suara-suara yang seharusnya menjadi simbol perlawanan malah bersembunyi di balik ketek kekuasaan.
Ibaratnya birokrasi telah berhasil memasang peredam suara di setiap sudut-sudut kampus. Ruang-ruang ilmiah tempat berdialektika mahasiswa ditutup rapat dengan berbagai hal yang mengalihkan fokus mahasiswa.
Hal yang dimaksud semisal tawaran untuk perbaikan nilai, tawaran beasiswa atau yang lainnya bersifat undertable transaction. Tentunya siapa yang tidak tergiur dengan nilai tukar yang ditawarkan tersebut.
Apa yang dijelaskan di atas masihlah sebuah asumsi semata penulis. Asumsi yang berangkat dari realitas pergerakan mahasiswa dewasa ini.
Bagaimana mentalitas mahasiswa sangat mudah luntur dibalik tawaran-tawaran yang menggiurkan hingga menjual idealisme demi kepentingan pribadi dan keuntungan kelompoknya. Miris jika hal tersebut benar-benar telah menggerogoti gerakan mahasiswa dewasa ini.
Gerakan mahasiswa harus kembali ke akarnya, tapi bukan terjebak pada romantisme masa lalunya. Idealisme mahasiswa harus betul-betul menjadi barang mewah yang dimilikinya.
Ia tak ternilai dan tak bisa ditukar dengan apapun. Semua harus bergerak atas nama kemaslahatan umat dan menjadi mitra kritis birokrasi kampus dan pemerintah.
Apalagi di tengah peliknya kondisi negara dan semakin memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, mahasiswa harus hadir sebagai pendobrak kemapanan itu. Garda terdepan mengawasi jika kebijakan publik tidak berpihak pada rakyat. Menginisiasi sebuah riak yang menggetarkan singgasana bukan tenggelam di dalamnya.




