Bontomarannu, 14 Agustus 2025 – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, suara kritis datang dari generasi muda Kecamatan Bontomarannu. Aldi Tri Putra, Sekretaris Umum HIPMA Gowa Koordinatorat Bontomarannu, mengungkapkan keprihatinannya atas terbatasnya ruang kolaborasi bagi organisasi kepemudaan di Kecamatan Bontomarannu.
Menurut Aldi, hingga kini belum ada ruang yang terbuka dan inklusif bagi seluruh elemen pemuda. Jika pun ada fasilitas, ia menilai penggunaannya kerap hanya menguntungkan pihak-pihak yang memiliki kedekatan personal dengan pemerintah kecamatan.
“Kemerdekaan itu bukan sekadar upacara dan lomba. Esensinya adalah memberi kesempatan setara bagi semua pemuda untuk berkontribusi. Di Bontomarannu, ruang itu belum merata. Yang dekat mendapat tempat, yang jauh hanya jadi penonton,” tegasnya.
Aldi membedakan antara kemerdekaan seremonial dan kemerdekaan fungsional. Menurutnya, kemerdekaan seremonial hanya berfokus pada perayaan dan formalitas, sementara kemerdekaan fungsional adalah kondisi di mana pemuda bebas mengembangkan ide, memanfaatkan fasilitas publik, serta berkolaborasi lintas organisasi tanpa batasan kedekatan politik maupun personal
“Kalau ingin Bontomarannu benar-benar merdeka, pemerintah kecamatan harus menjadi penghubung, bukan penyaring. Pemuda perlu diberi ruang, bukan disaring berdasarkan kedekatan dengan kursi kekuasaan,” tambah Aldi.
Menjelang 17 Agustus, Aldi menyerukan agar semua pihak membuka mata dan hati, khususnya pemerintah kecamatan, untuk segera menghadirkan wadah resmi pertukaran ide dan kolaborasi. Harapannya, seluruh organisasi pemuda bisa bersinergi menciptakan terobosan nyata yang membawa dampak langsung bagi masyarakat.
“Kemerdekaan tahun ini harus menjadi titik balik. Jangan sampai kita merdeka di panggung, tapi terbelenggu di lapangan,” pungkasnya.




