Oleh: Isyal Aprisal
Delapan puluh tahun Indonesia berdiri,
merah putih berkibar di bumi pertiwi,
namun di balik gegap gempita hari jadi,
masih ada rakyat menangis sunyi.
Sawah-sawah tak lagi subur,
hutan digunduli tambang rakus,
laut dijarah, tanah diukur,
sementara rakyat kecil hidup terbebani utang dan pajak yang mencekik lurus.
Di gedung megah, janji terucap manis,
tapi di jalanan, rakyat menjerit pedih,
keadilan seolah jadi mimpi yang tipis,
hukum tajam ke bawah, tumpul ke penguasa yang rakus dan tamak rakit.
Bung Karno telah berpesan:
“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah,
perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Hari ini, kata itu terasa hidup kembali.
Indonesia,
delapan puluh tahun bukan usia muda,
tapi cukup matang untuk jujur pada luka.
Merdeka bukan hanya bebas dari asing di masa lalu,
tapi merdeka dari tirani dan penindasan bangsamu sendiri sekarang itu.
Merah putih,
bukan sekadar kain di tiang tinggi,
tapi darah pejuang dan janji suci,
agar rakyat tak lagi menangis di negeri sendiri.
Indonesia,
engkau tak boleh berpihak pada kuasa semata,
karena sejatinya negara ada untuk rakyatnya.
Merdeka harus berarti:
perut rakyat kenyang,
bumi terjaga,
keadilan tegak,
dan harapan tetap menyala.
Selamat delapan puluh tahun, Indonesiaku—
bangkitlah, tegakkan kembali arti merdeka
yang sesungguhnya!




