Pataka Eja
No Result
View All Result
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
Pataka Eja
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel
No Result
View All Result
  • Login
Pataka Eja
No Result
View All Result
Home Esai

Kembali Ke Awal : Menemukan  Pondasi Ekonomi Modern Melalui Prespektif Aristoteles

Pataka Eja by Pataka Eja
2 September 2025
in Esai
0
Img 20250902

Oleh : Muhammad Uzair Al Furqan

Melalui sejarah, manusia telah memunculkan banyak buah fikiran dalam berbagai pembahasan mulai dari politik, sosial, teologi, dan tak terlepas juga ekonomi. Segala buah fikir yang di hasilkan tak terlepas dari dan untuk umat manusia.

Ekonomi sebagai suatu ilmu sosial yang banyak mempejari perilaku manusia dalam mengelola sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan hidup juga telah banyak melewati beberapa fase pemikiran, dimulai dari era kuno hingga sampai pada era modern.

Melacak landasan dari apa yang menjadi acuan teori ekonomi modern maka perlu untuk kembali di era Yunani kuno. Pada era Yunani, independensi ilmu ekonomi sebagai suatu ilmu sosial belum ada dan masih terintegrasi dalam ilmu sosial secara umum. Namun, telah banyak tokoh tokoh berpengaruh yang memberikan buah fikirannya terhadap pembahasan ekonomi seperti Hesiod (830 SM -750 SM), Xenophon (430 SM – 354 SM), Plato (427 SM – 347 SM), dan Aristoteles (384 SM – 322 SM).

Pembahasan kali ini akan berfokus pada pemikiran ekonomi Aristoteles.

Untuk awalan kita perlu melihat teori nilai yang banyak dimaknai berbeda oleh para teoritikus dari berbagai era. Aristoteles menurut para teoritikus menunjukkan bahwa dia yang pertama kali merumuskan tentang teori nilai kendati hal tersebut disampaikan secara Implisit.

Mengapa teori nilai menjadi penting untuk membahas pondasi ekonomi  karena teori nilai adalah ontologi ekonomi.

Untuk awalan kita perlu melihat teori nilai yang banyak dimaknai berbeda oleh para teoritikus dari berbagai era, Aristoteles menurut para teoritikus menunjukkan bahwa dia yang pertama kali merumuskan tentang teori nilai kendati hal tersebut disampaikan secara Implisit.
Mengapa teori nilai menjadi penting untuk membahas pondasi ekonomi  karena teori nilai adalah ontologi ekonomi.

Untuk memahami tentang teori nilai Aristoteles sebagai awalan ada 3 jenis keadilan yang di kemukakan Aristoteles. Pertama, keadilan distributif berkenaan dengan pembagian pendapatan yang proporsional. Kedua keadilan rektifikatoris mengenai perkara pengadilan dan yang ketiga keadilan resiprokal, yakni bersinggungan dengan individu-indvidu dalam melakukan transaksi. Jenis keadilan ketiga ini yang akan menjadi pokok persoalan bagaiman nilai muncul.

Dalam sebuah transaksi komersil antara individu perlu untuk menentukan keseukuran antara kedua barang yang di pertukarkan. untuk pertama Aristoteles menyatakan bahwa uang sebagai pengukur segala sesuatu, namun kurang puas dengan jawaban tersebut dia menyatakan bahwa kebutuhanlah  yang menjadi ukurannya.

Akan tetapi, pada saat yang sama dia juga menyatakan jumlah barang yang di pertukarkan mesti berkorespondensi dengan rasio kerja antara produsennya. Walaupun Aristoteles belum secara pasti memberikan jawaban atas persoalan tersebut namun telah memberikan abstraksi mengenai ukuran yang menjadi basis atas pertukaran adil antara benda.

Hal berbeda dapat di ukur dan diperbandingkan sejauh hal tersebut memiliki kesaamaan tertentu. Lewat keidentikan itulah memaluinya hal tersebut diukur. Ukuran mengekspresikan sesuatu yang identik di antara hal-hal berbeda yang diukurnya. Dengan demikian, satuan ukuran terkecil disebut Aristoteles sebagai hal yang melandasi. Karna hal tersebut teori tentang keseukuran yang di kemukakan oleh Aristoteles pada dasarnya teori tentang substansi sebagai substratum.

Pandangan Aristoteles tentang hakikat ekonomi dia memilah antara ilmu pengelolaan rumah tangga (ekonomi) dan ilmu pencari kekayaan (khrematistik). Menurut Aristoteles, ilmu pengelolaan rumah tangga bertujuan untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup dan hal tersebut menjadi batasan ketika telah tercapai, dianggap sebagi kekayaan yang sesungguhnya. Maka, Aristoteles menganggap ekonomi sebagai hal yang alamiah/kodrati, sedangkan khresmatistik pencarian kekayaan melalui penimbunan uang/harta dan karna hal tersebut tak memiliki batasan.

Jika ekonomi dianggap sebagai pemenuhan kebutuhan melalui konsumsi maka khresmatistik adalah akumulasi kekayaan melalui uang, dan di anggap sebagai hal yang tak alamiah.

lingkungan (AMDAl) ataupun aturan keselamat kerja dan lainnya. Kempat keyakinan terhadap privatisasi artinya serahkan segala hal keswasta, bentuk nyata dari privatisasi ini di bidang perbankan, industri strategis (air,listrik,dll), rumah sakit, Pendidikan dan sebagainya.

Segala hal ini bermuara pada akumulasi kapital demi menumpuk kekayaan dan berimplikasi adanya konsentrasi kekayaan terhadap sedikit orang. Seperti yang sudah saya paparkan sebelumnya khresmatik yang telah Aristoteles katakan menjadi pedoman dan permasalahan pokok dalam sitem kapitalisme dan menciptakan kemiskinan bagi yang lain.

Kemiskinan dan ketimpangan yang terjadi akibat dari sistem kapitalisme menjadi permasalahan pokok dikarenakan logika sistem yang di gunakan. Perlu diketahui bersama di Indonesia secara khusus yang turut menganut sistem neoliberalisme dalam berbagai kebijakannya menunjukkan ketimpangan ekonomi yang nyata menurut global wealth report 2018 menyebut dari total 273 penduduk, 1% orang terkaya menguasai 46,6% kekayaan nasional dan 99% lainnya hanya menguasai 53,4% kekayaaan nasional.

Hal ini menjadi bukti akumulasi kapital untuk menumpuk kekayaan sebagai logika dari sistem kapitalisme atau yang di sebut Aristoteles sebagai khresmatistik menimbulkan permasalahan ketimpangan yang nyata.

Maka menurut hemat saya, kita perlu kembali ke aras pemikiran primordial ekonomi dari apa yang di sebut Aristoteles sebagai oikonomike atau ilmu pengaturan rumah tangga.

Mengapa? karna tujuan darinya hanya sebatas pencarian sarana pemenuhan kebutuhan yang sudah barang pasti di butuhkan sebagai makhluk biologis dan di anggap sebagai kekayaan sesungguhnya, karna apabila khresmatistik yang mencoba untuk mengakumulasi modal demi menumpuk kekayaan seperti bagaimana sistem kapitalisme bekerja hanya akan berdampak pada terciptanya problem sosial yang kompleks, mulai dari kemiskinan dan ketimpanga belum lagi berbicara tentang pengrusakan lingkungan dan lain sebagainya.

Jadi sebagai penutup kita perlu merefleksi kembali makna tentang ekonomi yang hari ini telah mengalami pergeseran dan malah berimplikasi buruk terhadap kehidupan manusia secara global.

Daftar Pustaka

  • Suryajaya, M. (2013). Asal-Usul Kekayaan; Sejarah Teori Nilai Dalam Ilmu Ekonomi Dari Aristoteles Sampai Amaratya Sen. Resist Book.
  • Mikhael, D. (2008). Filsafat Ekonomi. Kansius.
  • Fakih, M. (2001). Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. INSISTPees.
  • Fakih, M. (2003). Bebas Dari Neoliberalisme. INSISTPees.
ShareTweetShareSendSend

Artikel Lainnya

Whatsapp Image 2025 10 17 At 22 52
Esai

Daeng Mangalle Sang Diplomasi Politik dari  Bangsawan Gowa di Negeri Siam Abad XVII

20 Oktober 2025
163
Whatsapp Image 2024 08 06 At 09 41 35 9ca74572 Scaled
Esai

Citra Konsumerisme Masyarakat Populer dalam Arus Hegemoni Kultural

23 September 2024
93
1
Esai

Sekapur Sirih Corak Produksi Kapitalistik

16 Oktober 2024
60
Whatsapp Image 2025 01 13 At 21 22
Esai

Menjawab Pertanyaan tentang Orientasi Seksual: Given atau Konstruksi Sosial?

13 Januari 2025
179

Rubrik

Esai Liputan Khusus Opini Prosa Puisi Resensi Uncategorized Warta
Pataka Eja

© Dari Narasi Menuju Aksi

Lebih lanjut

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Kirim Artikel

Ikuti kami

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
  • Login
  • Beranda
  • Cakrawala
    • Opini
    • Esai
    • Resensi
  • Sastra
    • Puisi
    • Prosa
  • Liputan
    • Warta
    • Liputan Khusus
  • Kirim Artikel

© Dari Narasi Menuju Aksi