Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Puisi

Kenang-Kenanglah Kenang

Renaldy Pratama by Renaldy Pratama
6 September 2025
in Puisi
0
Whatsapp Image 2025 03 25 At 20 55 02 E1742907352107

Oleh: Ditootid

Entah apa yang terjadi
Akupun tak tahu
Semuanya begitu cepat berlalu
Berawal kisah
Berjalan kasih
Bergandeng nurani
Dan, ternyata berakhir belati

Pagi hari dan tanpa kompromi
Kau hunuskan belati dalam relung hati
Kau hancurkan mimpi yang terbangun dan terawat sekian ribu hari
Kau bunuh segala pucuk pengharapan dengan pamrih
Setelah itu, pongah melangkah pergi

Kata Sapardi,
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni
Tapi karena krisis iklim yang melanda dunia saat ini
Hujan bulan Juni sungkan datang menghampiri
Lantas, apakah akan tetap tabah, bijak, dan arif bulan Juni?

Seorang pria dekil berambut gimbal berkata,
“Tak ada seorangpun selain diri kita yang mampu membebaskan pikiran kita”
Seorang pria kelahiran Austria dengan revolusioner mengungkapkan Teleologi
Sebuah konsep yang coba menginterupsi Freud dan Aetiologi
Ahh, mungkin mereka hanyalah seorang pembual
Sebab, jika hadirmu adalah kebahagiaan
Maka, kepergianmu adalah kegetiran tak berkesudahan

Kini, kemanapun kaki melangkah pergi
Bayangmu menjelma hantu yang terus saja menghantui

Pada embun pagi di halaman rumah,
masih terlukis jelas manis senyummu
Pada bisingnya suara kucing yang kawin di malam suntuk,
masih terngiang jelas tawa pemecah suasanamu
Pada hisapan pertama sebatang kretek,
masih terasa jelas hangat dan tenang berada dalam dekapanmu
Pada kepulan asap tak beraturan sebatang kretek,
masih terekam jelas lincah gerak anggota tubuhmu
Pada secangkir kopi sasetan yang baru saja kuseduh,
masih tercium jelas semerbak aroma tubuhmu

Pada semesta kita ciptakan cerita
Dan, kini atas nama sejarah akan kucoba mengarah

Ternyata memang kau sudah pergi
Pada sunyi, sepi, sendiri, menantang pagi
Baik buruknya, kenang-kenanglah kenang

Dalam Bilik, Juni 2023

ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Img 345678
Puisi

BERDERAI TAKLUK SANG PEJUANG

10 Juli 2024
87
Img 20250919 Wa0156
Puisi

Dari Aku untuk Aku

11 November 2025
84
Whatsapp Image 2025 12 03 At 07 52
Puisi

Perlahan, Aku Mengerti

3 Desember 2025
61
Whatsapp Image 2025 12 01 At 15 06 20
Puisi

Hati yang Bicara

4 Desember 2025
20

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi